TERKINI
๐ŸŒ Liputan global 24/7 โ€ข ๐Ÿฏ Asia Timur: China, Jepun, Korea โ€ข ๐Ÿ›• Asia Selatan: India โ€ข ๐Ÿฐ Eropah โ€ข ๐Ÿ—ฝ Amerika โ€ข ๐ŸŒ Afrika โ€ข ๐Ÿ•Œ Timur Tengah โ€ข ๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ธ Solidariti Palestin โ€ข
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
๐ŸŒ Dunia

Krisis Kesehatan Mental di Jepang: Pemerintah Ambil Langkah Drastis Atasi Epidemi Kesepian

Jepang melaksanakan program nasional untuk menangani krisis kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan, dengan Kementerian Kesepian didirikan untuk mengatasi masalah isolasi sosial yang meluas.

24 Jun 20262 minit baca1 tontonanKhatulistiwa
Krisis Kesehatan Mental di Jepang: Pemerintah Ambil Langkah Drastis Atasi Epidemi Kesepian

Imej: Imej AI: Alibaba Tongyi Wanxiang (wan2.2-t2i-flash)

Tokyo, 24 Juni โ€” Jepang, yang telah menjadi negara pertama di dunia yang mendirikan Kementerian Kesepian pada tahun 2021, kini melaksanakan program nasional paling komprehensif dalam sejarahnya untuk mengatasi apa yang para ahli sebut sebagai "epidemi kesepian" โ€” sebuah krisis kesehatan masyarakat yang senyap namun sangat merusak.

Statistik yang dikeluarkan oleh pemerintah mengungkap gambaran yang mengkhawatirkan. Lebih dari 30 persen penduduk Jepang berusia 18 hingga 35 tahun menyatakan mereka tidak memiliki seorang teman pun yang benar-benar dekat. Fenomena "kodawashi" atau penarikan diri total dari masyarakat yang dialami oleh lebih dari 1,5 juta orang Jepang โ€” dikenal sebagai Hikikomori โ€” telah menjadi simbol krisis sosial yang lebih luas.

Penyebab masalah ini kompleks dan berlapis. Tekanan kerja yang ekstrem dalam budaya korporat Jepang menyisakan sedikit ruang untuk membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang bermakna. Perubahan dalam struktur keluarga tradisional Jepang, dengan peningkatan jumlah rumah tangga yang hanya terdiri dari satu orang, juga berkontribusi. Teknologi digital yang seharusnya menghubungkan manusia, dalam banyak kasus, justru menciptakan semacam ilusi hubungan sosial yang sebenarnya memperdalam isolasi.

Program nasional baru ini mengambil pendekatan yang menyeluruh dan melibatkan berbagai kementerian. "Community Hubs" sedang dibangun di seluruh kota dan daerah pedesaan โ€” pusat komunitas yang menawarkan berbagai kegiatan gratis termasuk kelas memasak, olahraga, seni, dan diskusi buku untuk menarik individu keluar dari isolasi sosial mereka.

Di tingkat tempat kerja, perusahaan besar diwajibkan untuk melaksanakan program kesejahteraan karyawan yang mencakup pemeriksaan kesehatan mental berkala dan akses mudah ke konseling profesional. Stigma terhadap masalah kesehatan mental yang masih kuat dalam masyarakat Jepang sedang ditangani melalui kampanye kesadaran publik yang luas.

Teknologi juga digunakan secara bijak dalam program ini. Aplikasi kesehatan mental yang dikembangkan dengan dukungan pemerintah menyediakan akses mudah ke sumber daya kesehatan mental dan memungkinkan individu menghubungi konselor profesional secara online dengan biaya yang sangat rendah atau gratis.