TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🧠 Tahukah Anda

Bust Ini Dipahat di Mesir — Tapi Ditemui di Byblos... dan Ada Dua Nama Raja yang Tak Pernah Bertemu

Sebuah patung batu kuarsit berusia 3,000 tahun ditemui di kuil kuno Byblos — jauh dari tanah kelahirannya di Mesir. Ia memuat dua tulisan: satu nama firaun Osorkon I, satu lagi penghormatan kepada raja Phoenicia Elibaal. Tiada rekod sejarah menyatakan mereka saling kenal — apakah ini bukti diplomasi rahsia abad ke-10 SM? Atau sebuah kebetulan yang terlalu sempurna untuk dipercayai?

19 Julai 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Osorkon Bust
Bust Ini Dipahat di Mesir — Tapi Ditemui di Byblos... dan Ada Dua Nama Raja yang Tak Pernah Bertemu
AI

Di Antara Pasir dan Lautan: Ketika Sebuah Patung Melintasi Laut Tengah

Bayangkan: sebuah wajah batu — tegas, tenang, bermata memandang ke masa depan — diukir dengan presisi Mesir kuno di tepi Nil. Namun bukan di Karnak atau Tanis ia ditemui, melainkan di sebuah kuil kuno di Byblos, kota pelabuhan purba di tepi Laut Tengah, kini Lebanon. Di sana, di antara reruntuhan kuil Baalat Gebal — dewi ibu Phoenicia yang disembah sejak zaman perunggu — para pekerja arkeologi pada 1881 menggali sesuatu yang membuat pena penulis Prancis René Dussaud berhenti menulis sejenak: sebuah bust berukuran 60 × 36 × 37.5 cm, terbuat dari kuarsit merah keunguan, keras seperti janji zaman, dingin seperti rahsia yang tertutup rapat selama tiga milenium.

Bust ini bukan sekadar artefak. Ia adalah sebuah dokumen tiga dimensi — bukan dalam bentuk gulungan papirus, tetapi dalam bentuk wajah yang diam, namun penuh suara sejarah. Wajah itu adalah Osorkon I, firaun kedua Dinasti ke-22, penguasa Thebes dan Tanis yang naik takhta sekitar tahun 922 SM. Namun di leher dan dada patung itu, di atas permukaan yang sama, tertulis barisan huruf Phoenicia — bukan sebagai terjemahan, bukan sebagai catatan tambahan, tetapi sebagai dedikasi terpisah, ditujukan kepada ‘Elibaal, raja Byblos’. Dua nama. Dua takhta. Dua dunia yang, menurut semua sumber tertulis yang kita miliki, tidak pernah saling menyebut.

Dua Tinta, Satu Batu: Bahasa yang Bersebelahan tapi Tak Bersentuhan


Yang paling menggugah bukan hanya kehadiran dua bahasa — hieroglif Mesir dan aksara Phoenicia — tetapi ketidakberkaitannya. Tulisan Mesir hanya menyebut prenomen Osorkon: Aakheperre Setepenamun, ‘He whose manifestations are great, chosen of Amun’. Ia adalah nama resmi, sakral, dikaitkan langsung dengan dewa Amun-Ra. Sementara inskripsi Phoenicia — singkat, praktikal, penuh nuansa politik — berbunyi: ‘Untuk Elibaal, raja Byblos, putera Baal’.

Tidak ada kata ‘diberikan oleh’, tidak ada ‘dari firaun Mesir kepada raja Byblos’, tidak ada frasa diplomatik yang lazim dalam surat-surat Amarna abad sebelumnya. Keduanya berdiri berdampingan, seolah-olah diukir pada waktu berbeza, di tempat berbeza — namun pada batu yang sama. Arkeolog kontemporari seperti Dr. Hélène Sader (American University of Beirut) mencadangkan kemungkinan: bust ini mula-mula dibawa ke Byblos sebagai hadiah atau simbol pengakuan Mesir terhadap kekuasaan Byblos sebagai pusat perdagangan kayu cedar dan garam. Namun ketika Elibaal naik takhta, patung itu — mungkin sudah usang atau tidak lagi relevan secara ritual di Mesir — lalu ‘diadopsi’, diukir semula dengan nama baru, tanpa menghapus nama lama. Sebuah tindakan yang bukan penghinaan, tetapi pengambilalihan makna: dari simbol kekuasaan asing menjadi lambang legitimasi lokal.

Kuil Baalat Gebal: Tempat di Mana Dewi Menerima Hadiah dari Dua Dunia


Temuan bust ini di kuil Baalat Gebal bukan kebetulan. Dewi ini — ‘Nyonya Gebal’ — adalah inkarnasi kesuburan, perlindungan, dan kebijaksanaan; ia dipuja oleh pelaut, pedagang, dan raja. Kuilnya bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat administrasi, gudang arsip, dan ruang pertemuan diplomatik. Di sini, kerajaan Mesir, Ugarit, dan kerajaan-kerajaan Levant saling bertukar hadiah: emas dari Nubia, kayu cedar dari Libanon, kaca dari Mesopotamia. Bust Osorkon — jika benar dibawa sebagai hadiah — adalah salah satu dari sedikit bukti fizikal bahwa hubungan Mesir–Phoenicia tidak berakhir bersama kejatuhan Dinasti ke-20, tetapi berlanjut, meski lebih halus, dalam bayang-bayang kerajaan-kerajaan kecil yang bangkit selepas Zaman Gelap.

Yang menarik: kuil Baalat Gebal telah digunakan selama lebih dari 2,000 tahun — dari zaman perunggu awal hingga Rom. Dan bust ini, diletakkan di sana pada awal abad ke-10 SM, menjadi penyaksi diam bagi transisi itu: dari kekuasaan pusat Mesir ke jaringan kota-kota pelabuhan yang mengatur dunia sendiri — dengan bahasa sendiri, mata uang sendiri, dan dewa-dewa sendiri.

Bukan Sekadar Patung: Sebuah Pertanyaan yang Masih Belum Terjawab


Hingga hari ini, tiada dokumen Mesir yang menyebut Elibaal. Tiada inskripsi Phoenicia yang menyebut Osorkon I. Tiada surat, tiada prasasti, tiada ukiran dinding yang menghubungkan keduanya. Maka, bagaimana bust ini sampai ke Byblos? Apakah ia dibawa oleh duta Mesir? Dibeli oleh pedagang Byblos? Atau — dan ini lebih menggugah — apakah ia dibuat di Byblos sendiri, oleh pematung Mesir yang bekerja di bawah patronase Elibaal, sebagai cara untuk memproyeksikan otoritasnya melalui bahasa dan estetika kekuasaan paling dihormati di Timur Dekat?

Sekarang, bust ini disimpan di Musée du Louvre, Paris. Di bawah lampu kaca, ia masih memandang — tanpa senyum, tanpa cela, tanpa jawaban. Tetapi dalam kebisuannya, ia terus bertanya: Siapa yang sebenarnya memiliki kuasa — pemegang takhta, atau mereka yang memilih nama mana yang akan bertahan di atas batu?

Warisan yang Tak Pernah Tersurat, Tapi Tak Pernah Hilang


Bust Osorkon bukan hanya artefak arkeologi. Ia adalah metafora sejarah itu sendiri: sering kali terpahat dalam kontradiksi, dibaca dalam dua bahasa, dan dimaknai ulang oleh setiap generasi yang menemuinya. Ia mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak selalu berbicara melalui perang atau undang-undang — kadang-kadang, ia berbisik melalui sebuah patung batu yang diletakkan di kuil asing, dengan dua nama yang tak pernah bertemu, namun terikat selamanya dalam satu permukaan — seperti dua sungai yang mengalir bersebelahan, menuju laut yang sama, tanpa pernah menyatu.

---
Rujukan: Osorkon Bust — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)