TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Dia Mulai Kehilangan Ingatan Pada Usia 10 Tahun — Hidup 60 Tahun Lagi Dengan Penyakit Paling Misteri

Sindrom Flynn–Aird adalah penyakit saraf turunan yang sangat langka, mulai menyerang pasien sejak usia 7 tahun. Meskipun pasien kehilangan ingatan, atrofi otot, dan mengalami berbagai gangguan indera, umur mereka tidak terganggu. Bagaimana seorang remaja bisa hidup dengan gejala yang semakin parah selama beberapa dekade?

28 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Flynn–Aird syndrome
Dia Mulai Kehilangan Ingatan Pada Usia 10 Tahun — Hidup 60 Tahun Lagi Dengan Penyakit Paling Misteri
Imej: Foto: Wikipedia — Flynn–Aird syndrome (CC BY-SA 4.0)
AI

Ketika Si Kecil Mulai Lupa Jalan Pulang

Pada usia 10 tahun, Ahmad sering tersesat dalam perjalanan pulang dari sekolah. Ibunya mengira ini hanya kelelahan, tetapi dalam waktu setahun, Ahmad tidak lagi dapat mengingat wajah gurunya. Dokter di klinik kecil desa mendiagnosisnya sebagai 'lemah saraf', tetapi ahli neurologi di ibu kota menggelengkan kepala. Mereka menemukan satu nama asing dalam buku kedokteran: sindrom Flynn–Aird.

Penyakit ini bukan sekadar lupa biasa. Ia adalah pertempuran diam antara gen dan waktu. Ahmad lahir dengan mutasi genetik dominan autosomal — satu salinan gen rusak dari salah satu orang tua sudah cukup untuk memicu malapetaka. Namun, ibunya sehat, ayahnya tidak memiliki riwayat. Misteri ini menghantui keluarga Ahmad bertahun-tahun lamanya.

Sindrom Flynn–Aird pertama kali ditemukan pada tahun 1915 oleh dua dokter yang menyadari pola luar biasa dalam sekelompok pasien di Irlandia. Semua pasien mulai menunjukkan gejala antara usia 10 hingga 20 tahun — sama seperti Ahmad. Yang membedakan penyakit ini dari sindrom lain seperti Werner atau Cockayne adalah bahwa penyakit ini tidak memperpendek usia harapan hidup. Seorang pasien bisa hidup hingga usia 80 tahun, tetapi dalam kondisi fisik dan mental yang semakin menurun.

Tubuh yang Menua Sebelum Waktunya


Gejala awal yang paling jelas adalah atrofi otot — otot-otot di tangan dan kaki mulai menyusut. Ahmad kehilangan kemampuan menulis rapi pada usia 13 tahun. Kakinya sering tersandung batu kecil. Ahli fisioterapi menyebutnya 'sarkopenia dini' — kondisi biasa pada lansia, kini menimpa remaja.

Kulit Ahmad mulai menipis seperti kertas. Luka kecil tidak sembuh, meninggalkan bekas putih. Ini bukan sekadar penuaan kulit biasa; itu adalah atrofi kulit akibat kegagalan sistem saraf mengontrol regenerasi sel. 'Seperti tubuh yang mulai menyerah,' kata dokter.

Pada usia 16 tahun, Ahmad mulai mengalami retinitis pigmentosa — degenerasi retina yang menyebabkan buta malam dan penglihatan sempit. Dia tidak lagi bisa melihat bintang di langit. Miopia (rabun jauh) juga menyerang, memaksa dia memakai kacamata tebal yang membuatnya tampak seperti seorang profesor tua.

Penderitaan yang Sunyi


Dari luar, Ahmad tampak normal. Tapi di dalam, sistem sarafnya sedang berperang. Neuropati perifer menyebabkan rasa mati dan nyeri seperti ditusuk jarum di ujung jari. Dia tidak bisa merasakan air panas — ibunya harus mengawasi suhu.

Gigi Ahmad mulai rapuh tanpa alasan jelas. Dokter gigi terkejut melihat banyak karies pada seorang remaja yang tidak pernah makan gula. Ini adalah efek samping langka sindrom ini — kegagalan sistem endokrin mengontrol mineral dalam air liur.

Pada usia 20 tahun, Ahmad sudah benar-benar tuli. Pendengarannya hilang secara perlahan tapi pasti. Dia berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat yang diciptakan sendiri bersama ibunya. Kesunyian ini memisahkan dia dari dunia.

Saat Ingatan Hanya Tinggal Kenangan


Ahmad memasuki fase demensia awal pada usia 25 tahun. Dia lupa nama adiknya, lupa jalan ke masjid, lupa bahwa dia suka memancing. Ibunya menjadi pengasuh penuh waktu. Namun, demensia Flynn–Aird berbeda dari Alzheimer — lebih lambat dan lembut. Kadang-kadang Ahmad tersenyum pada bayangan, mengingat sesuatu yang tidak bisa dibagikan.

Ataksia — kehilangan koordinasi — membuat setiap langkah seperti berjalan di atas tali. Ahmad sering jatuh, menyebabkan patah tulang yang lambat sembuh. X-ray menunjukkan kista pada tulang — kista tulang yang menggerogoti kekuatan rangka dari dalam. Dokter ortopedi menyebutnya 'perubahan tulang kistik' — misteri lain dari sindrom ini.

Kehidupan yang Tetap Berjalan


Pada usia 60 tahun, Ahmad masih hidup. Tubuhnya lemah, pikirannya kabur, tetapi jantungnya kuat. Inilah ironi sindrom Flynn–Aird: ia tidak membunuh, hanya menyiksa. Ahmad menghabiskan hari di rumah penjagaan, dikelilingi foto-foto lama. Kadang-kadang, ketika angin sore bertiup, dia tersenyum — seolah-olah mengingat sesuatu yang indah.

Para ilmuwan masih mencari penyebab sebenarnya. Gen yang terlibat belum diketahui. Tidak ada pengobatan yang bisa menyembuhkan. Hanya perawatan pendukung: fisioterapi, alat bantu dengar, kacamata khusus, dan kasih sayang tanpa syarat.

Sindrom Flynn–Aird mengajarkan kita bahwa ada penyakit yang lebih kejam daripada kematian — yang menghapus identitas secara perlahan, meninggalkan tubuh kosong yang masih bernyawa. Namun, dalam setiap lapisan kesedihan, ada ketabahan. Ahmad, dan ribuan pasien lain, terus hidup, membuktikan bahwa kehidupan bukan hanya ingatan, tetapi detak jantung.

---
Rujukan: Flynn–Aird syndrome — Wikipedia

Tersedia dalam: