TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🌍 Dunia

Vesak: Satu Hari Tiga Peristiwa Agung dalam Sejarah Tamadun Buddha

Vesak bukan sekadar hari raya agama, tetapi perayaan unik yang menyatukan tiga momen sentral dalam kehidupan Sang Buddha: kelahiran, pencerahan, dan parinirwana. Dirayakan secara beragam di lebih 50 negara, ia menjadi jendela memahami keragaman praktik Buddhisme—dari upacara lilin di Sri Lanka hingga prosesi bunga di Korea Selatan. Makna Vesak juga melampaui ritual, menawarkan refleksi mendalam tentang ketidakkekalan, belas kasih, dan tanggungjawab etika dalam kehidupan kontemporari.

21 Julai 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Vesak
Vesak: Satu Hari Tiga Peristiwa Agung dalam Sejarah Tamadun Buddha
AI

Asal-usul Nama dan Kronologi Bulan Purnama yang Mengubah Sejarah

Istilah 'Vesak' berasal dari nama bulan keempat dalam kalendar lunar India kuno—Vesākha (bahasa Pali) atau Vaiśākha (bahasa Sanskrit)—yang biasanya berselang antara akhir April hingga awal Mei. Menurut catatan sejarah epigrafi dan sumber Pali seperti Mahavamsa, bulan ini dipilih bukan secara kebetulan: semua tiga peristiwa utama dalam kehidupan Siddhartha Gautama—kelahirannya di Lumbini (sekitar 563 SM), pencapaiannya atas Nibbāna di bawah pokok Bodhi di Bodh Gaya (sekitar 528 SM), dan wafatnya di Kushinagar (sekitar 483 SM)—berlaku pada hari purnama bulan Vesākha. Ini menjadikan Vesak satu-satunya perayaan keagamaan di dunia yang secara eksplisit menghormati kelahiran, kematian, dan pencapaian spiritual tertinggi dalam satu tarikh tunggal. Di Sri Lanka, misalnya, perayaan ini diiktiraf sebagai hari cuti umum sejak 1957—momen penting ketika pemerintah memperkuat identiti budaya nasional melalui warisan Buddhisme Theravāda.

Keragaman Ritual: Dari Lampu Lilin ke Prosesi Bunga

Walaupun inti Vesak bersifat universal, ekspresinya sangat berbeza mengikut wilayah. Di Thailand dan Myanmar, umat mempraktikkan ‘Tak Bat’—memberi sedekah makanan kepada bhikkhu sebelum fajar—sebagai simbol penghormatan terhadap disiplin Vinaya. Di Sri Lanka, ‘Vesak Pandols’ (papan dekorasi sementara berukuran besar) didirikan di persimpangan jalan, menggambarkan adegan kehidupan Buddha dengan teknik seni cahaya dan bayangan. Sementara itu, di Korea Selatan, Vesak dikenali sebagai Bucheonim Osin Nal dan dirayakan dengan Yeon Deung Hoe (Festival Lampu Teratai), di mana lebih dari satu juta lampion berbentuk teratai—simbol kemurnian dan kebangkitan—dinyalakan di kuil-kuil dan ruang awam. Di Indonesia, khususnya di Borobudur, upacara Pindapatta (pengumpulan dana sukarela) dan pelepasan lampion ke langit di pelataran candi menjadi ikonik sejak 1963, menunjukkan bagaimana Vesak berdialog dengan warisan arkeologi Nusantara.

Vesak dalam Perspektif Doktrinal: Mengapa Tiga Peristiwa Disatukan?

Dalam tradisi Theravāda dan Vajrayāna, penyatuan kelahiran, pencerahan, dan parinirwana bukan sekadar konvensi kronologis—tetapi pernyataan metafizik mendalam. Kelahiran Buddha bukanlah permulaan linear, melainkan manifestasi dari paramita (kesempurnaan) yang telah dikembangkan selama banyak kelahiran. Pencerahan di Bodh Gaya adalah titik transformasi kesedaran—ketika sang Bhagavā melepaskan semua belenggu avijjā (kebodohan) dan taṇhā (kerakusan). Parinirwana di Kushinagar bukan ‘kematian’ dalam erti biasa, tetapi pembebasan mutlak dari siklus kelahiran-kembali (saṃsāra). Oleh itu, Vesak mengajarkan bahawa hidup, kesedaran, dan kematian adalah tiga aspek tak terpisahkan dari realitas—bukan tiga peristiwa berasingan, tetapi satu alur kesadaran utuh. Ini berbeda dengan tradisi Mahāyāna di Jepun, di mana Hanamatsuri (Hari Ulang Tahun Buddha) dirayakan secara terpisah pada 8 April, tanpa menyertakan parinirwana.

Vesak dan Etika Global: Ketika Ajaran Kuno Menjawab Krisis Kontemporari

Deklarasi Vesak PBB tahun 2000—yang pertama kali diadakan di Markas Besar PBB, New York—menegaskan Vesak sebagai ‘hari refleksi global tentang perdamaian, keadilan sosial, dan kelestarian alam’. Prinsip Pancasila Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab) dan Sila Ketiga (Persatuan Indonesia) memiliki resonansi kuat dengan semangat Vesak: mettā (kasih sayang tanpa syarat) dan karuṇā (belas kasihan aktif). Di Malaysia, Vesak sering menjadi platform bagi inisiatif seperti kampanye bebas plastik di kuil-kuil atau program pendidikan inklusif untuk anak-anak kurang upaya—bukti bahwa ajaran Buddha bukan bersifat asketik terasing, tetapi berakar dalam tanggungjawab sosial. Di tengah krisis iklim, Vesak juga menginspirasi gerakan Green Vesak, seperti yang dilaksanakan oleh Sangha Thailand melalui penanaman 100,000 pokok pada tahun 2023—menghubungkan sīla (kelakuan baik) dengan ekologi praktikal.

Soalan Refleksi: Apa yang Vesak Ajarkan kepada Dunia Hari Ini?

Jika Vesak mengingatkan kita bahawa kelahiran, pencerahan, dan kematian adalah satu kesatuan—maka apa maknanya bagi masyarakat yang terobsesi dengan produktivitas, ketahanan, dan keabadian digital? Bagaimana prinsip anicca (ketidakkekalan) dapat membantu kita menghadapi ketidakpastian global—dari pandemik hingga ketegangan geopolitik? Dan jika setiap lilin yang dinyalakan di Vesak melambangkan satu niat baik, berapa banyak niat baik yang kita hasilkan setiap hari—dan apakah mereka benar-benar memadamkan kegelapan ketamakan, kebencian, dan kebodohan? Vesak bukan hanya mengajak kita mengingati seorang tokoh sejarah; ia mengundang kita untuk memeriksa cara kita hidup—di sini, sekarang, dalam setiap napas yang tidak kekal namun penuh makna.

---
Rujukan: Vesak — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)