ÚLTIMA HORA
🌍 Cobertura global 24/7 • 🏯 Asia Oriental: China, Japón, Corea • 🛕 Sur de Asia: India • 🏰 Europa • 🗽 Américas • 🌍 África • 🕌 Medio Oriente • 🇵🇸 Solidaridad Palestina •
Generando traducción...
🧠 ¿Sabías que?

Mengapa Pejuang Melayu Abad ke-19 Masih Pakai Keris Tapi Kalahkan Senapang Kolonial?

Antara tahun 1511 hingga 1908, dari Pattani hingga Pontianak, dari Johor hingga Brunei — perang bukan sekadar pertempuran senjata, tapi pertarungan taktik, simbol, dan jiwa. Bagaimana sistem perang Melayu yang kelihatan 'tradisional' mampu bertahan lebih dari tiga abad melawan imperialis Eropah dan Siam? Dan mengapa kekalahan terakhir bukan di medan, tapi di dalam rekod sejarah yang dibungkus rapi?

17 Julai 20264 min de lectura0 vistasPor Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Warfare in post-Malacca Malay World
Mengapa Pejuang Melayu Abad ke-19 Masih Pakai Keris Tapi Kalahkan Senapang Kolonial?
AI

Mengapa 'Perang Melayu' Bukan Sekadar Perang Antara Kerajaan?

Banyak orang salah faham: ‘perang Melayu’ selepas kejatuhan Melaka pada 1511 bukan siri konflik antara kerajaan besar seperti Johor vs Aceh atau Brunei vs Sulu. Ia adalah sistem perang berlapis — gabungan peperangan antara negeri, pemberontakan rakyat, serangan gerila di sungai, penyerbuan kapal laut, dan bahkan perang suci (jihad) yang dinyatakan secara eksplisit dalam surat-surat sultan dan fatwa ulama. Di Pattani, misalnya, perlawanan terhadap Siam bukan bermula pada 1902 — tapi sejak 1786, dengan strategi ‘tanah hangus’ di hutan bakau dan penggunaan ‘kampung tersembunyi’ di muara Sungai Pattani. Di Kalimantan Barat, pasukan Datuk Patinggi Abdul Gafur (1830-an) menggunakan jaringan kampung Dayak-Melayu untuk menyekat logistik Belanda — bukan dengan meriam, tapi dengan memutus jalan air dan menyebar berita palsu tentang wabah di barisan depan kolonial.

Apa Yang Membuat Taktik Melayu Berbeza Daripada Strategi Eropah?

Taktik Melayu tidak berpusat pada ‘pertempuran keputusan’ (decisive battle), seperti yang digemari oleh tentara Portugis atau Belanda. Sebaliknya, ia berdasarkan prinsip ‘mengalir seperti air, menghilang seperti kabut’. Armada Melayu — seperti kapal lancang dan kolek — bukan direka untuk berhadapan langsung dengan galleon Eropah, tetapi untuk mengintai, memotong laluan bekalan, dan menghilang ke dalam delta. Di Sumatra Timur, pasukan Sultan Siak pada 1858 menghancurkan dua kapal Belanda bukan dengan tembakan meriam, tetapi dengan ‘kapal api’ — kolek berisi minyak kelapa dan jerami kering yang dihanyutkan pada waktu pasang dan dinyalakan ketika dekat. Ini bukan kebetulan: ia adalah taktik warisan dari zaman Melaka, yang direkod dalam Hikayat Hang Tuah sebagai ‘serangan tanpa bunyi’. Dokumen Belanda di Arsip Nasional Belanda (NA) mencatat: “Mereka tidak pernah menunggu di satu tempat lebih dari dua malam. Bahkan burung-burung mereka kelihatan tahu arah angin sebelum kita.”

Mengapa Keris Masih Digunakan Walaupun Senapang Sudah Ada?

Keris bukan sekadar senjata — ia adalah alat legitimasi, medium komunikasi, dan instrumen psikologis. Dalam banyak pemberontakan, seperti pemberontakan Tok Janggut di Kelantan (1915), keris dipakai bukan untuk membunuh tentara British, tetapi untuk menyentuh bumi semasa ikrar jihad, sebagai simbol pemulihan maruah kerajaan yang telah dikoyak oleh Perjanjian Bangkok (1909). Catatan pegawai British, W.A. Graham, menulis: “Saya lihat seorang lelaki berumur 70 tahun mengepalkan kerisnya sambil menangis — bukan karena takut, tapi karena ia adalah satu-satunya benda yang masih ‘mendengar nama Sultan’.” Di Brunei, keris diberikan kepada panglima bukan sebagai senjata tempur, tetapi sebagai ‘surat kuasa tanpa tulisan’ — cukup dengan memperlihatkannya di hadapan kepala kampung, maka pengikut akan berkumpul dalam 24 jam.

Siapa Sebenarnya Haji Abdul Rahman Limbong — Dan Mengapa Kekalahannya Menandakan Akhir Satu Zaman?

Haji Abdul Rahman Limbong bukan sekadar ‘pemberontak’ di Terengganu. Ia seorang ulama, guru tasawuf, dan ahli strategi yang menggabungkan ilmu ilmu laduni, taktik guerilla Sungai Dungun, dan diplomasi rahsia dengan Sultan Kelantan serta tokoh Patani. Pasukannya tidak memiliki satu pun senapang modern — hanya bedil lama, tombak besi, dan panah racun dari getah ipoh. Namun, dari 1905 hingga 1908, mereka menguasai tiga daerah: Hulu Dungun, Ajil, dan Bukit Besi. Kekalahannya bukan disebabkan kekurangan senjata, tetapi pengkhianatan sistem rekod: British menghapus semua dokumen yang menyebut namanya dari arsip distrik, menggantinya dengan gelaran ‘penjahat bersenjata’. Ia ditangkap bukan di medan perang, tetapi ketika sedang membaca Al-Risalah al-Qushayriyyah di sebuah surau — dan dihukum mati tanpa mahkamah. Kematian beliau pada 1908 bukan akhir perang, tetapi akhir kebolehan sistem perang Melayu untuk berkomunikasi secara rasmi dalam bahasa kuasa kolonial.

Apa Warisan Sebenar ‘Perang Melayu’ Hari Ini?

Warisan ini bukan di museum — ia hidup dalam cara orang Melayu menulis sejarah, menamakan tempat, dan bahkan berdebat politik. Nama-nama seperti Pantai Keramat, Bukit Jihad, atau Sungai Patah bukan legenda: ia adalah tanda lokasi pertempuran yang direkod dalam puisi syair dan gurindam, bukan dalam laporan kolonial. Di Johor Bahru hari ini, anak-anak masih bermain ‘perang Sultan Abu Bakar’ — bukan rekaan, tetapi dramatisasi dari peristiwa nyata tahun 1895 ketika pasukan istana menghalang masuknya kapal British ke Teluk Belanga tanpa melepaskan satu peluru pun. Itulah inti perang Melayu: bukan tentang siapa menang, tapi siapa masih berhak bercerita — dan dalam bahasa apa cerita itu didengar.

---
Rujukan: Warfare in post-Malacca Malay World — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)