Tokyo, 24 Juni โ Jepang, negara dengan populasi tertua di dunia, mengumumkan program peluncuran robot penjaga lansia generasi terbaru yang akan digunakan secara luas di rumah perawatan lansia dan kediaman pribadi di seluruh negara. Program yang didukung oleh pemerintah pusat dengan anggaran 500 miliar yen ini merupakan respons terhadap tantangan demografis yang paling mendesak yang dihadapi Jepang.
Dengan lebih dari 30 persen dari 125 juta penduduk Jepang sudah berusia 65 tahun ke atas, dan tingkat kelahiran yang terus menurun, Jepang menghadapi kekurangan tenaga kerja yang sangat serius dalam sektor perawatan lansia. Diperkirakan bahwa menjelang 2040, Jepang akan kekurangan lebih dari 600.000 pekerja perawat, menjadikan solusi teknologi bukan sekadar pilihan tetapi kebutuhan mendesak.
Robot penjaga generasi terbaru ini, yang dikembangkan oleh konsorsium perusahaan-perusahaan Jepang terkemuka termasuk TOYOTA, Softbank Robotics, dan beberapa startup teknologi, jauh lebih canggih daripada generasi sebelumnya. Ia mampu melakukan tugas-tugas fisik seperti membantu pasien bangun dari tempat tidur dan berjalan, mengangkat dan memindahkan benda-benda berat, serta memantau tanda-tanda vital pengguna secara terus-menerus melalui sensor-sensor yang terintegrasi dalam pakaian robot.
Di luar fungsi fisik, robot-robot ini juga mampu memberikan teman bicara kepada lansia yang sering merasa kesepian. Melalui sistem AI percakapan yang sangat canggih dan mampu berbicara bahasa Jepang dengan lancar termasuk dialek-dialek lokal, robot ini bisa berbincang panjang lebar, menceritakan kenangan lama berdasarkan profil pengguna yang telah diprogram, dan bahkan bermain permainan kata-kata dan teka-teki bersama.
Uji coba klinis yang dilakukan di 50 rumah lansia di Tokyo, Osaka, dan Nagoya menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Lansia yang menggunakan robot ini menunjukkan penurunan signifikan dalam gejala depresi dan isolasi sosial, dan keluarga mereka melaporkan peningkatan nyata dalam kualitas perawatan yang diterima.
Program ini juga bertujuan untuk mengekspor teknologi robot penjaga ini ke negara-negara lain yang menghadapi masalah demografis serupa, menjadikan inovasi ini bukan hanya solusi bagi masalah domestik Jepang tetapi juga peluang bisnis global bernilai triliun yen.
