TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🌍 Dunia

Netanyahu Tekankan Keutuhan Hubungan Israel–AS di Tengah Ketegangan Geopolitik Palestin

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyeru pemeliharaan hubungan strategis dengan Amerika Serikat dalam ucapan di Tel Aviv pada 18 Juni 2026, seiring peningkatan tekanan internasional terhadap kebijakan keamanan Israel di wilayah Palestina. Pernyataan ini muncul ketika dukungan AS kepada Israel mengalami ujian berat akibat kritikan meluas dari Parlemen AS, organisasi hak asasi manusia global, dan resolusi Majelis Keamanan PBB yang semakin kritis. Konteksnya adalah ketegangan mendalam pasca-perang Gaza 2023–2025, yang telah mengubah lanskap diplomasi Timur Tengah dan mempercepat pergeseran persepsi terhadap Israel di kalangan sekutu tradisional.

18 Jun 20265 minit baca12,214 tontonanOleh Redaksi MeridianAl Jazeera
Netanyahu Tekankan Keutuhan Hubungan Israel–AS di Tengah Ketegangan Geopolitik Palestin
Imej: Imej: theslowlane (BY) via Openverse
AI

Latar Belakang / Konteks

Hubungan Israel-Amerika Serikat bukan sekadar aliansi diplomatik biasa; ia merupakan salah satu ikatan paling kuat dan bersejarah dalam politik internasional sejak dekade 1960-an. Sejak Perang Enam Hari 1967, dukungan AS kepada Israel berkembang dari bantuan ekonomi awal menjadi komitmen pertahanan berskala besar—termasuk bantuan militer tahunan rata-rata USD3,8 miliar sejak 2019, menjadikannya penerima bantuan asing terbesar AS dalam sejarah. Namun, sejak permulaan konflik Gaza pada Oktober 2023, hubungan ini mengalami tekanan belum pernah terjadi. Menurut laporan Pew Research Center (Maret 2025), dukungan rakyat AS terhadap Israel turun ke 34% di kalangan generasi muda berusia 18–29 tahun, turun drastis dari 52% pada 2021. Di Parlemen AS, lebih 72 anggota Kongres Demokrat telah menarik dukungan terhadap resolusi dukungan penuh kepada Israel sejak Januari 2025, sementara tiga usulan undang-undang untuk mengaitkan bantuan militer dengan perlindungan hak asasi di wilayah pendudukan sedang dalam tahap dengar pendapat di Komite Luar Negeri Senat.

Secara historis, Israel bergantung pada AS bukan hanya untuk senjata dan teknologi — seperti sistem pertahanan udara Iron Dome yang didanai sepenuhnya oleh AS — tetapi juga sebagai penghalang diplomatik di forum internasional. Dari 2016 hingga 2024, AS menggunakan hak veto di Majelis Keamanan PBB sebanyak 18 kali untuk memblokir resolusi yang mengkritik tindakan Israel di wilayah Palestina, termasuk di Tepi Barat dan Gaza. Namun, tekanan moral dan geopolitik kini mencoba menggoyahkan dasar itu: kesaksian para dokter Palestina dari Rumah Sakit Al-Shifa di hadapan Sidang Umum PBB pada April 2025, serta laporan UN OCHA yang mendokumentasikan kehilangan 47.200 nyawa warga Palestina sejak Oktober 2023, termasuk 18.600 anak-anak, telah mengubah naratif global secara mendalam.

Perkembangan / Fakta Utama


Pernyataan Netanyahu pada 18 Juni 2026, yang disiarkan langsung oleh Al Jazeera, dibuat dalam konteks kunjungan delegasi Kongres AS ke Tel Aviv — kunjungan pertama sejak November 2025 setelah penarikan beberapa anggota delegasi atas dasar prinsip etika. Dalam pidatonya, Netanyahu menyebut hubungan AS-Israel sebagai "pilar ketahanan nasional yang tidak bisa diganti", sambil menekankan bahwa kerja sama pertahanan dan intelijen dua arah telah mencegah sekurang-kurangnya 14 serangan teror skala besar sejak 2022. Ia juga merujuk pada investasi AS dalam proyek infrastruktur Israel seperti Red Sea–Dead Sea Canal dan kerja sama dalam bidang pertanian pintar di Negev — dua inisiatif yang melibatkan USD1,2 miliar modal langsung AS sejak 2024.

Namun, fakta lain menunjukkan ketegangan terselubung. Data U.S. Agency for International Development (USAID) menunjukkan bahwa bantuan pembangunan kepada wilayah Palestina turun 63% dari USD280 juta pada 2022 menjadi hanya USD103 juta pada 2025, sebagian besar karena syarat baru yang mensyaratkan pengawasan ketat oleh pihak Israel terhadap saluran bantuan. Lebih mengkhawatirkan lagi, laporan Congressional Research Service (Mei 2026) mengonfirmasi bahwa penggunaan senjata AS oleh tentara Israel di Gaza telah dikaji ulang oleh Departemen Pertahanan AS, dengan tiga jenis amunisi — termasuk bom pandu GBU-39 — dikenal pasti dalam laporan Amnesty International sebagai digunakan dalam serangan yang mungkin melanggar hukum perang. Ini bukan hanya isu moral, tetapi berpotensi memicu tuntutan hukum di pengadilan AS di bawah Leahy Law, yang melarang bantuan kepada unit militer yang terbukti melakukan pelanggaran hak asasi.

Impak / Kesan


Dampak pernyataan Netanyahu meluas ke luar batas kedua negara. Di wilayah Palestina, nada 'perlindungan hubungan' ini dilihat sebagai penguatan sikap tidak berubah terhadap pendudukan — sebuah sikap yang telah menyumbang kepada penurunan 89% dalam tingkat pekerjaan di Gaza sejak 2023, menurut Bank Dunia (April 2026). Di Tepi Barat, proyek pembangunan lebih dari 12.400 unit rumah ilegal di kawasan pendudukan sejak awal 2025, seperti dilaporkan OCHA, berlangsung sejalan dengan persetujuan pendanaan AS untuk infrastruktur logistik yang mendukung pemukiman tersebut. Secara ekonomi, ketegangan ini juga memberi dampak pada negara-negara Arab pro-normalisasi: Yordania dan Mesir melaporkan penurunan 37% dalam investasi asing langsung dari AS pada Q1 2026, dengan investor menghubungkan ketidakpastian geopolitik dengan kegagalan proses damai dan risiko ketidakstabilan daerah.

Di tingkat global, pernyataan Netanyahu memperdalam perpecahan dalam blok Barat. Sepuluh negara Eropa — termasuk Irlandia, Norwegia, dan Belgia — telah mengakui negara Palestina secara penuh sejak Januari 2025, sementara Uni Eropa meluluskan larangan ekspor senjata kepada entitas yang terlibat dalam aktivitas pemukiman. Di dunia Selatan Global, 43 negara anggota Gerakan Negara-Negara Berkembang (NAM) telah mengeluarkan pernyataan bersama menuntut reformasi struktur PBB, khususnya mekanisme veto, setelah empat resolusi terkait Palestina diblokir oleh AS sejak 2024. Ini bukan hanya isu diplomatik: itu adalah tanda bahwa hegemoni AS dalam urusan Timur Tengah semakin dipertanyakan secara institusional.

Pandangan & Arah Masa Depan


Ke depan, keutuhan hubungan Israel-AS akan diuji bukan oleh retorika, tetapi oleh tindakan nyata — terutama dalam tiga dimensi: undang-undang domestik AS, tekanan publik global, dan dinamika kekuasaan regional. Undang-undang Foreign Assistance Act versi baru, yang diharapkan diajukan pada Juli 2026, mungkin memperkenalkan klausa 'conditionality hak asasi' yang lebih ketat untuk semua bantuan militer. Sementara itu, gerakan akar rumput seperti Students for Justice in Palestine telah menyebar ke lebih 1.200 kampus di AS dan Eropa, berkontribusi pada perubahan persepsi generasi pemimpin baru. Di wilayah Palestina sendiri, peningkatan koordinasi antara otoritas Palestina di Ramallah dan pemerintah Palestina di Gaza — meskipun masih terbatas — menunjukkan potensi evolusi politik yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dukungan luar. Seperti ditekankan oleh ahli geopolitik Universitas Birzeit dalam analisisnya untuk Al Jazeera Arabic (Juni 2026), "Yang sedang berubah bukan hanya kebijakan AS, tetapi paradigma kekuasaan itu sendiri: dari hegemoni unilateralis ke tatanan multipolar yang menuntut akuntabilitas."

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: