TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🕌 Kisah & Hikmah

Öljaitü: Kaisar Mongol yang Memeluk Islam dan Membangun Kubah Raksasa Soltaniyeh

Öljaitü, putra Arghun Khan dan saudara Ghazan Khan, adalah penguasa Ilkhanate yang kedelapan yang memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Mohammad-e Khodabandeh. Di bawah pemerintahannya, kekaisaran Mongol di Parsi mencapai puncak perkembangan, dan ia membangun Mausoleum Soltaniyeh, sebuah kubah tanah liat terbesar di dunia yang menjadi simbol peradaban Islam. Artikel ini menceritakan perjalanan spiritual dan pencapaian luar biasa beliau yang jarang diketahui.

26 Jun 20264 minit baca19,648 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Öljaitü
Öljaitü: Kaisar Mongol yang Memeluk Islam dan Membangun Kubah Raksasa Soltaniyeh
Imej: Foto: Wikipedia — Öljaitü (CC BY-SA 4.0)
AI

Di Puncak Padang Rumput: Sebuah Nama Bermula

Di tengah-tengah padang rumput Mongolia yang luas, pada 24 Mac 1282, lahir seorang putra yang kelak akan mengubah wajah Asia Barat. Namanya dalam bahasa Mongolia, Öljaitü, berarti "diberkati" — gelar yang tepat bagi seorang lelaki yang akhirnya membawa berkah kepada peradaban Islam. Namun, takdirnya bukan hanya menjadi penguasa; Öljaitü adalah salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Ilkhanate, karena ia memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Mohammad-e Khodabandeh - "hamba Tuhan" dalam bahasa Parsi.

Öljaitü adalah putra dari Arghun Khan, penguasa Ilkhanate yang keempat, dan saudara dari Mahmud Ghazan, penguasa kelima yang terkenal. Ia juga cucu dari Hulegu Khan, pendiri Ilkhanate yang ditakuti, dan cucu Genghis Khan. Darah biru mengalir dalam nadinya, tetapi lebih dari itu, ia mewarisi visi untuk menyatukan tanah-tanah yang terpecah akibat perang.

Dari Buddha ke Islam: Perjalanan Spiritual Seorang Kaisar


Sebelum memeluk Islam, Öljaitü dibesarkan dalam agama Buddha, seperti kebanyakan bangsawan Mongol awal. Namun, seperti yang dicatat oleh sejarawan Rashid al-Din Hamadani dalam karyanya Jami' al-tawarikh, Öljaitü terpapar pada berbagai agama di istana Ilkhanate - termasuk Kristen Nestorian, Buddha, dan Islam. Perubahan hatinya terjadi secara bertahap.

Pada tahun 1304, setelah kematian Ghazan, Öljaitü naik tahta sebagai Kaisar yang kedelapan. Awalnya, ia tetap memegang keyakinan Buddha, bahkan dikatakan mempertimbangkan untuk memeluk Kristen. Namun, pengaruh istrinya, seorang putri dari suku Mongol yang telah memeluk Islam, bersama dengan argumen-argumen ulama seperti Sayyid ibn Tawus, akhirnya meyakinkannya. Pada tahun 1310, secara resmi ia mengucapkan syahadah dan mengambil nama Mohammad. Peristiwa ini bukan hanya personal; ia mengubah dasar negara. Islam menjadi agama resmi Ilkhanate, dan semua kuil Buddha serta gereja ditutup atau diubah menjadi masjid.

Soltaniyeh: Kota Impian di Bumi


Salah satu warisan terbesar Öljaitü adalah pembangunan Mausoleum Soltaniyeh, yang terletak di kota Soltaniyeh, kini di wilayah Zanjan, Iran. Kubah ini adalah yang terbesar di dunia pada zamannya - setinggi 49 meter dan berdiameter 25 meter, dibuat sepenuhnya dari batu bata. Ia selesai dibangun pada tahun 1312, hanya empat tahun setelah Öljaitü memeluk Islam.

Mengapa Öljaitü membangun makam ini? Menurut beberapa sumber, ia awalnya berniat memindahkan jenazah Imam Ali dan Imam Husain dari Najaf dan Karbala ke Soltaniyeh sebagai tanda penghormatan dan persatuan Syiah di bawah pemerintahannya. Namun, rencana ini ditentang keras oleh ulama Sunni, dan akhirnya Öljaitü memutuskan untuk menjadikan makam itu sebagai tempat peristirahatannya sendiri.

Arsitektur Soltaniyeh adalah gabungan unik gaya Mongol, Parsi, dan Islam. Kubahnya yang tinggi dihiasi dengan keramik biru dan hijau, sedangkan di dalamnya terdapat kaligrafi ayat-ayat Al-Quran dalam tulisan kufi dan thuluth. Struktur ini bukan hanya simbol kekuasaan Ilkhanate, tetapi juga lambang harmoni antara tradisi nomad Mongol dan peradaban Islam yang menetap.

Pemerintahan yang Adil dan Gemilang


Selain pembangunan arsitektur, Öljaitü juga dikenal sebagai penguasa yang adil dan pendukung ilmu pengetahuan. Ia mempertahankan tradisi Ghazan dengan menunjuk Rashid al-Din sebagai menteri utama, yang menghasilkan karya sejarah monumental Jami' al-tawarikh. Di bawah kepemimpinan Öljaitü, para cendekiawan dari berbagai latar belakang - Parsi, Arab, India, dan Tiongkok - berkumpul di Tabriz dan Soltaniyeh untuk menerjemahkan karya sains, kedokteran, dan astronomi.

Ekonomi Ilkhanate juga berkembang di bawahnya. Ia memperkenalkan sistem mata uang stabil, memperbaiki irigasi pertanian, dan membangun jalan raya yang menghubungkan Parsi ke Tiongkok melalui Jalan Sutra. Soltaniyeh sendiri menjadi tempat persinggahan utama bagi para pedagang dari Venesia ke Cathay (Tiongkok), menjadikannya pusat perdagangan dan diplomasi internasional.

Tantangan dan Perubahan: Dari Syiah ke Sunni


Meskipun Öljaitü memeluk Islam, faham keagamaannya tidak tetap. Awalnya, ia cenderung kepada mazhab Syiah Imamiyah, bahkan dikatakan telah mengubah khutbah Jumat di masjid-masjid untuk menyebut nama dua belas imam. Tindakan ini menimbulkan ketegangan dengan mayoritas Sunni di Parsi. Namun, pada tahun-tahun akhir pemerintahannya, ia kembali ke mazhab Sunni, mungkin atas nasihat istrinya atau tekanan politik.

Perubahan ini menunjukkan bahwa Öljaitü bukan seorang fanatik buta, tetapi seorang pemimpin pragmatis yang berusaha menyeimbangkan antara idealisme agama dan realitas politik. Ia meninggal pada 16 Desember 1316 di Tabriz akibat penyakit yang tidak diketahui, dan dimakamkan di Mausoleum Soltaniyeh yang ia bangun sendiri.

Warisan yang Terus Hidup


Saat ini, Mausoleum Soltaniyeh diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2005. Ia tidak hanya mengagumkan dari segi arsitektur, tetapi juga menjadi simbol pertemuan antara dunia Mongol dan Islam. Kubahnya yang megah telah menjadi inspirasi bagi arsitek Mughal di India, termasuk Taj Mahal.

Öljaitü mungkin tidak sepopuler Ghazan atau Hulegu, tetapi kontribusinya terhadap peradaban Islam tidak dapat dipandang remeh. Ia adalah bukti bahwa seorang Kaisar Mongol yang lahir dalam keyakinan Buddha bisa menjadi hamba Tuhan yang taat, dan bahwa sebuah kubah tanah liat bisa menjadi jembatan antara langit dan bumi.

Dalam setiap batu bata Soltaniyeh, tersimpan cerita tentang seorang lelaki yang mencari makna kehidupan di tengah kekuasaan dan akhirnya meninggalkan monumen kemuliaan yang akan diingat selamanya.

---
Rujukan: Öljaitü — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: