TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🌍 Dunia

Keluarga Serbu Pusat Ebola di DRC, Bawa Pasien Keluar — Kepercayaan Hancur, Wabah Mengancam

Puluhan keluarga menyerbu pusat perawatan Ebola di timur Republik Demokratik Kongo pada 20 Juni 2026, memaksa petugas mundur dan membawa pasien keluar secara paksa. Insiden itu mengungkapkan retakan dalam kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan — dan meningkatkan risiko penyebaran wabah ke wilayah Timur Tengah melalui pergerakan pekerja, jemaah haji, serta jalur perdagangan.

20 Jun 20264 minit baca6 tontonanOleh Aisyah RahmanAl Jazeera
BeratDisemak silang 2 model · 62
Baca 30 saat
  • Puluhan keluarga menyerbu pusat rawatan Ebola di DRC
  • Keretakan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesihatan
  • Risiko penyebaran wabak ke Timur Tengah
Keluarga Serbu Pusat Ebola di DRC, Bawa Pasien Keluar — Kepercayaan Hancur, Wabah Mengancam

Imej: Imej: eutrophication&hypoxia (BY) via Openverse

Serbuan Di Saat Krisis

Pagi 20 Juni 2026, sekelompok keluarga pasien yang diduga terinfeksi Ebola menyerbu pagar pusat perawatan di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC). Mereka mengancam petugas, memecahkan pintu, dan membawa keluar beberapa orang — termasuk mereka yang sedang dalam pengawasan ketat. Kabar buruk tentang 'perawatan mencurigakan' dan keinginan untuk pulang ke rumah demi pengobatan tradisional memicu tindakan tersebut.

Pusat tersebut dikelola oleh organisasi internasional bersama Kementerian Kesehatan DRC. Ia beroperasi di tengah gelombang wabah baru yang sudah menyebar ke lima kota. Pihak berwenang setempat terpaksa memanggil militer — tindakan yang justru memperdalam curiga masyarakat terhadap campur tangan asing.

Risiko Tanpa Batas: Mengapa Timur Tengah Perlu Waspada

Jarak geografis tidak menjamin perlindungan. Negara-negara Teluk — Arab Saudi, UAE, Qatar — menerima ratusan ribu pekerja dari Afrika Timur dan Tengah setiap tahun. Mereka bekerja di pabrik, konstruksi, dan sektor domestik. Setiap kasus impor Ebola bisa muncul tanpa peringatan awal.

Arab Saudi juga menjadi tuan rumah bagi lebih dari tiga juta jemaah haji dan umrah setahun — termasuk dari negara-negara berisiko tinggi. Ebola tidak menular melalui udara, tetapi penularan melalui cairan tubuh tetap berbahaya dalam kelompok besar dan padat. Selama wabah 2014–2016 di Afrika Barat, bandara di Dubai dan Riyadh mengaktifkan pemeriksaan suhu dan survei ketat — mengganggu aliran wisatawan dan pekerja selama beberapa bulan.

Ekonomi GCC juga terkena dampak langsung. Investasi ke Afrika melambat. Kontrak perdagangan tertunda. Dan yang paling kritis: kepercayaan terhadap sistem kesehatan global semakin rusak. Serbuan ini bukan sekadar protes — itu adalah bukti nyata bahwa pendekatan top-down gagal bila masyarakat tidak dilibatkan.

Akar Masalah: Konflik, Kemiskinan, dan Kabar Buruk

DRC bukan hanya negara kaya mineral — ia juga medan konflik bertahun-tahun. Wilayah timur dikuasai oleh kelompok bersenjata, infrastruktur kesehatan hampir lumpuh, dan kepercayaan terhadap pemerintah serta NGO asing telah lama rusak oleh sejarah penjajahan dan janji yang tidak dipenuhi.

Kabar buruk menyebar lebih cepat daripada vaksin. Petugas kesehatan diserang. Pusat perawatan dibakar. Sejak 2018, setiap gelombang Ebola di DRC mengulangi skenario yang sama: ketidakpercayaan, serangan, dan kegagalan komunikasi risiko.

WHO dan Médecins Sans Frontières kini lebih banyak berunding dengan imam, tokoh adat, dan guru sekolah daripada hanya menyuntik vaksin. Alasannya jelas: banyak penduduk tidak percaya suntikan modern, tapi masih mendengarkan nasihat nenek atau dukun desa. Serbuan ini bukan tanda kebodohan — itu tanda keputusasaan.

Respons Tetangga & Dunia: Ketegangan di Perbatasan, Keterlambatan di Ruang Rapat

Uganda, Rwanda, dan Sudan Selatan meningkatkan pengawasan perbatasan. Uganda meluncurkan vaksinasi kilat di daerah perbatasan dan memasang pemindai suhu di pos pemeriksaan utama. Tapi perbatasan mereka panjang, berbukit, dan sering dilalui secara tidak resmi — membuat pengawasan seperti menutup lubang jarum dengan jari.

WHO mengklasifikasikan DRC sebagai zona risiko tinggi. Lebih 800 kasus dan 500 kematian dicatatkan dalam gelombang terbaru. Vaksin Ervebo efektif — tetapi cakupannya kurang dari 30% di daerah konflik. Serbuan pusat perawatan akan mempercepat penyebaran: pasien tidak dirawat, kontak tidak dilacak, dan virus terus menyebar.

Bagi Timur Tengah, respons proaktif bukan pilihan — itu kebutuhan. GCC dapat berkontribusi dana, tenaga ahli logistik wabah, dan kapasitas laboratorium diagnostik. Platform seperti Pusat Kontrol Penyakit Teluk (GCC-CDC) perlu diaktifkan sepenuhnya — bukan hanya sebagai nama di dokumen, tetapi sebagai jaringan operasional harian.

Kepercayaan Bukan Pelengkap — Ia Fondasi

Serbuan ini bukan insiden terpencil. Itu adalah tanda bahwa pagar besi, pasukan militer, dan protokol teknis tidak cukup bila masyarakat tidak percaya.

Pendekatan 'One Health' — yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem — harus menjadi dasar, bukan slogan. Ebola muncul dari habitat yang terganggu: penebangan liar, pertambangan ilegal, dan pergeseran manusia ke hutan membawa kita lebih dekat dengan kelelawar dan primat — inang alami virus itu.

Perubahan iklim, konflik bersenjata, dan migrasi besar-besaran akan meningkatkan wabah masa depan. Timur Tengah memiliki sumber daya, lokasi strategis, dan pengalaman mengelola krisis kompleks. Tapi ia perlu bertindak sebagai mitra jangka panjang — bukan hanya donor krisis sesaat.

Serbuan di timur DRC adalah peringatan keras: virus tidak mengenal batas. Dan benteng paling kuat melawannya bukan vaksin atau vaksinator — melainkan kepercayaan yang dibangun, hari demi hari, dengan hati-hati dan hormat.