TERKINI
๐ŸŒ Liputan global 24/7 โ€ข ๐Ÿฏ Asia Timur: China, Jepun, Korea โ€ข ๐Ÿ›• Asia Selatan: India โ€ข ๐Ÿฐ Eropah โ€ข ๐Ÿ—ฝ Amerika โ€ข ๐ŸŒ Afrika โ€ข ๐Ÿ•Œ Timur Tengah โ€ข ๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ธ Solidariti Palestin โ€ข
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
๐Ÿ•Œ Kisah & Hikmah

Alauddin Khalji: Sultan Yang Kuat yang Dua Kali Mengusir Tentara Mongol dari India

Artikel ini menceritakan kekuatan Sultan Alauddin Khalji, pemimpin Dinasti Khalji di Kesultanan Delhi, yang berhasil menolak serangan Mongol sebanyak dua kali pada abad ke-14. Dengan strategi militer yang luar biasa dan reformasi pemerintahan yang mendalam, ia tidak hanya mempertahankan tanah airnya, tetapi juga meninggalkan warisan peradaban Islam yang gemilang di India. Kisahnya menjadi simbol keberanian dan kebijaksanaan dalam menghadapi ancaman terbesar dunia saat itu.

25 Jun 20264 minit baca14,833 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia โ€” Alauddin Khalji
Alauddin Khalji: Sultan Yang Kuat yang Dua Kali Mengusir Tentara Mongol dari India
Imej: Foto: Wikipedia โ€” Alauddin Khalji (CC BY-SA 4.0)

Ketika Pedang Menjadi Perisai: Alauddin Khalji dan Dua Serangan Mongol yang Gagal

Pada suatu ketika, dunia dikejutkan dengan berita bahwa tentara Mongol โ€” yang tidak pernah kalah dan telah menguasai separuh dunia โ€” tiba-tiba mundur dari India. Bukan karena kelelahan, tetapi karena mereka menghadapi seorang sultan yang tidak takut: Alauddin Khalji. Dua kali mereka menyerang, dua kali mereka dikalahkan. Inilah kisah sultan yang mengubah arus sejarah Asia Selatan.

Latar Belakang: Dari Kara ke Singgasana Delhi

Alauddin Khalji, lahir sekitar tahun 1266 dengan nama Ali Gurshasp, adalah anak angkat dan menantu dari Sultan Jalaluddin Khalji. Setelah Jalaluddin naik tahta Delhi dengan menggulingkan dinasti Mamluk, Alauddin diangkat sebagai Amir-i-Tuzuk, jabatan yang setara dengan kepala protokol. Namun, bakatnya lebih dari sekadar mengatur acara istana. Pada tahun 1291, ia ditugaskan sebagai gubernur di Kara, dan pada 1296, setelah memimpin serangan ke Bhilsa yang membawa banyak rampasan, ia juga diberikan pemerintahan Awadh.

Keberaniannya mulai terlihat ketika ia memimpin serangan ke Devagiri pada tahun 1296. Dengan hasil rampasan yang besar, Alauddin merancang untuk merebut tahta. Setelah membunuh Jalaluddin, ia memperkuat kekuasaannya di Delhi dan kemudian menundukkan anak-anak Jalaluddin di Multan. Maka dimulailah era baru di bawah pemerintahan yang tegas dan berambisi tinggi.

Ancaman dari Utara: Gelombang Mongol

Pada awal abad ke-14, kerajaan Mongol di bawah Chagatai Khanate sering melancarkan serangan ke India. Mereka bukan hanya perampok; mereka adalah tentara profesional yang dilatih untuk menghancurkan kota dan membunuh ribuan orang. Namun, Alauddin tidak takut. Ia membangun sistem pertahanan yang kuat: memperkuat benteng di perbatasan, menempatkan pasukan berkuda yang terlatih, dan memastikan pasokan makanan cukup. Ia juga memperkenalkan pengendalian harga barang kebutuhan di Delhi agar ekonomi tidak runtuh selama perang.

Pertempuran Pertama: 1299 โ€“ Kemenangan di Sungai Indus

Pada tahun 1299, tentara Mongol di bawah pimpinan Qutlugh Khwaja menyerang India dengan kekuatan lebih dari 200.000 orang. Mereka maju hingga ke Delhi. Alauddin memimpin sendiri pasukannya ke medan perang. Dengan strategi yang cerdas, ia menarik musuh ke wilayah sempit di tepi Sungai Indus, lalu menyerang dari dua arah. Ribuan prajurit Mongol tewas, dan Qutlugh Khwaja sendiri terluka parah dan kabur. Kemenangan ini memperkuat nama Alauddin sebagai jenderal yang tak terkalahkan.

Pertempuran Kedua: 1306 โ€“ Menghancurkan Serangan Terakhir

Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1306, Mongol kembali dengan dendam. Kali ini, mereka dipimpin oleh Kubak, seorang jenderal yang terkenal kejam. Namun, Alauddin sudah bersiap. Ia telah membangun jaringan mata-mata yang efektif, lalu menyerang tiba-tiba pasukan Mongol di daerah pegunungan utara Delhi. Pertempuran berlangsung selama tiga hari, dan akhirnya pasukan Mongol mundur dengan kehilangan ribuan nyawa. Kubak sendiri ditangkap dan dihukum mati. Ini adalah kali terakhir Mongol mencoba menaklukkan India secara besar-besaran.

Warisan Seorang Sultan Reformis

Selain kehebatan militer, Alauddin juga dikenal karena reformasi ekonominya. Ia menetapkan harga tetap untuk gandum, beras, dan kain, serta mengawasi gaji tentara. Tindakan ini membantu rakyat miskin, meskipun menimbulkan ketidakpuasan di kalangan pedagang. Ia juga memajukan seni bangunan Islam di India dengan membangun masjid dan istana, termasuk Masjid Jama di Delhi. Pusat pembelajaran di Delhi juga berkembang di bawah perlindungannya, menjadikan kota itu sebagai pusat ilmu dan budaya Islam.

Namun, pemerintahannya yang keras juga meninggalkan dampak yang pahit. Pengendalian harga dan pajak yang tinggi menekan para bangsawan, dan banyak orang yang dihukum mati karena dicurigai melakukan pemberontakan. Namun, bagi rakyat biasa, ia adalah sultan yang melindungi mereka dari ancaman luar dan kelaparan.

Penutup: Seorang Sultan yang Tak Terlupakan

Alauddin Khalji meninggal pada 4 Januari 1316, tetapi jasanya tetap tercatat dalam sejarah. Dua kali ia mengusir tentara Mongol yang ditakuti, membuktikan bahwa dengan keberanian dan strategi, sebuah kerajaan kecil bisa mengalahkan kerajaan besar. Warisannya bukan hanya dalam bentuk kemenangan perang, tetapi juga dalam sistem pemerintahan yang mempengaruhi Kesultanan Delhi selama beberapa generasi.

Kisah Alauddin Khalji mengajarkan kita bahwa kemuliaan peradaban Islam bukan hanya pada ilmu dan seni, tetapi juga pada semangat mempertahankan tanah air dan martabat. Ia adalah bukti bahwa seorang pemimpin yang beriman dan berani mampu mengubah arus sejarah.

---

*Rujukan: [Alauddin Khalji โ€” Wikipedia](https://en.wikipedia.org/wiki/Alauddin_Khalji)*

Tersedia dalam: