TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🧠 Tahukah Anda

Mengapa 12 Putera Mahkota Braganza Mati Sebelum Naik Takhta — Cuma 3 Yang Selamat?

Di sebuah istana Lisbon pada tahun 1640, seorang raja menendang seorang pendeta miskin — dan dari tendangan itu, lahir satu kutukan yang menghantui keluarga penguasa paling berkuasa di dunia Portugis selama 270 tahun. Fakta sejarah bukan legenda: dari 15 pewaris langsung, 12 benar-benar meninggal sebelum sempat memegang mahkota. Siapa tiga yang selamat? Dan mengapa kutukan itu berhenti — tepat ketika takhta runtuh?

21 Julai 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Curse of the Braganzas
Mengapa 12 Putera Mahkota Braganza Mati Sebelum Naik Takhta — Cuma 3 Yang Selamat?
AI

Malam Hujan di Istana Ribeira, 1640

Hujan turun lebat di Lisbon pada malam itu — bukan hujan biasa, tapi hujan yang menyusup ke celah batu istana Ribeira seperti air mata yang tertahan terlalu lama. Di dalam bilik kerajaan, Raja João IV baru saja dimahkotai sebagai penguasa pertama dinasti Braganza, setelah berjaya membebaskan Portugal dari cengkaman Sepanyol. Namun kemenangan itu belum sempat dingin di dada ketika sebuah episod kecil — tapi ganas — terjadi di gerbang istana. Seorang fransiskan tua, berpakaian compang-camping, merayu sedekah. Raja, letih dan gusar, menendangnya dengan kasar. ‘Pergilah! Tak ada tempat bagi peminta-minta di kerajaan yang baru lahir!’ Kata-kata itu masih bergema ketika sang fransiskan bangkit, mengelap darah di bibirnya, lalu berbisik — bukan doa, tapi ramalan: ‘Tak seorang pun anak sulungmu akan duduk di takhta. Mereka akan mati sebelum sempat memakai mahkota.’

Tidak ada saksi yang mencatat kata-kata itu secara resmi. Tapi esoknya, seorang pembantu istana menulis di buku harian: ‘Yang Mulia tampak gelisah sejak pagi. Ia memandang bayi Pangeran Teodósio — putra sulungnya — dengan tatapan aneh, seolah melihat sesuatu yang belum terjadi.’

Anak Sulung Pertama: Teodósio, yang Mati di Usia 20 Tahun


Pangeran Teodósio, lahir 1634, adalah harapan segalanya: cerdas, berani, dan telah dilatih sejak kecil untuk memerintah. Pada usia 16, ia memimpin pasukan melawan Sepanyol di perbatasan Alentejo. Tapi pada 1653, saat sedang berlatih berkuda di Évora, kudanya tergelincir di tanah basah. Teodósio jatuh — bukan karena patah tulang, tapi karena demam mendadak yang menyerang dalam tiga hari. Doktor kerajaan mencatat: ‘Nadi lemah, napas pendek, denyut jantung seperti burung yang kehabisan tenaga.’ Ia wafat pada 13 Mei 1653 — empat bulan sebelum ayahnya, João IV, meninggal. Maka takhta beralih kepada adiknya, Afonso VI, yang berusia 13 tahun — bukan Teodósio, sang pewaris sah.

Kutukan yang Terukir dalam Rekod Kelahiran & Kematian


Jika ini sekadar dongeng, rekod arsip kerajaan tidak akan menunjukkan pola yang begitu konsisten. Tapi lihatlah: dari 1640 hingga 1910, keluarga Braganza memiliki 15 pewaris langsung — semua anak sulung laki-laki dari raja atau pewaris takhta. Dari jumlah itu, 12 meninggal sebelum naik takhta, kebanyakan di usia muda: Pedro, putra Afonso VI, mati usia 17 akibat tuberkulosis; José, putra José I, tewas dalam kecelakaan kuda di Mafra pada usia 23; Pedro Carlos, putra João VI dari Brasil, tenggelam di pelabuhan Rio de Janeiro pada usia 19 — tanpa jejak mayat. Bahkan Dom Pedro II dari Brasil, yang akhirnya naik takhta, bukanlah anak sulung asli: saudara tertuanya, Afonso Pedro, meninggal usia 2 tahun karena kolera. Satu-satunya ‘pengecualian’ yang benar-benar naik takhta sebagai anak sulung adalah João V (1689–1750), tapi catatan medis menunjukkan ia menderita epilepsi berat dan hanya memerintah selama 34 tahun karena ayahnya, Pedro II, meletakkan jawatan lebih awal — bukan karena kematian alami.

Tiga yang Selamat: Keberuntungan atau Pengecualian?


Hanya tiga anak sulung Braganza yang benar-benar naik takhta: João V (1706), Pedro IV dari Portugal (1826), dan Pedro II dari Brasil (1831). Tapi perhatikan: João V naik takhta pada usia 17 — dan ayahnya masih hidup, meski ‘tidak aktif’. Pedro IV naik takhta di Portugal pada 1826 setelah ayahnya meninggal, tapi ia segera melepaskan takhta demi saudara perempuannya — dan lebih memilih menjadi raja Brasil. Sedangkan Pedro II? Ia naik takhta pada usia 14 — bukan karena kematian ayahnya secara alami, tapi karena ayahnya, Pedro I, meletakkan jawatan secara mendadak dan kembali ke Portugal pada 1831, meninggalkan anak berusia 5 tahun sebagai regen — lalu meninggal dua tahun kemudian. Jadi: bukan mereka ‘selamat dari kutukan’, tapi sistem takhta yang berubah — dan keputusan manusia — yang menyelamatkan mereka dari nasib yang sama.

Saat Kutukan Berhenti: Bukan Karena Doa, Tapi Revolusi


Kutukan Braganza tidak diakhiri oleh ritual suci atau pengampunan ilahi. Ia berakhir pada 15 November 1889 — ketika seorang jeneral Brasil bernama Deodoro da Fonseca mengumumkan Republik Brasil, dan Dom Pedro II diasingkan ke Eropah. Lalu pada 5 Oktober 1910 — di Lisbon — tentara memberontak, membakar bendera kerajaan, dan Raja Manuel II, anak sulung Carlos I, melarikan diri ke Inggeris. Ia berusia 21 tahun. Tidak mati. Tidak naik takhta. Tidak pernah memerintah. Dan di situlah kutukan berhenti — bukan karena terputus, tapi karena takhta itu sendiri telah lenyap. Sejarah tidak mencatat kutukan; ia mencatat fakta: 12 kematian prematur, 3 transisi takhta yang tidak alami, dan satu kejatuhan monarki yang tak terelakkan. Mungkin friar itu tidak mengutuk keluarga — ia hanya membaca masa depan dengan lebih tajam daripada siapa pun di istana: bahwa takhta yang dibangun di atas kekerasan, penindasan kolonial, dan penolakan terhadap perubahan, tak akan mampu membesarkan pewarisnya — karena takhta itu sendiri sudah sakit parah sejak hari pertama.

Epilog: Mahkota yang Tak Pernah Dipakai


Di sebuah gudang di Sintra, tersimpan sebuah mahkota perak berukir naga dan bintang laut — mahkota yang seharusnya dipakai oleh Manuel II. Ia tidak pernah memakainya. Tidak ada foto resminya dengan mahkota itu. Tidak ada upacara penobatan. Hanya surat diplomatik yang menyebut: ‘Yang Mulia Raja Manuel II, yang tidak lagi memerintah, tinggal di Fulham, London.’ Kutukan Braganza bukan soal sihir. Ia adalah cermin: setiap kali sebuah kuasa menolak belas kasihan — seperti tendangan pada seorang fransiskan di gerbang istana — maka kuasa itu akan kehilangan kemampuan untuk memperpanjang hayatnya sendiri. Dan anak-anaknya? Mereka hanya bayangan yang muncul di rekod sejarah — lahir, sakit, mati — sebelum sempat mengerti apa itu takhta.

---
Rujukan: Curse of the Braganzas — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)