TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🕌 Kisah & Hikmah

Al-Masudi: Penjelajah Ilmu yang Disebut Herodotus dari Dunia Arab

Al-Masudi, sejarawan dan ahli geografi abad ke-10, melakukan perjalanan dari Baghdad ke India, Afrika Timur, dan Asia Tenggara. Karyanya 'Padang Rumput Emas' menggabungkan sejarah universal, sains geografi, dan biografi sosial. Dia diberi julukan Herodotus Arab karena pendekatan naratifnya yang kritis dan luas. Warisannya menjadi sumber utama tentang peradaban dunia dari perspektif Islam.

26 Jun 20265 minit baca661,689 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Al-Masudi
Al-Masudi: Penjelajah Ilmu yang Disebut Herodotus dari Dunia Arab
Imej: Foto: Wikipedia — Al-Masudi (CC BY-SA 4.0)
AI

Di Hamparan Emas Sejarah: Siapa Al-Masudi?

Bayangkan seorang penjelajah yang berjalan keluar dari Baghdad pada abad ke-9, ketika kota itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Bukan hanya seorang pedagang atau tentara, tetapi seorang pencari ilmu yang haus akan kisah-kisah manusia. Dialah Abu al-Hasan Ali ibn al-Husayn al-Masudi, atau lebih dikenal sebagai Al-Masudi. Lahir sekitar tahun 896 Masehi di Baghdad, dia hidup pada zaman keemasan Khilafah Abbasiyah, ketika para cendekiawan bebas meneroka filsafat, sains, dan sejarah. Tapi apa yang membedakan Al-Masudi dari banyak sejarawan lain? Jawabannya: dia tidak hanya duduk di perpustakaan. Al-Masudi melakukan perjalanan ke seluruh pelosok dunia yang diketahui pada masa itu—dari timur hingga barat, dari utara ke selatan. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, berbicara dengan berbagai bangsa, dan mencatat semuanya secara teliti. Karena itulah, dunia kemudian menyebutnya 'Herodotus dari Dunia Arab'—gelar yang mengakui perannya sebagai bapak sejarah naratif dan geografi dalam peradaban Islam.

Jejak Langkah Seorang Penjelajah yang Menyukai Ilmu

Al-Masudi memulai perjalanannya pada usia muda, mungkin didorong oleh rasa ingin tahu yang tak terbatas tentang ciptaan Tuhan dan peradaban manusia. Dia meninggalkan Baghdad yang ramai dan berkunjung ke Parsi, India, Ceylon (kini Sri Lanka), bahkan sampai ke pantai timur Afrika. Dalam setiap perjalanan, Al-Masudi tidak hanya melewati tempat tersebut; dia berhenti, mendengarkan cerita penduduk setempat, meneliti adat istiadat, mencatat flora dan fauna, serta mengukur jarak geografis. Contohnya, di India, dia menulis tentang sistem kasta, upacara keagamaan, dan hubungan perdagangan antara India dengan dunia Arab. Di Afrika Timur, dia menjadi salah satu orang pertama yang mendokumentasikan kerajaan-kerajaan lokal seperti Zanzibar dan Mogadishu, serta menggambarkan kehidupan masyarakat Bantu. Semua ini dicatat dengan penuh rasa hormat, tanpa prasangka, menjadikan karyanya sebagai jendela ke dunia abad ke-10 yang sangat berharga.

Padang Rumput Emas: Mahakarya yang Menggabungkan Dunia

Karya terbesar Al-Masudi adalah 'Muruj al-Dhahab wa Ma'adin al-Jawhar'—dalam bahasa Melayu diterjemahkan sebagai 'Padang Rumput Emas dan Lombong Permata'. Buku ini bukan sekadar kronologi peristiwa; ia adalah permaiyan yang ditenun dari sejarah universal, geografi sains, ulasan sosial, dan biografi tokoh-tokoh besar. Al-Masudi memulai dengan penciptaan alam, lalu beralih ke sejarah para nabi, raja-raja Parsi, Yunani, Rom, dan India, sebelum akhirnya fokus pada kebangkitan Islam dan pemerintahan khalifah. Yang menarik, dia tidak hanya menyebutkan fakta; dia mengkritik sumber, membandingkan cerita, dan memberikan pendapat pribadi. Misalnya, ketika bercerita tentang khalifah Harun al-Rashid, Al-Masudi tidak hanya memuji, tetapi juga mencatat kelemahan dan kontroversi, menunjukkan pendekatan sejarah yang kritis dan jujur. Buku ini menjadi referensi utama selama berabad-abad, mempengaruhi sejarawan seperti Ibn Khaldun dan ahli geografi seperti al-Idrisi.

Sains Geografi dan Ilmu Alam: Lebih Daripada Sekadar Sejarah

Al-Masudi juga seorang ilmuwan geografi yang hebat. Dalam 'Padang Rumput Emas', dia membahas bentuk bumi, sistem peredaran angin, pasang surut laut, dan pengaruh iklim terhadap manusia. Dia menulis tentang tujuh zona iklim (iqlim) yang mempengaruhi budaya dan peradaban—satu ide yang kemudian dikembangkan oleh ahli geografi Islam lainnya. Al-Masudi juga mencatat tentang gunung berapi di Indonesia, sungai Nil di Afrika, dan jalur perdagangan rempah antara Asia dan Eropa. Pengetahuan ini bukan sekadar teori; ia berdasarkan pengamatan langsung. Ketika berada di Samudra Hindia, dia merekam bagaimana para pelaut menggunakan bintang untuk navigasi, dan bagaimana angin monsun memengaruhi pelayaran. Dengan demikian, Al-Masudi meletakkan dasar bagi geografi manusia dan fisik modern. Kontribusinya sangat besar karena dia menghubungkan data ilmiah dengan pengalaman manusia, menunjukkan bahwa alam dan sejarah saling memengaruhi.

Warisan Abadi: Dari Baghdad ke Dunia Modern

Meskipun Al-Masudi meninggal sekitar tahun 956 Masehi di Kaherah, warisannya tidak pernah pudar. Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Eropa pada Zaman Renaisans, memperkenalkan dunia Barat kepada khazanah ilmu Islam. Para orientalis seperti Joseph von Hammer-Purgstall memuji kedalaman analisisnya. Dalam dunia Islam, 'Padang Rumput Emas' terus menjadi teks standar untuk studi sejarah dan geografi. Saat ini, para ilmuwan masih merujuk catatan Al-Masudi untuk memahami hubungan perdagangan antara Afrika dan Asia, serta untuk meneliti perubahan iklim dan budaya. Lebih penting lagi, Al-Masudi mengingatkan kita bahwa ilmu bukan milik satu bangsa atau agama; ia adalah hasil dari rasa ingin tahu, kesabaran, dan keberanian untuk menjelajahi. Dia adalah bukti bahwa peradaban Islam bukan hanya tentang perang dan politik, tetapi juga tentang dialog antar budaya dan pencarian kebenaran yang universal.

Kesimpulan: Herodotus yang Tidak Pernah Berhenti Berkata

Al-Masudi, dengan segala kehebatannya, adalah simbol semangat intelektual Islam yang terbuka dan inklusif. Dia tidak takut pergi ke negeri asing, tidak malu belajar dari orang non-Muslim, dan tidak takut mengkritik tradisi sendiri. Julukan 'Herodotus Arab' mungkin cocok, tetapi sebenarnya Al-Masudi lebih dari itu—dia adalah jembatan antara dunia Timur dan Barat, antara masa lalu dan masa depan. Karyanya terus hidup, bukan hanya dalam bentuk buku, tetapi dalam inspirasi yang diberikannya kepada setiap jiwa yang haus akan ilmu. Maka, ketika kita membaca 'Padang Rumput Emas' hari ini, kita tidak hanya membaca sejarah; kita sedang berjalan bersama seorang penjelajah yang tidak pernah berhenti bertanya, dan yang menjadikan dunia ini lebih dipahami dan dihargai.

---
Rujukan: Al-Masudi — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: