TERKINI
๐ŸŒ Liputan global 24/7 โ€ข ๐Ÿฏ Asia Timur: China, Jepun, Korea โ€ข ๐Ÿ›• Asia Selatan: India โ€ข ๐Ÿฐ Eropah โ€ข ๐Ÿ—ฝ Amerika โ€ข ๐ŸŒ Afrika โ€ข ๐Ÿ•Œ Timur Tengah โ€ข ๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ธ Solidariti Palestin โ€ข
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
๐Ÿ•Œ Kisah & Hikmah

Dari Pasir ke Istana: Kilauan Keramik Islam yang Memukau Dunia dari Persia hingga Andalusia

Keramik Islam bukan sekadar kerajinan; ia adalah kanvas peradaban yang memancarkan kecemerlangan ilmu, seni, dan iman. Dari bengkel di Persia hingga istana di Andalusia, dan dari pesisir Tiongkok hingga Eropa, keramik Islam memainkan peran penting dalam perdagangan, ibadah, dan estetika. Artikel ini mengupas perjalanan gemilang keramik Islam, mengungkap tokoh, teknik, dan warisan yang abadi hingga kini.

26 Jun 20265 minit baca14,401 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia โ€” Islamic pottery
Dari Pasir ke Istana: Kilauan Keramik Islam yang Memukau Dunia dari Persia hingga Andalusia
Imej: Foto: Wikipedia โ€” Islamic pottery (CC BY-SA 4.0)
AI

Ketika Emas Diharamkan, Keramik Jadi Mahkota

Bayangkan sebuah istana di Cordoba, abad ke-10. Sultan tidak minum dari cawan emas atau perak, seperti kebiasaan raja-raja Eropa atau Parsi kuno. Sebaliknya, di hadapannya terletak sebuah piring keramik yang dicat dengan warna biru kobalt dan putih, berkilau di bawah cahaya lilin. Inilah dia โ€” keramik Islam, yang lahir dari larangan hadis terhadap penggunaan wadah emas dan perak untuk makan dan minum. Larangan ini, yang bertujuan menghindari sifat sombong dan boros, secara tidak langsung telah melahirkan salah satu industri seni terhebat dalam sejarah manusia.

Sejak awal Islam pada tahun 622 Masehi, para pengikutnya bergerak cepat menaklukkan Parsi, Byzantium, Mesopotamia, Mesir, dan akhirnya Andalusia. Di setiap wilayah yang disentuh, mereka mewarisi tradisi keramik lokal โ€” dari teknik glas Parsi hingga bentuk Rom โ€” lalu menyerap, mengubah, dan memancarkannya kembali dengan sentuhan Islam yang unik. Dalam waktu beberapa abad, keramik Islam tidak hanya menghiasi istana dan masjid, tetapi juga menjadi komoditas dagangan yang paling diminati dari Tiongkok hingga Eropa.

Sebuah Kanvas Tanpa Gambar Makhluk Hidup


Salah satu ciri paling menonjol keramik Islam ialah penghindaran gambar makhluk hidup dalam konteks keagamaan. Hadis melarang lukisan makhluk bernyawa karena khawatir membawa kepada penyembahan berhala. Namun, larangan ini tidak menghentikan kreativitas; justru mencetuskan revolusi dalam desain geometri, arabes, dan kaligrafi. Pola-pola rumit, berulang tanpa henti, melambangkan kebesaran Tuhan yang tak terbatas.

Di Parsi, para pengrajin mengembangkan teknik sgraffito โ€” menggores lapisan tanah liat untuk menampakkan warna di bawahnya. Di Mesir, keramik Fustat (Kota Lama Kairo) menjadi pusat, dengan glas hijau dan kuning yang meniru keramik Tiongkok tetapi dengan motif Islam. Di Andalusia, di kota Malaga dan Valencia, lahir keramik hispano-moresque yang menggabungkan unsur Islam dengan tradisi setempat, menghasilkan piring dengan kilauan logam yang memukau.

Pertemuan Dua Dunia: Islam dan Tiongkok


Hubungan antara keramik Islam dan Tiongkok adalah kisah perdagangan, peniruan, dan inovasi. Sejak zaman Dinasti Tang (618โ€“907), pedagang Islam membawa pulang keramik Tiongkok โ€” terutama keramik putih dan biru โ€” yang sangat dihargai. Namun, Muslim tidak hanya meniru. Mereka mengadaptasi teknik glas dan hiasan untuk memenuhi selera setempat. Contohnya, motif naga Tiongkok diganti dengan kaligrafi ayat Al-Quran atau pola geometris.

Pada abad ke-9, di Samarra (Irak), para pengrajin meniru keramik putih Tiongkok dengan menggunakan tanah liat putih lokal dan glas timah. Namun, mereka menambah sentuhan sendiri: tulisan kufi yang indah di tepi piring. Piring-piring ini kemudian diekspor kembali ke Tiongkok, dijadikan hadiah kepada kaisar atau dijual di pelabuhan Canton. Ini adalah bukti bahwa keramik Islam bukan hanya penerima, tetapi juga pemberi pengaruh.

Kilauan Emas dari Timur Tengah


Salah satu pencapaian paling cemerlang keramik Islam ialah teknik lustreware โ€” glas yang menghasilkan kilauan logam seperti emas atau tembaga. Teknik ini mulai berkembang di Irak pada abad ke-9, kemudian menyebar ke Mesir, Suriah, Parsi, dan akhirnya Andalusia. Prosesnya sangat rumit: setelah dibakar, keramik dicat dengan campuran oksida logam, lalu dibakar kembali dalam tungku khusus dengan oksigen terbatas. Hasilnya, permukaan menjadi berkilauan seperti emas cair.

Di bawah pemerintahan Fatimiyah di Mesir (909โ€“1171), lustreware mencapai puncaknya. Piring-piring besar dengan gambar binatang dan manusia โ€” yang ketika itu mulai diperbolehkan dalam konteks non-religius โ€” menjadi kebanggaan istana. Seorang pengrajin terkenal, Abu Zayd al-Kashani dari Kashan (Parsi), meninggalkan tanda tangannya pada banyak karya, membuktikan betapa tingginya status seniman keramik dalam masyarakat Islam.

Dari Tanur ke Meja, dari Meja ke Museum


Keramik Islam bukan hanya untuk istana. Ia juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari: mangkuk untuk bubur, kendi untuk air, piring untuk nasi, dan cangkir untuk kopi. Di masjid, ubin keramik menghiasi dinding dan lantai, menciptakan ruang yang sejuk dan tenang. Di Andalusia, Istana Alhambra dihiasi dengan ubin alicatado yang dipotong tepat dan disusun dalam pola geometri yang memukau.

Warisan keramik Islam terus hidup. Di Iran, teknik minakari (enamel) masih dilakukan. Di Turki, keramik Iznik dari abad ke-16 masih ditiru hingga kini. Di Spanyol, keramik Talavera de la Reina jelas terpengaruh oleh tradisi Islam. Bahkan di Malaysia dan Indonesia, keramik tradisional seperti labu dan kendi memiliki akar dalam teknik dan desain yang dibawa oleh pedagang Islam dari Timur Tengah.

Tokoh-tokoh yang Menghidupkan Tanah Liat


Walaupun kebanyakan pengrajin keramik Islam tidak dikenal nama, beberapa nama tersimpan dalam sejarah. Abu Nasr al-Farabi (872โ€“950) menulis tentang teknik glas dan tungku dalam karyanya Kitab al-Musiqa al-Kabir. Al-Biruni (973โ€“1048) dalam Kitab al-Jamahir membahas komposisi tanah liat dan oksida logam. Di Parsi, keluarga pengrajin seperti keluarga Abu Tahir dari Kashan menghasilkan keramik lustre terbaik, dengan tanda tangan dan tanggal yang memungkinkan kita melacak perkembangan gaya selama beberapa generasi.

Di Andalusia, kota Malaga menjadi pusat keramik hispano-moresque pada abad ke-13 hingga ke-15. Pengrajin Islam dan Kristen bekerja sama, menghasilkan piring dengan kilauan emas yang menjadi favorit bangsawan Eropa. Salah satu karya terkenal ialah Piring Nasrid yang kini dipamerkan di Museum Victoria dan Albert di London.

Kesimpulan: Keramik yang Merentas Zaman


Dari larangan hadis yang sederhana, lahir sebuah tradisi seni yang mengubah dunia. Keramik Islam bukan sekadar peralatan; ia adalah bukti kemampuan peradaban Islam untuk menyerap, mengubah, dan memperkaya. Ia adalah jembatan antara Tiongkok dan Eropa, antara Parsi dan Afrika, antara ilmu dan keindahan. Hari ini, ketika kita memegang secangkir kopi di kafe Kuala Lumpur atau melihat ubin di masjid Istanbul, kita sebenarnya menyentuh warisan yang sudah berusia lebih dari seribu tahun. Keramik Islam mengingatkan kita bahwa keindahan bisa lahir dari pasir, api, dan iman.

---
Rujukan: Islamic pottery โ€” Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: