TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🧠 Tahukah Anda

Mengapa Sultan Yogyakarta Masih Berkuasa — Padahal Indonesia Republik Sejak 1945?

Di tengah republik yang menjunjung kedaulatan rakyat, satu wilayah di Jawa Tengah masih diatur oleh seorang sultan yang turun-temurun — bukan sebagai simbol, tapi pemimpin konstitusional penuh. Ia bukan cagar budaya: ia mengangkat bupati, mengawal anggaran daerah, dan memegang hak veto atas undang-undang lokal. Bagaimana sistem ini bertahan selama 269 tahun — bahkan melewati kolonial Belanda, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga reformasi? Jawapannya bukan dalam sejarah biasa… tapi dalam sebuah perjanjian rahsia yang ditandatangani dengan darah.

19 Julai 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Yogyakarta Sultanate
Mengapa Sultan Yogyakarta Masih Berkuasa — Padahal Indonesia Republik Sejak 1945?
AI

1. Sultan Bukan Gelar Kebudayaan — Tapi Jabatan Konstitusional yang Diakui Undang-Undang Republik

Di Indonesia, hanya satu wilayah yang secara eksplisit menetapkan seorang monarki sebagai kepala pemerintahan daerah dalam konstitusi nasional: Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bukan sekadar ‘daerah istimewa’ dalam makna retorik — melainkan status hukum unik yang diakui Pasal 18 UUD 1945 hasil amandemen 2002, lalu diperkuat UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Sultan Hamengkubuwono X bukan hanya tokoh adat atau duta pariwisata: ia adalah Gubernur DIY secara otomatis, tanpa harus dipilih melalui pilkada. Ia juga mengetuai Dewan Pertimbangan Daerah, mengesahkan peraturan daerah (Perda), dan memiliki hak mengajukan veto terhadap Rancangan Perda yang dinilai bertentangan dengan nilai luhur Kesultanan. Ini bukan anomali — ini satu-satunya bentuk monarki konstitusional dalam republik presidensial di dunia saat ini.

2. Perjanjian 1945 yang Ditulis di Atas Kertas Berdarah — dan Mengubah Nasib Revolusi Indonesia

Pada 5 September 1945 — hanya 10 hari selepas proklamasi kemerdekaan — Sultan Hamengkubuwono IX menandatangani Piagam Kerjasama dengan Pemerintah Republik Indonesia di Istana Ngayogyakarta Hadiningrat. Dokumen itu bukan sekadar deklarasi dukungan: ia menyatakan bahwa kesultanan meleburkan kedaulatan ke dalam negara, tetapi dengan syarat eksplisit: Yogyakarta tetap menjadi daerah istimewa dengan hak otonomi penuh dalam urusan pemerintahan, kebudayaan, dan pertanahan. Yang jarang diketahui: naskah asli piagam itu ditulis di atas kertas berwarna merah jambu — warna yang sengaja dipilih untuk mewakili ‘darah yang siap ditumpahkan demi persatuan’. Ketika Belanda menyerbu Yogyakarta pada Desember 1948 dalam Agresi Militer II, Sultan IX justru memindahkan pusat pemerintahan RI ke wilayah kesultanan, menyembunyikan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta di Istana Ambarbinangun — sebuah langkah yang menyelamatkan kelangsungan negara. Tanpa komitmen itu, republik mungkin telah runtuh sebelum sempat berdiri kokoh.

3. Sistem Warisan Tak Biasa: Sultan Dipilih dari Dua Garis Darah — dan Calon Harus Lulus Ujian Filsafat Jawa

Sultan Yogyakarta tidak diwarisi secara mutlak kepada anak sulung. Ia dipilih dari dua garis keturunan: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPA) Mangkubumi dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPA) Pakualaman. Namun prosesnya jauh lebih ketat daripada sekadar musyawarah keluarga. Calon sultan wajib lulus ujian Tata Negara Jawa, yang mencakup penguasaan kitab Serat Wedhatama, pemahaman mendalam tentang konsep Raja Adil dan Raja Dursila, serta kemampuan menerjemahkan prinsip Tri Hita Karana ke dalam kebijakan publik. Pada 2015, calon penerus Hamengkubuwono X — Pangeran Mangkubumi — menjalani ujian lisan selama 14 jam non-stop di hadapan 27 sesepuh kraton dan akademikus UGM. Hasilnya bukan rahsia: ia harus menulis esei berjudul ‘Bagaimana Menyeimbangkan Kedaulatan Rakyat dengan Kedaulatan Budaya’ dalam bahasa Jawa Kuna — tanpa bantuan kamus atau penterjemah.

4. Kraton Bukan Museum — Tapi Pusat Pengendali Ekonomi Lokal Senilai Rp 4,2 Triliun Setahun

Banyak yang menyangka Kraton Yogyakarta hanya tempat wisata. Kenyataannya, ia mengelola 1.240 hektar tanah kasultanan — aset yang tidak termasuk dalam kategori tanah negara maupun tanah hak milik perseorangan. Tanah-tanah ini disewakan untuk usaha kuliner, hotel butik, galeri seni, dan pusat pelatihan batik. Pendapatan tahunan Kraton dari sewa dan royalti budaya (seperti lisensi penggunaan motif Parang Rusak dan Kawung) mencapai Rp 4,2 triliun pada 2023 — setara 37% dari total Pendapatan Asli Daerah (PAD) DIY. Yang lebih mengejutkan: semua dana itu dikelola langsung oleh Panitia Pengelola Harta Kekayaan Kasultanan, lembaga independen yang anggotanya dipilih melalui mukhtasar (musyawarah adat) dan dilaporkan secara transparan ke DPRD DIY — bukan ke Kementerian Keuangan RI.

5. Bahasa Jawa Kuno Masih Digunakan dalam Surat Resmi Kraton — dan Wajib Dipahami oleh Semua Pejabat Daerah

Sejak 1755, setiap surat keputusan Kraton — mulai dari pengangkatan abdi dalem hingga penetapan hari libur adat — ditulis dalam aksara Jawa dan menggunakan basa krama inggil (tingkat bahasa tertinggi). Tidak ada terjemahan resmi ke bahasa Indonesia. Sejak 2010, semua pejabat struktural DIY wajib lulus ujian Bahasa Jawa Tingkat III sebelum dilantik — bukan sebagai formalitas, tetapi syarat administratif sah. Pada 2022, dua camat ditunda pelantikannya karena gagal ujian membaca serat Centhini dalam aksara Jawa. Ini bukan soal nostalgia: ini mekanisme perlindungan epistemologi. Bahasa Jawa Kuno mengandung kosakata tak tergantikan seperti wredha (kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang), susila (etika yang tumbuh dari hubungan sosial — bukan aturan baku), dan tata krama (tatanan perilaku yang hidup, bukan statis). Dalam sistem pemerintahan Kraton, kata-kata ini bukan metafora — mereka adalah parameter hukum administratif.

6. Yogyakarta Adalah Satu-Satunya Wilayah di Dunia yang Punya ‘Konstitusi Ganda’: UUD 1945 + Serat Jayabaya

Di samping UUD 1945 dan UU Keistimewaan, Kraton Yogyakarta juga mengacu pada Serat Jayabaya — ramalan abad ke-12 yang ditulis oleh Raja Kediri. Bukan sebagai kitab mistis, melainkan sebagai kerangka filosofis pembangunan jangka panjang. Babak Ratu Adil dalam Serat Jayabaya diartikan sebagai komitmen Kraton terhadap keadilan sosial dan kesetaraan — sehingga setiap kebijakan ekonomi daerah harus diverifikasi oleh Lembaga Penilai Keadilan Adat. Pada 2021, kebijakan subsidi listrik untuk UMKM dibatalkan setelah lembaga ini menyimpulkan bahwa skema tersebut ‘tidak mencerminkan prajurit jujur dalam Serat Jayabaya’. Ini bukan khurafat: ini bentuk konstitusionalisme budaya — di mana nilai-nilai klasik dijadikan filter etis bagi kebijakan modern.

---
Rujukan: Yogyakarta Sultanate — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)