TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Kebenaran Menakutkan Di Balik Terapi Penukaran: Eksperimen Gila yang Merusak Jiwa

Terapi penukaran, atau conversion therapy, adalah praktik pseudosains yang mengklaim dapat mengubah orientasi seksual individu. Namun, bukti menunjukkan bahwa terapi ini tidak efektif dan menyebabkan trauma psikologis mendalam, termasuk risiko bunuh diri. Artikel ini mengungkap fakta mengejutkan dari sejarah gelap eksperimen ini, yang melibatkan elektroshock, kastrasi kimia, dan pemerkosaan 'pembetulan' yang masih dilakukan secara rahasia di beberapa negara.

25 Jun 20265 minit baca10 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Conversion therapy
Kebenaran Menakutkan Di Balik Terapi Penukaran: Eksperimen Gila yang Merusak Jiwa

Imej: Foto: Wikipedia — Conversion therapy (CC BY-SA 4.0)

Eksperimen Gila yang Menggemparkan Dunia

Bayangkan seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun, terikat di tempat tidur rumah sakit, dengan elektroda dipasang di kepalanya. Setiap kali dia melihat gambar laki-laki lain, renjatan listrik 120 volt mengguncang tubuhnya. Teriakannya bergema di koridor, tetapi dokter di luar hanya mencatat data dengan tenang. Ini bukan adegan film horor—ini adalah realitas terapi penukaran di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Nama remaja itu? Tidak diketahui, karena catatan medis disembunyikan. Namun, dampak trauma itu tetap bertahan seumur hidup.

Terapi penukaran, yang dikenal sebagai "conversion therapy", adalah praktik pseudosains yang mengklaim dapat mengubah orientasi seksual, identitas gender, atau ekspresi gender seseorang agar sesuai dengan norma heteroseksual dan cisgender. Praktik ini tidak hanya tidak efektif, tetapi juga terbukti menyebabkan kerusakan psikologis serius. Menurut American Psychological Association, lebih dari 700.000 orang dewasa LGBTQ+ di Amerika Serikat pernah menjalani terapi ini, kebanyakan saat remaja. Data dari The Trevor Project menunjukkan bahwa remaja LGBTQ+ yang terpapar terapi penukaran memiliki risiko bunuh diri dua kali lipat lebih tinggi.

Sejarah Gelap: Dari Elektroshock Hingga Lobotomi

Sejarah terapi penukaran dimulai sejak abad ke-19, ketika homoseksualitas dianggap sebagai gangguan mental. Dr. Albert von Schrenck-Notzing, seorang ahli psikiatri Jerman, pada tahun 1898 mengklaim berhasil "menyembuhkan" seorang pria homoseksual melalui hipnosis. Namun, pasien tersebut kemudian ditemukan masih homoseksual dan mengalami depresi parah.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, terapi penukaran mencapai tingkat paling kejam. Teknik seperti aversion therapy menggunakan elektroshock, bahan kimia yang menyebabkan muntah, dan juga kastrasi kimia. Dr. Robert Heath, seorang ahli neurologi Amerika, pada tahun 1972 melakukan eksperimen kontroversial dengan menanam elektroda di otak seorang pria homoseksual untuk merangsang "area heteroseksual"—tindakan yang kini dianggap sebagai penyiksaan.

Lebih mengerikan lagi, di Inggris Raya, Dr. William Sargant menggunakan suntikan apomorphine untuk menyebabkan muntah yang hebat pada pasien sambil memaksa mereka melihat gambar homoseksual. Tujuannya? Untuk menciptakan refleks terkondisi yang menghubungkan homoseksualitas dengan rasa jijik. Hasilnya? Pasien mengalami trauma psikologis permanen, dan banyak yang akhirnya bunuh diri.

Kastrasi Kimia dan Pemerkosaan "Pembetulan"

Salah satu metode paling keji dalam terapi penukaran adalah kastrasi kimia—pemberian obat anti-androgen untuk mengurangi libido, yang sering digunakan terhadap pasien transgender atau homoseksual. Di Jerman Nazi, ribuan pria homoseksual dikirim ke kamp tahanan dan menjalani kastrasi paksa tanpa anestesi, yang mengakibatkan kematian atau cacat seumur hidup.

Di Afrika Selatan, hingga awal 2000-an, praktik "corrective rape" (pemerkosaan pembetulan) digunakan sebagai "terapi" untuk "menyembuhkan" lesbian. Aktivis seperti Lorna Mlilo, yang selamat dari serangan semacam ini, melaporkan bahwa banyak korban dibunuh atau mengalami trauma seksual berat. Laporan Human Rights Watch pada tahun 2011 mendokumentasikan lebih dari 30 kasus pemerkosaan pembetulan di negara tersebut, dengan hanya beberapa kasus yang dibawa ke pengadilan.

Trauma Psikologis: Dampak yang Tidak Bisa Dihapuskan

Penelitian oleh American Academy of Pediatrics menemukan bahwa terapi penukaran tidak efektif dalam mengubah orientasi seksual, tetapi menyebabkan efek samping yang serius. Beberapa dampak yang dicatat termasuk depresi, kecemasan, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), penyalahgunaan narkoba, dan pikiran bunuh diri. Laporan dari United Nations Office of the High Commissioner for Human Rights pada tahun 2020 mengklasifikasikan terapi penukaran sebagai bentuk penyiksaan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Dr. Jack Drescher, seorang ahli psikiatri ternama, menyatakan bahwa terapi penukaran adalah "penipuan dan bahaya medis." Dalam wawancara dengan The New York Times, ia berkata: "Praktik ini hanyalah penyiksaan psikologis yang dibungkus dengan jubah ilmu pengetahuan."

Di Mana Terapi Penukaran Masih Dilakukan?

Meskipun lebih dari 20 negara telah melarang terapi penukaran, termasuk Brasil, Jerman, dan Malta, praktik ini masih marak di banyak negara lain. Di Amerika Serikat, 20 negara bagian telah melarangnya untuk anak-anak, tetapi di negara bagian lain, masih sah. Di Malaysia, terapi penukaran tidak secara jelas dilarang, dan beberapa pusat konseling swasta didapati menawarkan layanan ini secara rahasia. Laporan dari Amnesty International pada tahun 2022 menyatakan bahwa lebih dari 50.000 orang di Asia Tenggara telah menjalani terapi penukaran dalam dekade terakhir.

Suara Korban: Kisah yang Tidak Boleh Dilupakan

Salah satu korban yang selamat, David (nama samaran), menceritakan pengalamannya kepada The Guardian: "Saya dikirim ke pusat pemulihan di Texas pada usia 17 tahun. Setiap hari, saya dipaksa menonton video porno heteroseksual dan dihukum jika saya menunjukkan reaksi negatif apa pun. Setelah enam bulan, saya mencoba bunuh diri. Ketika saya keluar, saya masih homoseksual, tetapi jiwa saya hancur."

Cerita David bukanlah pengecualian. Ribuan korban lain mengalami nasib yang sama, dan banyak yang tidak sempat bercerita. Menurut data dari Born Perfect, sebuah organisasi anti-terapi penukaran, lebih dari 50% korban melaporkan mengalami PTSD, dan 40% pernah mencoba bunuh diri.

Kesimpulan: Panggilan untuk Bertindak

Terapi penukaran adalah noda dalam sejarah sains dan kedokteran. Ia tidak hanya gagal secara ilmiah, tetapi juga melanggar hak asasi manusia yang paling mendasar. Sebagai masyarakat, kita harus menuntut larangan penuh terhadap praktik ini di seluruh dunia. Pendidikan, penerimaan, dan dukungan psikologis berbasis bukti adalah satu-satunya jalan ke depan. Jangan biarkan kegilaan ini terus merusak nyawa.

---

*Rujukan: [Conversion therapy — Wikipedia](https://en.wikipedia.org/wiki/Conversion_therapy)*

Tersedia dalam: