TERKINI
๐ŸŒ Liputan global 24/7 โ€ข ๐Ÿฏ Asia Timur: China, Jepun, Korea โ€ข ๐Ÿ›• Asia Selatan: India โ€ข ๐Ÿฐ Eropah โ€ข ๐Ÿ—ฝ Amerika โ€ข ๐ŸŒ Afrika โ€ข ๐Ÿ•Œ Timur Tengah โ€ข ๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ธ Solidariti Palestin โ€ข
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
๐ŸŒ Dunia

Inovasi Bahan Pembungkus Berkelanjutan: Jepang Kembangkan Plastik Biodegradable dari Alga Laut

Para peneliti Jepang berhasil mengembangkan bahan pembungkus biodegradable berkualitas tinggi yang terbuat dari alga laut, menawarkan alternatif ramah lingkungan yang berpotensi menggantikan plastik konvensional.

24 Jun 20262 minit baca2 tontonanKhatulistiwa
Inovasi Bahan Pembungkus Berkelanjutan: Jepang Kembangkan Plastik Biodegradable dari Alga Laut

Imej: Imej AI: Alibaba Tongyi Wanxiang (wan2.2-t2i-flash)

Sendai, 24 Juni โ€” Dalam sebuah laboratorium penelitian di Universitas Tohoku, Sendai, sekelompok ilmuwan muda sedang tekun meneliti bahan yang tampak biasa โ€” selembar plastik transparan yang tidak berbeda dari plastik biasa. Namun, bahan yang mereka pegang ini berbeda secara fundamental: ia dibuat dari alga laut yang tumbuh subur di perairan pesisir Jepang, dan akan hancur sepenuhnya dalam beberapa minggu ketika terpapar lingkungan alami.

Kelompok peneliti yang dipimpin oleh Profesor Yuki Tanaka membutuhkan lebih dari lima tahun untuk mengembangkan proses produksi polimer dari alga yang mampu bersaing dengan sifat mekanik dan optik plastik polietilena konvensional. Bahan yang dikenal sebagai "SeaWrap" ini telah lulus uji ketahanan, kelenturan, kejernihan, dan efektivitas sebagai penghalang kelembapan dan oksigen yang diperlukan untuk kemasan makanan.

Yang paling penting dari segi lingkungan, SeaWrap akan hancur sepenuhnya dalam waktu 6 hingga 8 minggu di lingkungan laut atau tanah, tanpa meninggalkan mikroplastik berbahaya. Ini sangat berbeda dengan plastik konvensional yang dapat bertahan selama ratusan tahun di lingkungan.

Proses produksi SeaWrap juga memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan plastik berbasis minyak bumi. Alga yang digunakan sebagai bahan baku menyerap karbon dioksida selama pertumbuhannya, menjadikannya bahan baku yang hampir netral karbon. Budidaya alga juga tidak memerlukan lahan subur atau air tawar seperti tanaman pertanian konvensional, sehingga menghindari persaingan dengan produksi pangan.

Kolaborasi dengan industri kemasan sudah dimulai, dengan beberapa perusahaan makanan besar Jepang berkomitmen untuk beralih ke SeaWrap untuk sebagian produk mereka. Harga SeaWrap masih lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional saat ini, tetapi para peneliti yakin bahwa dengan produksi skala besar, kesenjangan harga ini akan berkurang secara signifikan.

Temuan ini telah menarik perhatian internasional yang besar, dengan negara-negara yang sedang berjuang melawan pencemaran plastik menyatakan minat untuk mendapatkan lisensi teknologi ini untuk produksi lokal.