TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🧠 Tahukah Anda

Mengapa Batu Nisan Abad ke-4 SM Ini Memuat DUA Bahasa — Tapi HANYA SATU Makam di Seluruh Limyra?

Di tengah necropolis kuno di barat daya Turki, tersembunyi sebuah makam batu yang tak pernah dipindahkan sejak 2,400 tahun lalu — dan satu-satunya di sana yang berbicara dalam dua bahasa sekaligus. Mengapa hanya makam ini? Siapa yang memerintahkan pahatan Aramaik dan Yunani berdampingan? Dan mengapa para pakar masih debat tentang maksud terakhirnya — meski teksnya utuh?

28 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Limyra bilingual inscription
Mengapa Batu Nisan Abad ke-4 SM Ini Memuat DUA Bahasa — Tapi HANYA SATU Makam di Seluruh Limyra?
Imej: Foto: Wikipedia — Limyra bilingual inscription (CC BY-SA 4.0)
AI

Apa itu Insripsi Dwibahasa Limyra — dan mengapa ia tidak boleh dipindahkan?

Inskripsi Dwibahasa Limyra bukan sekadar batu bertulis — ia adalah sebuah dokumen arkeologi yang masih berada di tempat asalnya. Ditemui pada tahun 1840 oleh pengembara Eropah di Necropolis Limyra (kini di provinsi Antalya, Turki barat daya), inskripsi ini terpahat secara kekal pada pintu masuk Makam No. 46 — sebuah makam batu berbentuk Lycia klasik, digali langsung dari tebing batu kapur. Yang unik: ia tidak pernah dipindahkan, tidak pernah direstorasi secara invasif, dan masih berdiri in situ, tepat seperti ketika dibuat sekitar tahun 350 SM. Ini menjadikannya salah satu contoh paling autentik di dunia untuk mempelajari interaksi bahasa, kuasa, dan identiti di Asia Kecil pada zaman Achaemenid — ketika kerajaan Parsi menguasai wilayah ini, tetapi budaya Yunani dan tradisi lokal Lycia tetap hidup berdampingan.

Mengapa dua bahasa — Yunani dan Aramaik — muncul di satu makam, bukan tiga atau satu?

Pada abad ke-4 SM, Aramaik adalah bahasa rasmi administratif Empayar Achaemenid — bahasa ‘bahasa diplomatik’ dari Mesopotamia hingga Anatolia. Yunani pula sedang naik daun sebagai bahasa perdagangan, pendidikan, dan elite kota-kota pesisir seperti Limyra. Namun, kehadiran kedua-duanya pada satu monumen funerari — bukan di istana atau prasasti resmi, tapi di makam pribadi — menunjukkan sesuatu yang lebih halus: sebuah pernyataan identiti ganda. Pemilik makam (nama lengkapnya tidak diketahui, hanya disebut sebagai 'anak lelaki Padas') ingin dikenali bukan hanya sebagai warga Lycia, tetapi juga sebagai individu yang beroperasi dalam dua dunia — birokrasi kerajaan Parsi (melalui Aramaik) dan jaringan kultural-marinir Yunani (melalui Yunani). Tidak ada makam lain di Limyra yang melakukan ini. Tiada yang kedua. Tiada yang menyusul.

Di mana tepatnya teks itu dipahat — dan mengapa lokasinya sengaja bermakna?

Teks Aramaik (dikenali dalam literatur epigrafi sebagai KAI 262 — Kanaanäische und Aramäische Inschriften) terpahat di lintel (ambang pintu) pintu kiri — posisi yang rendah, personal, dan hanya kelihatan apabila orang berdiri dekat. Sebaliknya, teks Yunani dipahat pada frieze — jalur horizontal di atas kedua-dua pintu — tinggi, terbuka, dan dapat dibaca dari jarak jauh. Ini bukan kebetulan teknikal. Ini adalah arsitektur makna: Aramaik sebagai identiti dalaman, rahsia keluarga atau ikatan dengan kuasa pusat; Yunani sebagai identiti luaran, untuk publik, untuk pelaut, pedagang, dan pengunjung kubur. Pemahatan dua bahasa di dua tingkat visual ini membuktikan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi — tapi juga hierarki sosial yang diukir dalam batu.

Mengapa analisis pertama baru muncul 47 tahun selepas penemuannya — dan apa yang masih belum diselesaikan?

Walaupun ditemui pada 1840, inskripsi ini baru dianalisis secara sistematis oleh orientalis Jerman Eduard Sachau pada 1887 — dalam karyanya Reise in Syrien und Mesopotamien. Mengapa begitu lambat? Kerana Aramaik kuno sangat sukar dibaca tanpa konteks paralel, dan pada masa itu, hanya beberapa inskripsi Aramaik Anatolia yang diketahui. Sachau menggunakan bandingan dengan inskripsi dari Sardis dan Babylon untuk memecahkan struktur kalimatnya. Namun, hingga hari ini, satu frasa dalam teks Aramaik — ‘bḥr ḥy’ — masih diperdebatkan: adakah ia bermaksud ‘di hadapan kehidupan’ (sebagai ungkapan eskatologikal), atau ‘di hadapan sang hidup’ (merujuk kepada dewa atau raja)? Tiada konsensus. Tiada naskhah paralel yang cukup jelas. Ia tetap menjadi gap linguistik yang terbuka — seperti celah kecil di antara dua bahasa yang berdampingan, tetapi tidak pernah sepenuhnya bersatu.

Apa implikasi sebenar bagi sejarah Malaysia — dan mengapa kita patut peduli?

Mungkin anda bertanya: ‘Apa kaitannya dengan kita?’ Jawapannya terletak pada cara kita memahami multilingualisme bukan sebagai ‘masalah’, tetapi sebagai strategi eksistensi. Di Limyra, dwibahasa bukan tanda kehilangan identiti — malah sebaliknya: ia bukti kecergasan budaya, kemampuan bernegosiasi antara imperium dan akar umbi, antara kuasa pusat dan autonomi tempatan. Di Malaysia hari ini, kita hidup dalam realiti serupa: Bahasa Melayu sebagai teras konstitusi, Bahasa Inggeris sebagai jalan ke ilmu global, bahasa ibunda sebagai ruh keluarga — bukan konflik, tetapi lapisan makna yang saling memperkaya. Makam Limyra mengingatkan: ketika dua bahasa bertemu di atas batu selama 2,400 tahun, bukan untuk saling menghapus — tetapi untuk saling menjaga agar makna tidak lenyap.

Mengapa makam ini tidak pernah direplikasi — dan apa yang ia katakan tentang keunikan manusia?

Dalam lebih dari 150 makam di Necropolis Limyra, hanya satu yang memilih dwibahasa. Tidak ada tiruan, tidak ada imitasi, tidak ada generasi berikutnya yang mengulanginya. Ini bukan kekurangan teknikal — tetapi keputusan kultural yang sangat spesifik, mungkin bahkan individual. Ia menunjukkan bahwa multilingualisme bukanlah tren automatik — ia adalah pilihan berani, hasil refleksi mendalam tentang siapa kita, di mana kita berdiri, dan untuk siapa kita ingin dikenali — bahkan setelah mati. Dan itulah sebabnya, 2,400 tahun kemudian, kita masih berdiri di depan pintu makam itu, memandang ke atas dan ke bawah, mencari jawapan — bukan hanya dalam bahasa Yunani atau Aramaik, tetapi dalam keheningan di antara keduanya.

---
Rujukan: Limyra bilingual inscription — Wikipedia

Tersedia dalam: