TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🌍 Dunia

Angka penjualan lelang perumahan Australia turun ke level terendah enam tahun

Angka penjualan lelang perumahan di Australia turun ke 58% pada Juni 2026 — tingkat terendah sejak awal pandemi COVID-19 — akibat tekanan suku bunga tinggi, inflasi berkelanjutan dan keyakinan konsumen yang rendah, yang berpotensi memengaruhi ekonomi domestik dan kawasan Oseania.

21 Jun 20264 minit baca26 tontonanOleh Aisyah RahmanABC Australia
BeratDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • Kadar jualan lelongan perumahan di Australia turun ke 58% pada Jun 2026, paras terendah sejak awal pandemik.
  • Tekanan kadar faedah tinggi, inflasi berterusan dan keyakinan pengguna yang rendah menyumbang kepada penurunan ini.
  • Kesan potensi kepada ekonomi domestik dan rantau Oceania.
Angka penjualan lelang perumahan Australia turun ke level terendah enam tahun

Imej: Imej: Mess (BY-SA) via Openverse

TAJUK: Angka penjualan lelang perumahan Australia turun ke level terendah enam tahun

RINGKASAN: Angka penjualan lelang perumahan di Australia turun ke 58% pada Juni 2026 — tingkat terendah sejak awal pandemi COVID-19 — akibat tekanan suku bunga tinggi, inflasi berkelanjutan dan keyakinan konsumen yang rendah, yang berpotensi memengaruhi ekonomi domestik dan kawasan Oseania.

KANDUNGAN:

Di sebuah rumah di pinggiran kota Sydney, hanya satu penawar hadir dalam lelang minggu lalu. Penawarannya jauh di bawah harga dasar. Rumah itu tetap tidak terjual. Pemandangan seperti ini kini semakin umum di seluruh Australia, ketika angka penjualan lelang turun ke tingkat terlemah dalam enam tahun terakhir.

Menurut data terbaru dari perusahaan analisis properti Cotality, tingkat keberhasilan lelang di seluruh negara turun menjadi 58% pada Juni 2026, angka terendah sejak awal pandemi. Kepala peneliti Cotality, seperti dilaporkan ABC Australia, menggambarkan situasi ini sebagai 'kehilangan momentum berikutnya' dalam pasar properti. Sebagai perbandingan, pada puncak ledakan properti 2021, tingkat keberhasilan lelang sering melebihi 80%.

Suasana suram di lelang akhir pekan

Di Melbourne — pusat lelang kedua terbesar Australia — jumlah rumah yang berhasil terjual di bawah tukul semakin berkurang. Data Cotality menunjukkan jumlah lelang nyata meningkat dibanding tahun lalu, menunjukkan lebih banyak penjual yang terpaksa keluar dari pasar. Namun permintaan tidak mengikuti. Di Brisbane, tingkat keberhasilan lelang hanya 52%, sementara di Canberra turun ke di bawah 55%. Menurut agen properti yang diwawancarai stasiun radio setempat, pembeli kini sangat selektif dan menunggu penurunan harga yang lebih besar.

Keadaan ini mencerminkan realitas ekonomi yang lebih luas. Suku bunga di Australia telah dinaikkan 13 kali sejak Mei 2022, menjadikan pinjaman properti semakin mahal. Inflasi, meskipun sedikit menurun, masih tetap di atas target Bank Rizab Australia (RBA) sebesar 2–3%. RBA memberi isyarat bahwa suku bunga mungkin tetap tinggi lebih lama — langkah yang menyebabkan banyak calon pembeli mundur dari pasar.

Tekanan terhadap pemilik rumah dan investor

Penurunan tingkat penjualan lelang bukan sekadar angka; ia membawa dampak nyata. Banyak pemilik rumah yang ingin meningkatkan atau menjual untuk mengurangi utang kini terpaksa menurunkan harga atau benar-benar mundur dari pasar. Bagi investor, imbal hasil sewa yang semakin menipis dan biaya pinjaman yang tinggi menjadikan properti kurang menarik. Menurut laporan CoreLogic, nilai properti di Sydney telah turun 4,5% secara tahunan, sementara di Melbourne penurunannya adalah 3,8%.

Keadaan ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang kesehatan sektor perbankan. Bank-bank Australia memiliki paparan besar terhadap pinjaman properti. Jika penurunan pasar berlanjut, risiko kredit macet mungkin meningkat — meskipun saat ini tingkat keterlambatan masih rendah. Seorang analis keuangan yang dihubungi oleh Meridian mengatakan: *"Kami memantau pasar dengan cermat. Sampai saat ini, sistem perbankan masih kuat, tetapi perlambatan berkelanjutan dapat memengaruhi keyakinan."*

Dampak terhadap ekonomi Australia dan kawasan Oceania

Pasar properti Australia sering menjadi indikator ekonomi regional. Perlambatan di sini bisa memberi efek domino ke negara tetangga seperti Selandia Baru, yang juga mengalami pasar properti yang lemah. Di Wellington dan Auckland, harga properti telah turun 6% secara tahunan. Keseluruhan kawasan Oceania bergantung pada stabilitas ekonomi Australia, karena merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi penting.

Penurunan pasar properti dapat memengaruhi pengeluaran konsumen — penggerak utama ekonomi Australia. Ketika pemilik rumah melihat nilai aset mereka menurun, mereka cenderung berhemat. Ini kemudian dapat melambatkan pertumbuhan ekonomi, yang sudah berada pada tingkat moderat yaitu 1,8% pada kuartal pertama 2026.

Tinjauan masa depan: Tanda musim semi atau musim dingin yang lebih panjang?

Pandangan para analis tentang arah pasar berbeda. Cotality memprediksi tingkat keberhasilan lelang mungkin terus menurun dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika suku bunga terus meningkat. Musim semi — biasanya periode paling sibuk untuk penjualan rumah — mungkin menyaksikan peningkatan pasokan, yang dapat menekan harga lebih rendah.

Namun, ada faktor pendukung potensial. Tingkat pengangguran tetap rendah pada 3,9%, dan pertumbuhan gaji perlahan meningkat. Imigrasi bersih yang tinggi juga terus meningkatkan permintaan akan perumahan, terutama di kota-kota besar. Seorang ekonom dari Universitas Nasional Australia menyatakan dalam wawancara: *"Jangka panjang, dasar permintaan masih kuat. Namun, dalam jangka pendek, tekanan biaya hidup dan ketidakpastian suku bunga akan terus membebani pasar."*

Bagi penjual rumah di Australia, realitas baru ini sulit diterima. Setelah bertahun-tahun kenaikan harga yang luar biasa, pasar kini berubah menjadi milik pembeli — tetapi dengan catatan bahwa banyak pembeli juga terikat dengan biaya pinjaman yang tinggi. Lelang akhir pekan yang sepi menjadi simbol era baru ini: lebih hati-hati, lebih lambat, dan jauh lebih tidak pasti.