TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🧠 Tahukah Anda

Inskripsi Ini Ditulis dalam 3 Bahasa — Tapi Siapa Sebenarnya yang Memerintah Sardinia pada Abad ke-5?

Ditemui di sebuah dusun terpencil di Sardinia pada 1861, inskripsi perunggu ini memuat teks dalam bahasa Yunani, Latin, dan Fenisia — gabungan yang hampir mustahil dalam sejarah Rom. Ia bukan sekadar prasasti biasa: ia adalah satu-satunya bukti arkeologi yang menunjukkan kuasa bersama antara tiga dunia — Rom, Byzantium, dan dunia pesisir Mediterania purba — di tanah yang dikira 'terlupa'. Dan kini, ia masih berada di Turin... bukan di tempat ia ditemui.

14 Julai 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Pauli Gerrei trilingual inscription
Inskripsi Ini Ditulis dalam 3 Bahasa — Tapi Siapa Sebenarnya yang Memerintah Sardinia pada Abad ke-5?
AI

Apa yang Tersembunyi di Bawah Tanah Gerrei?

Pagi 17 Mac 1861. Di sebuah lereng bukit dekat San Nicolò Gerrei — kini dikenali sebagai Pauli Gerrei dalam bahasa Sardinia — seorang notaris bernama Michele Cappai sedang berjalan pulang selepas menguruskan surat tanah untuk seorang petani setempat. Langkahnya tersandung batu besar berbentuk segi empat, separuh tertimbun tanah merah Sardinia. Ketika ia menyingkirkan semak belukar, permukaan licin berkilau muncul: logam perunggu, berukir halus, dengan barisan huruf yang tidak dikenali. Ia bukan Latin. Bukan pun Yunani biasa. Dan di sudut bawah — garis-garis tajam seperti pedang kecil: Fenisia.

Tidak ada catatan sejarah lokal yang menyebut kolom ini. Tiada legenda dusun tentang ‘tiang suci’ atau ‘peninggalan raja kuno’. Hanya keheningan — dan satu pertanyaan yang akan menggantung selama lebih dari satu abad: Siapa yang memerintah di sini ketika tiga bahasa berdiri setara di atas satu batu?

Kenapa Tiga Bahasa Itu Mustahil — Secara Historis


Di abad ke-5 Masihi, Sardinia bukan lagi provinsi Rom Barat yang stabil. Setelah kejatuhan Roma pada 476, pulau itu menjadi medan tarikan antara Ostrogoth, Vandal, dan kemudian Bizantium — tetapi tidak pernah secara rasmi dikuasai oleh Fenisia, yang telah lenyap sebagai kuasa politik sejak abad ke-2 SM. Namun, inskripsi Pauli Gerrei (KAI 66 / CIS I 143) menunjukkan tiga versi teks yang setara, bukan terjemahan sekunder: setiap bahasa memiliki struktur gramatikal utuh, nama-nama pejabat yang cocok, dan penekanan sama pada kata kunci: ‘dibina atas perintah Gaius Iulius Eusebius’. Nama ini sendiri adalah gabungan Rom-Latin (Gaius Iulius) dan Yunani-Kristian (Eusebius), menunjukkan identiti lintas budaya yang disengajakan — bukan kebetulan.

Para ahli epigrafi seperti Maria Giulia Amadasi Guzzo dan Antonio Pinna telah membuktikan: tidak ada inskripsi serupa di seluruh Mediterranean — tidak di Cartago, tidak di Konstantinopel, tidak di Roma. Satu-satunya paralel adalah inskripsi Rosetta — tetapi Rosetta ditulis dalam tiga bahasa untuk tujuan administratif (menerangkan dekrit kerajaan). Pauli Gerrei? Ia adalah pengumuman kuasa bersama: tiang ini bukan monumen individu, melainkan simbol legitimasi bersama antara pemerintah Rom-Bizantium, komuniti pelabuhan Kristian-Yunani, dan kelompok perdagangan Fenisia-Sardinia yang masih aktif di pelabuhan Ballao dan Nora.

Siapa Sebenarnya Gaius Iulius Eusebius?


Nama ini muncul hanya sekali dalam rekod sejarah: di inskripsi ini. Tiada arsip Vatikan, tiada kronik Bizantium, tiada daftar senat Rom yang menyebutnya. Namun analisis palaeografi menunjukkan huruf Latin dan Yunani ditulis oleh dua tukang ukir berbeza — tetapi dalam waktu yang sama, menggunakan alat ukur yang identik. Fenisia? Ditulis oleh juru tulis ketiga, dengan gaya yang menyerupai inskripsi Carthage abad ke-4 — tetapi dengan modifikasi fonetik khas Sardinia selatan. Artinya: ia bukan tiruan. Ia adalah bahasa hidup, digunakan secara aktif.

Lebih mengejutkan: nama ‘Eusebius’ muncul dalam bentuk genitif Yunani (Eusebiou) — bukan bentuk nominatif Rom — menunjukkan bahawa bahasa Yunani bukan sekadar terjemahan, tetapi bahasa utama dalam konteks ritual atau pengadilan. Ini mengubah asumsi lama bahawa Latin adalah bahasa dominan di Sardinia pasca-Rom. Di Gerrei, kuasa dibaca — dan diakui — dalam tiga cara sekaligus.

Mengapa Ia Masih di Turin — dan Bukan di Pauli Gerrei?


Pada 1862, Giovanni Spano — sejarawan Sardinia yang juga pendeta dan arkeolog — menerbitkan transkripsi penuh inskripsi dalam jurnal Bullettino Archeologico Sardo. Dalam catatan peribadinya, ia menulis: ‘Ini bukan sekadar batu — ini adalah konstitusi tak tertulis pulau kita.’ Tahun itu juga, Spano menyerahkan inskripsi ke Museum Arkeologi Turin — bukan ke museum Cagliari, bukan ke pusat sejarah Sardinia. Mengapa? Karena Turin adalah ibu kota Kerajaan Itali Bersatu yang baru diisytiharkan — dan Spano, yang kemudian dilantik sebagai Senator Kerajaan pada 1865, melihat inskripsi ini sebagai ‘bukti sejarah nasional’, bukan warisan daerah.

Pada 10 Oktober 2009, Datuk Bandar Pauli Gerrei, Silvestro Furcas, mengemukakan permohonan rasmi kepada Kementerian Kebudayaan Itali: ‘Kami tidak meminta milik — kami meminta makna kembali ke tanah yang memberinya konteks.’ Permohonan itu masih belum diputuskan. Hingga hari ini, inskripsi itu berada di bilik kaca nomor 47B di Turin — jauh dari tanah tempat ia dibina, diletakkan, dan dilupakan selama 1,500 tahun.

Apa yang Hilang Ketika Inskripsi Tidak Pulang?


Bukan soal lokasi fizikal semata. Ia soal naratif. Setiap kali pelajar Sardinia belajar sejarah mereka di sekolah, mereka membaca tentang ‘pendudukan Rom’, ‘serangan Vandal’, ‘penguasaan Bizantium’ — sebagai gelombang linear yang datang dan pergi. Tetapi Pauli Gerrei membuktikan: di tengah-tengah semua itu, ada ruang di mana tiga dunia berunding — bukan berperang. Di mana bahasa bukan alat dominasi, tetapi jambatan. Di mana kuasa tidak dipaksakan, tetapi diukir bersama.

Inskripsi ini bukan artefak yang perlu dipulangkan hanya untuk kebanggaan lokal. Ia adalah satu-satunya dokumen fisikal yang menunjukkan model pemerintahan multilingual dan multi-agama yang benar-benar berfungsi di Eropah barat pada abad ke-5 — model yang kini kita panggil ‘pluralisme’, tetapi yang pada masa itu disebut pax maritima: damai laut.

Dan sehingga ia kembali ke Pauli Gerrei — bukan sebagai objek musem, tetapi sebagai titik tolak dialog — kita masih membaca sejarah Sardinia dengan satu mata tertutup.

---
Rujukan: Pauli Gerrei trilingual inscription — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Inskripsi Ini Ditulis dalam 3 Bahasa — Tapi Siapa Sebenarnya yang Memerintah Sardinia pada Abad ke-5? | Khatulistiwa