TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Di Hutan Amazon Selama 21 Hari: Kisah Yossi Ghinsberg yang Membuat Dunia Terpaku

Pada tahun 1981, seorang petualang Israel bernama Yossi Ghinsberg hilang di pedalaman hutan Amazon Bolivia tanpa persediaan dan peralatan yang memadai. Selama tiga minggu, dia menghadapi gigitan serangga beracun, lapar, dan halusinasi. Cerita ini diangkat dalam film 'Jungle' dan serial dokumenter 'I Shouldn't Be Alive'.

25 Jun 20264 minit baca2 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Yossi Ghinsberg
Di Hutan Amazon Selama 21 Hari: Kisah Yossi Ghinsberg yang Membuat Dunia Terpaku

Imej: Foto: Wikipedia — Yossi Ghinsberg (CC BY-SA 4.0)

Keputusan Maut di Sungai Tuichi

Di balik hutan Amazon yang lebat, Yossi Ghinsberg, seorang pemuda Israel berusia 22 tahun, berdiri di tebing Sungai Tuichi. Bersama tiga teman petualangnya – Kevin, Marcus, dan Karl – mereka telah merencanakan perjalanan selama berminggu-minggu, tetapi kini kesabaran semakin menipis. Pada suatu pagi yang panas dan lembap, Yossi mengambil keputusan drastis: berpisah dari kelompoknya. "Kita berpecah di sini," katanya lantang, matanya tajam memandang teman-temannya yang terkejut. "Saya akan menyusuri sungai sendirian. Jumpa lagi di Rurrenabaque." Kevin dan Mark menggeleng, tetapi Karl setuju. Namun, sejam kemudian, Karl enggan meneruskan perjalanan dan kembali ke arah asal. Kini Yossi benar-benar sendirian.

Halusinasi dan Keputusasaan

Hari pertama berlalu dengan cepat. Yossi mendayung rakit buatannya yang ringkas, mengharungi arus deras. Namun, hari kedua membawa malapetaka: rakitnya hancur di jeram berbatu. Dia terpaksa mendarat di tebing, lelah dan letih. Tanpa peralatan yang memadai – hanya pisau lipat, korek api, dan botol air kosong – dia mulai mencari jalan di dalam hutan. "Saya tidak akan mati di sini," bisiknya, namun suara itu semakin samar. Gigitan nyamuk dan lalat membengkakkan kulitnya, sedangkan demam dan diare menggodanya. Pada hari ketujuh, halusinasi mulai muncul: dia melihat wajah ibunya di celah dedaun, mendengar suara lagu-lagu masa kecil. "Mungkin ini sudah akhirnya," pikirnya, sambil merangkak mencari air.

Pertemuan dengan Suku Asli dan Harapan Pupus

Pada hari kesepuluh, Yossi mendengar bunyi percikan air. Terkejut, dia melihat sekumpulan lelaki suku asli di tebing sungai. Mereka memperhatikannya dengan curiga. Yossi mencoba berbicara dalam bahasa Spanyol yang patah-patah, tetapi mereka hanya menggeleng. Salah satu dari mereka memberinya sekeping ubi kayu mentah. Yossi menerimanya dengan tangan gemetar. Namun, keesokan harinya, mereka sudah hilang tanpa jejak. "Mereka tidak ingin membantu," rintihnya, air mata mulai mengalir. Kini, dia benar-benar hancur. Namun semangat untuk terus hidup menyala kembali: dia mulai memakan buah-buahan liar dan serangga, mencari tempat teduh di bawah pohon. Setiap hari adalah perjuangan antara hidup dan mati.

Jeritan di Tengah Hutan

Pada hari ke-16, Yossi mendengar bunyi helikopter di kejauhan. Hatinya berdebar kencang. Dia berlari ke arah bunyi itu, menjerit sekuat hati. "Bantu! Bantu! Saya di sini!" Suaranya serak tetapi penuh harapan. Namun, helikopter itu terbang menjauh, tidak menyadari kehadirannya. Yossi rebah ke tanah, menumbuk lantai hutan yang basah. "Mengapa? Mengapa mereka tidak melihat saya?" tangisnya. Namun, dia masih tidak mau menyerah. Pada hari ke-18, dia menemukan sebuah gua kecil dan bersembunyi di dalamnya, mengumpulkan tenaga. Dia mulai berbicara pada dirinya sendiri, mengulang nama keluarganya seperti mantra untuk tetap waras.

Penyelamatan yang Mustahil

Pada hari ke-21, Yossi yang hampir tidak berdaya mendengar bunyi mesin perahu. Matanya terbuka lebar. Dia merangkak keluar dari gua dan melihat sebuah perahu kecil dengan tiga orang lelaki di atasnya. "Bantu!" teriaknya dengan sisa tenaga. Mereka terkejut melihat lelaki kurus kering dengan luka di sekujur tubuh. "Kami sedang mencari Anda," kata salah satu dari mereka, "Teman Anda Kevin dan Karl berhasil keluar dan menghubungi pihak berwenang." Yossi menangis teresak-esak. Dia dibawa ke rumah sakit Rurrenabaque, di mana dokter menemukan bahwa dia telah kehilangan 20 kilogram dan mengalami malnutrisi parah. Namun, dia masih hidup.

Pelajaran dari Hutan

Cerita Yossi Ghinsberg menjadi simbol ketahanan manusia. Setelah diselamatkan, dia menulis buku "Jungle" dan menjadi pembicara motivasi. "Hutan mengajarkan saya arti kesabaran dan kepercayaan pada diri sendiri," katanya dalam wawancara. "Setiap hari adalah pilihan: apakah ingin terus berjuang atau menyerah." Film "Jungle" yang dibintangi Daniel Radcliffe merekam momen-momen menegangkan ini. Bagi mereka yang meragukan kemampuan manusia, cerita Yossi adalah bukti bahwa keinginan untuk hidup, meskipun dalam kondisi paling mustahil sekalipun, bisa membawa cahaya di ujung kegelapan.

Epilog

Kini, Yossi tinggal di Byron Bay, Australia, bersama keluarga. Dia sering berbagi pengalamannya di konferensi internasional, mengingatkan kita bahwa batas manusia hanya ada di pikiran. "Jika saya bisa bertahan di Amazon selama tiga minggu, Anda juga bisa mengatasi tantangan hidup Anda," katanya, senyum kecil menghiasi wajahnya. Namun, di balik senyum itu, terbayang hutan lebat, sungai deras, dan bisikan kematian yang selalu mengintai.

*Referensi: [Yossi Ghinsberg — Wikipedia](https://en.wikipedia.org/wiki/Yossi_Ghinsberg)*

Tersedia dalam: