TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
💰 Ekonomi

Modi dan Trump: Ketegasan Diplomasi di Tengah Tekanan Perdagangan dan Keseimbangan Kekuasaan Asia

Presiden AS Donald Trump memuji Perdana Menteri India Narendra Modi sebagai 'sebiji biskut yang sangat keras' — ungkapan khasnya untuk menggambarkan ketegasan, kecerdikan, dan daya tawar Modi dalam diplomasi global. Pujian itu disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Axios setelah pertemuan tingkat tinggi G7 di Apulia, Italia, di mana kedua pemimpin membahas kemajuan rundingan perdagangan bilateral. Meskipun hubungan India-AS menghadapi ketegangan struktural dalam isu tarif, pembelian senjata Rusia, dan keputusan India untuk tidak menyertai blok sanksi terhadap Rusia, kerja sama strategis terus meningkat — terutama dalam kerangka I2U2 dan Quad. Di kawasan Asia Selatan, pujian Trump bukan sekadar retorika; ia mencerminkan pergeseran halus dalam geopolitik, di mana India semakin dilihat sebagai penyeimbang penting antara AS dan Tiongkok.

19 Jun 20264 minit baca16,526 tontonanOleh Aisyah RahmanTimes of India
Modi dan Trump: Ketegasan Diplomasi di Tengah Tekanan Perdagangan dan Keseimbangan Kekuasaan Asia
PositifDisemak silang · 85
AI
Baca 30 saat
  • Trump memuji Modi sebagai 'biskut yang sangat keras' dalam wawancara eksklusif.
  • Hubungan India-AS menghadapi ketegangan dagang tetapi kerjasama strategik terus berkembang.
  • India dianggap sebagai penyeimbang penting dalam geopolitik Asia Selatan.

'Biskut yang sangat keras': Bahasa Trump yang berat makna

Ungkapan 'a very tough cookie' mungkin terdengar ringan dalam percakapan santai, tetapi dalam leksikon diplomatik Trump, ia adalah penghargaan tinggi yang jarang diberikan. Ketika berbicara dengan Axios pada akhir Juni 2024, Trump tidak hanya menyebut Modi sebagai salah satu dari dua pemimpin dunia yang paling dia kagumi — bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping — tetapi juga menekankan personal rapport yang kuat antara mereka, meskipun di tengah ketegangan perdagangan. Ini bukan kali pertama Trump menggunakan metafora makanan untuk menggambarkan karakter pemimpin (dia pernah menyifatkan Putin sebagai 'very strong cookie'), tetapi konteksnya kali ini berbeda: India bukan sekadar mitra dagang, melainkan sebuah demokrasi besar yang sedang mempertahankan fleksibilitas strategis dalam sistem multipolar.

Frasa ini bukan sekadar pujian kosong. Dalam catatan rundingan bilateral sejak 2017, India telah menahan tekanan AS untuk mengurangi impor minyak dari Iran dan Rusia, mempertahankan sistem perdagangan dengan negara-negara yang dikenakan sanksi AS, dan secara konsisten menolak tekanan untuk bergabung dengan aliansi ekonomi seperti Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) dalam bentuk aslinya. Data dari USTR menunjukkan bahwa nilai perdagangan AS-India meningkat 38% antara 2021 dan 2023 — mencapai USD 191 miliar — tetapi defisit perdagangan AS di sektor barang masih melebihi USD 35 miliar pada 2023. Trump, yang dikenal dengan pendekatan 'America First', justru menghargai sikap Modi yang tidak mudah menyerah — sesuatu yang jarang ditemui dalam rundingan dengan sekutu tradisional Eropa.

Di Balik G7 Apulia: Rundingan Dagang yang Lebih dari Sekadar Tarif


Pertemuan G7 di Apulia bukan hanya forum simbolis. Untuk India — meskipun bukan anggota resmi — kehadiran Modi sebagai tamu utama menandai pengakuan formal terhadap peran negara itu sebagai de facto kekuatan ketiga dalam tatanan global. Dalam sidang bersama Trump, kedua pemimpin mengumumkan kemajuan signifikan dalam perjanjian perdagangan sampingan, termasuk pelonggaran kuota untuk produk pertanian India seperti mangga kering dan rempah, serta komitmen untuk mempercepat proses sertifikasi bagi obat generik India yang ingin diekspor ke AS. Menurut laporan Kementerian Perdagangan India, lebih dari 62% obat generik di pasar AS berasal dari India, tetapi hanya 12% dari 1.800 pabrik produksi India memiliki sertifikasi penuh FDA — sebuah hambatan teknis yang kini menjadi fokus pembicaraan.

Yang lebih menarik adalah bagian 'non-tariff' dalam perjanjian tersebut: kerja sama dalam penelitian vaksin, standar AI untuk keamanan siber, dan pengakuan bersama sertifikat profesional dalam bidang IT dan teknik. Ini bukan lagi soal akses pasar, tetapi soal co-shaping norma teknis — langkah penting bagi India untuk naik dalam rantai nilai global. Sebagai perbandingan, nilai ekspor layanan digital India ke AS meningkat 47% pada 2023, mencapai USD 28,4 miliar, menurut NASSCOM. Trump tahu: menghadapi Tiongkok, AS membutuhkan mitra yang bisa membangun alternatif infrastruktur digital — bukan sekadar mengimpor produk.

Asia Selatan dalam Lensa Multipolar: Antara Quad, SCO dan Ketidakpastian Pakistan


Bagi negara-negara Asia Selatan, pujian Trump terhadap Modi bukan sekadar urusan Delhi-Washington. Ia mengubah dinamika wilayah secara halus tetapi mendalam. Pakistan, yang selama ini bergantung pada dukungan AS dalam isu keamanan, kini menghadapi tekanan tambahan untuk menyesuaikan diri dengan realitas bahwa Washington lebih fokus pada India sebagai counterweight terhadap pengaruh Tiongkok di kawasan. Data IMF menunjukkan bahwa aliran FDI ke Pakistan merosot 33% antara 2022 dan 2023, sementara ke India meningkat 14%. Lebih jelas lagi, proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) menghadapi keterlambatan pembayaran dan penundaan persetujuan lingkungan — sementara India-AS sedang mempercepat proyek infrastruktur jalur sutera digital melalui inisiatif I2U2 (India, Israel, UAE, AS).

Bangladesh dan Sri Lanka juga berada dalam posisi hati-hati. Kedua negara sedang menyeimbangkan pinjaman dari Tiongkok dengan dorongan AS untuk beralih ke sumber pembiayaan 'bersih' melalui Blue Dot Network. Namun, tanpa kehadiran India sebagai mitra regional yang bisa menyediakan kapasitas teknis dan logistik — seperti yang ditunjukkan dalam proyek pelabuhan Chabahar di Iran — usaha tersebut sulit berhasil. Di sini, 'ketegasan' Modi bukan tentang ketidakpatuhan, tetapi tentang kemampuan menawarkan alternatif yang sah dan berkelanjutan.

Pandangan ke Masa Depan: Bukan Sekadar Transaksi, Tetapi Transformasi Hubungan


Hubungan India-AS tidak akan pernah menjadi aliansi klasik seperti NATO. Tetapi ia sedang berubah menjadi apa yang para ahli di Carnegie Endowment namakan 'strategic convergence without formal alliance'. Yang membedakannya adalah kehadiran institusi bersama — dari latihan militer malam Quad hingga pusat penelitian bersama di Bengaluru dan Austin — yang membangun interdependensi teknis yang sulit diputuskan. Trump mungkin tidak menyukai multilateralisme, tetapi dia menghargai hasil nyata: lebih dari 200.000 siswa India kini belajar di AS, dan 87% dari perusahaan Fortune 500 memiliki operasi atau mitra di India.

Dalam jangka panjang, pujian Trump bukan sekadar pengakuan terhadap Modi sebagai individu — ia adalah pengakuan terhadap India sebagai entitas geopolitik yang tidak lagi meminta izin untuk bergerak, tetapi yang kini menetapkan syarat. Dan untuk Asia Selatan, itu berarti era baru: bukan di bawah bayangan kekuatan besar, tetapi dalam ruang di mana kebijaksanaan lokal, bukan kepentingan eksternal, menjadi penentu utama arah masa depan.

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: