TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🕌 Kisah & Hikmah

Fatahillah: Jenderal Islam yang Mengubah Sunda Kelapa Menjadi Jayakarta

Fatahillah, juga dikenal sebagai Fadhillah Khan atau Falatehan, adalah jenderal Kesultanan Demak yang memimpin penaklukan Sunda Kelapa pada tahun 1527 dan mengganti namanya menjadi Jayakarta. Penaklukan ini merupakan bagian dari misinya menyebarkan Islam ke Jawa Barat. Ia diakui secara luas sebagai pahlawan nasional Indonesia, dan namanya diabadikan di Taman Fatahillah di Jakarta serta kapal perang Indonesia KRI Fatahillah (361).

25 Jun 20263 minit baca640,727 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Fatahillah
Fatahillah: Jenderal Islam yang Mengubah Sunda Kelapa Menjadi Jayakarta
AI

Pengenalan: Sebuah Nama yang Melekat di Jiwa Jakarta

Siapa yang tidak kenal dengan Taman Fatahillah di Kota Tua Jakarta? Setiap hari, ribuan wisatawan dan penduduk setempat berkunjung ke kawasan bersejarah ini. Namun, di balik nama yang terkenal itu, tersimpan kisah seorang jenderal besar yang mengubah wajah sejarah Nusantara. Fatahillah bukan sekadar nama taman; dia adalah tokoh yang membawa perubahan besar di pesisir barat Pulau Jawa.

Latar Belakang Fatahillah: Dari Tanah Sumatera ke Panggung Sejarah

Fatahillah, yang juga dikenal sebagai Fadhillah Khan atau Falatehan dalam penulisan Portugis, diduga berasal dari Pasai, sebuah kerajaan Islam di pesisir timur Sumatera. Sejak muda, beliau telah dibesarkan dalam semangat jihad dan perdagangan. Setelah Kesultanan Demak muncul sebagai kekuatan besar di Jawa, Fatahillah diundang untuk bekerja sebagai jenderal angkatan laut. Kehebatannya dalam strategi perang dan diplomasi membuat Sultan Demak, Raden Patah, sangat mempercayainya.

Sunda Kelapa: Pelabuhan yang Menjadi Rebutan

Sunda Kelapa pada abad ke-16 adalah sebuah pelabuhan utama di bawah Kerajaan Pajajaran yang masih bercorak Hindu-Buddha. Pelabuhan ini menjadi titik strategis dalam lalu lintas perdagangan rempah, lada, dan hasil hutan. Portugis, yang telah lama bertapak di Melaka, melihat Sunda Kelapa sebagai pangkalan ideal untuk mengawasi lalu lintas perdagangan di Selat Sunda. Pada tahun 1522, mereka menandatangani Perjanjian Sunda-Portugal, yang memperbolehkan Portugis mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai imbalan atas bantuan militer. Ini mencetuskan kekhawatiran besar di kalangan Kesultanan Demak, yang melihat peningkatan pengaruh Kristen di daerah ini.

Misi Penaklukan: Menyebarkan Islam dan Menggagalkan Portugis

Sultan Demak, Trenggana, mengarahkan Fatahillah untuk menaklukkan Sunda Kelapa sebelum Portugis sempat memperkuat posisi mereka. Fatahillah memimpin armada yang terdiri dari kapal perang dan ribuan prajurit. Pada tahun 1527, ia melancarkan serangan terhadap pelabuhan Sunda Kelapa. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Demak dan pasukan gabungan Pajajaran yang dibantu Portugis. Dengan taktik gerilya dan semangat juang yang tinggi, pasukan Fatahillah berhasil mengalahkan musuh. Portugis yang masih dalam proses membangun benteng terpaksa melarikan diri.

Lahirnya Jayakarta: Nama Baru, Semangat Baru

Setelah kemenangan gemilang, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti "kemenangan yang sempurna" dalam bahasa Sanskrit. Perubahan nama ini bukan hanya simbolis; ia menandai awal era baru sebagai pusat penyebaran Islam dan perdagangan di Jawa Barat. Fatahillah kemudian menjadi gubernur pertama Jayakarta di bawah Kesultanan Demak. Ia membangun masjid, pelabuhan, dan benteng pertahanan untuk memastikan kota ini tidak mudah jatuh ke tangan musuh. Jayakarta terus berkembang menjadi pusat perdagangan dan keagamaan yang makmur.

Warisan Fatahillah: Pahlawan Nasional dan Inspirasi Abadi

Fatahillah tidak hanya dikenang karena keberaniannya, tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam memerintah. Ia meninggal sekitar tahun 1570, tetapi namanya terus hidup. Pada tahun 1970-an, pemerintah Indonesia secara resmi mengakui Fatahillah sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan di Taman Fatahillah di Jakarta, yang menjadi pusat wisata dan sejarah. Selain itu, TNI Angkatan Laut menamakan kapal perang mereka KRI Fatahillah (361) sebagai penghormatan kepadanya. Kisah Fatahillah juga diajarkan di sekolah-sekolah sebagai contoh perjuangan melawan penjajahan dan penyebaran nilai-nilai Islam.

Penutup: Dari Sunda Kelapa ke Jakarta Raya

Fatahillah adalah bukti bahwa seorang pemimpin yang beriman dan berani dapat mengubah arus sejarah. Penaklukannya terhadap Sunda Kelapa tidak hanya membuka jalan bagi pengislaman Jawa Barat, tetapi juga meletakkan dasar bagi kota yang kini dikenal sebagai Jakarta, ibu kota Indonesia. Setiap kali kita melewati Taman Fatahillah, kita seharusnya mengingat bahwa di balik batu-batu tua itu terkubur semangat seorang jenderal yang tidak pernah takut menghadapi tantangan. Sejarah Fatahillah mengingatkan kita bahwa kejayaan peradaban Islam di Nusantara lahir dari keberanian, strategi, dan keteguhan iman.

---
Rujukan: Fatahillah — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: