TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Evergrande Jatuh, Ekonomi Tiongkok Guncang: Siapa yang Paling Terkena Dampak?

Krisis properti Tiongkok yang dimulai dengan jatuhnya Evergrande pada 2021 telah mengguncang pasar global. Dengan utang mencapai triliun ringgit, lebih dari 70 pengembang besar lainnya juga terlibat, merusak investor, bank, dan pekerja. Artikel ini membahas akar penyebab, dampak, dan masa depan ekonomi Tiongkok yang gelap.

26 Jun 20264 minit baca17,529 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Chinese property sector crisis (2020–present)
Evergrande Jatuh, Ekonomi Tiongkok Guncang: Siapa yang Paling Terkena Dampak?
Imej: Foto: Wikipedia — Chinese property sector crisis (2020–present) (CC BY-SA 4.0)
AI

Kekuasaan Raksasa: Evergrande dan Awal Bencana Properti Tiongkok

Bayangkan sebuah perusahaan yang lebih besar dari Goldman Sachs, dengan utang lebih dari RM4,5 triliun, tiba-tiba mengakui kebangkrutan. Itulah Evergrande, pengembang properti terbesar Tiongkok yang sebelumnya menjadi simbol kesuksesan ekonomi negara komunis itu. Pada Agustus 2021, surat Evergrande kepada pemerintah Guangdong bocor di WeChat, memprediksi krisis kas yang hebat. Sahamnya turun 86% dalam seminggu, dan dunia mulai menyadari: Tiongkok sedang menghadapi krisis properti terburuk dalam sejarah modern.

Krisis ini bukan hanya tentang satu perusahaan. Ini adalah bom waktu yang ditanam selama beberapa dekade. Sejak tahun 1990-an, sektor properti Tiongkok berkembang seperti jamur setelah hujan, didanai oleh utang murah dan spekulasi liar. Pada 2020, lebih dari 70% kekayaan rumah tangga Tiongkok terikat pada properti. Pemerintah Beijing, khawatir akan gelembung ini, meluncurkan 'Three Red Lines' pada Agustus 2020—aturan baru yang membatasi rasio utang pengembang. Tujuannya baik, tetapi pelaksanaannya seperti memotong pasokan oksigen bagi pasien yang sudah kritis.

Bagaimana Evergrande Menyeret Ekonomi Global


Ketika Evergrande gagal membayar obligasinya pada Desember 2021, itu memicu efek domino yang menakutkan. Lembaga penilaian Fitch mengumumkan 'restricted default'—istilah teknis untuk 'perusahaan ini mati, tapi kami belum mengaku'. Namun, dampaknya lebih luas: bank-bank Tiongkok yang memiliki pinjaman Evergrande—termasuk ICBC dan China Construction Bank—mulai goyah. Investor asing kabur, dengan aliran keluar modal mencapai $100 miliar pada 2022. Pasar saham Hong Kong turun 20%, merusak dana pensiun dan investor ritel dari Kuala Lumpur hingga London.

Namun, yang paling tragis adalah rakyat biasa. Ribuan pembeli rumah yang sudah membayar uang muka penuh untuk proyek Evergrande menemukan rumah mereka tidak pernah selesai. Di kota-kota seperti Shenzhen dan Guangzhou, protes kecil terjadi ketika pekerja kontraktor tidak dibayar gaji berbulan-bulan. Bahkan, mantan CEO Evergrande, Hui Ka Yan, dilaporkan dipanggil polisi pada 2023 untuk diperiksa—tanda bahwa pemerintah mulai mengambil tindakan tegas.

Lebih dari Evergrande: Krisis Menyebar ke Pengembang Lain


Evergrande hanyalah permulaan. Menjelang 2022, Country Garden—pengembang terbesar Tiongkok—juga mulai mengalami tekanan. Kaisa Group dan Sunac China gagal membayar obligasinya. Modern Land dan Sinic Holdings mengikuti jejak yang sama. Lebih dari 70 pengembang properti utama kini berada dalam daftar hitam. Menurut data Bloomberg, jumlah utang sektor properti Tiongkok melebihi $5 triliun—lebih besar daripada utang pemerintah Jepang.

Apa yang menyebabkan penyebaran ini? Jawabannya sederhana: ketergantungan berlebihan pada utang pendek (short-term debt). Pengembang seperti Country Garden menggunakan pinjaman jangka pendek untuk membiayai proyek jangka panjang. Ketika bank mulai mempersempit kredit setelah 'Three Red Lines', mereka tidak bisa membayar kembali. Yang lebih buruk lagi, penjualan rumah merosot. Pada 2022, penjualan properti Tiongkok turun 46% dibandingkan tahun sebelumnya—penurunan terbesar dalam catatan.

Dampak Makro: Pertumbuhan Terpuruk dan Inflasi Senyap


Krisis properti tidak hanya merusak pengembang, tetapi seluruh ekonomi Tiongkok. Sektor properti menyumbang 25% dari PDB Tiongkok, termasuk industri terkait seperti semen, baja, dan furnitur. Ketika proyek terbengkalai, pabrik-pabrik ditutup, dan pengangguran meningkat. Tingkat pengangguran pemuda mencapai 20% pada 2023—angka yang tidak pernah terjadi sejak reformasi ekonomi 1978.

Namun, yang lebih halus adalah inflasi senyap. Meskipun data resmi menunjukkan inflasi sekitar 2%, harga barang seperti makanan dan energi melonjak. Ini karena pemerintah mencetak uang untuk menyelamatkan bank-bank yang terganggu, menyebabkan nilai yuan merosot. Impor dari Malaysia, seperti minyak sawit dan elektronik, menjadi lebih mahal—memberi tekanan pada ekonomi Malaysia yang bergantung pada perdagangan dengan Tiongkok.

Tindakan Pemerintah: Antara Penyelamatan dan Risiko Moral


Pemerintah Tiongkok tidak diam. Sejak 2022, ia meluncurkan beberapa inisiatif: pertama, menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman; kedua, melonggarkan syarat pembelian rumah di kota-kota besar; ketiga, menyuntik dana ke bank-bank milik negara. Namun, pendekatan ini kontroversial. Kritik utama adalah risiko moral (moral hazard): jika pemerintah menyelamatkan pengembang gagal, itu akan mendorong spekulasi di masa depan.

Pada 2023, Beijing mengumumkan kebijakan 'Three New'—fokus pada perumahan terjangkau, infrastruktur kota, dan energi hijau. Tujuannya untuk mengalihkan sumber dari properti ke sektor baru. Namun, peralihan ini lambat. Bahkan, data terbaru menunjukkan bahwa sektor properti masih menyusut 8% pada 2024, dibandingkan harapan pemerintah untuk pemulihan.

Masa Depan: Dari Krisis ke Peluang?


Apakah krisis ini akan berakhir? Jawabannya tergantung pada kemampuan Tiongkok untuk melakukan reformasi struktural. Pertama, ia perlu mengurangi ketergantungan pada utang. Kedua, ia perlu memperbaiki sistem pengawasan untuk mencegah penyimpangan seperti Evergrande. Ketiga, ia perlu meningkatkan permintaan domestik—bukan hanya melalui properti, tetapi melalui layanan dan teknologi.

Bagi investor global, krisis ini mengingatkan kita bahwa tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk gagal. Evergrande mungkin adalah Lehman Brothers versi Tiongkok—tetapi implikasinya lebih luas karena sifat ekonomi Tiongkok yang terintegrasi dengan dunia. Untuk Malaysia, pelajaran penting adalah: jangan terlalu bergantung pada satu sektor atau satu negara. Diversifikasi ekonomi adalah kunci.

Akhirnya, krisis ini adalah cermin kelemahan sistem kapitalisme Tiongkok yang dikendalikan ketat. Ia menunjukkan bahwa meskipun pemerintah memiliki kekuasaan mutlak, pasar tetap akan menghukum kesalahan. Mungkin, seperti kata pepatah Tiongkok, 'Bencana adalah peluang dalam penyamaran'—tetapi hanya jika kita belajar dari kesalahan.

---
Rujukan: Chinese property sector crisis (2020–present) — Wikipedia)

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: