TERKINI
๐ŸŒ Liputan global 24/7 โ€ข ๐Ÿฏ Asia Timur: China, Jepun, Korea โ€ข ๐Ÿ›• Asia Selatan: India โ€ข ๐Ÿฐ Eropah โ€ข ๐Ÿ—ฝ Amerika โ€ข ๐ŸŒ Afrika โ€ข ๐Ÿ•Œ Timur Tengah โ€ข ๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ธ Solidariti Palestin โ€ข ๐Ÿ“– Hari Ini Dalam Sejarah Dunia โ€ข
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
๐ŸŒ Dunia

Pengungsi Pulang ke Gaza: Antara Harapan dan Trauma Perang

Pada tahun 2025, hampir 15 juta orang yang terlantar pulang ke rumah mereka di seluruh dunia โ€“ lonjakan terbesar yang pernah dicatat PBB. Ribuan pengungsi Palestina termasuk di antaranya, kembali ke Gaza, meratap di atas reruntuhan rumah yang hancur akibat peperangan. Artikel ini mengisahkan perjalanan mereka, dari kesengsaraan di kamp pengungsian hingga tekad untuk membangun kembali kehidupan di tanah air yang terluka.

20 Jun 20264 minit baca8 tontonanOleh Aisyah RahmanAl Jazeera
NeutralDisemak silang 2 model ยท 85
Baca 30 saat
  • โ€ขRibuan pelarian Palestin pulang ke Gaza setelah 15 juta orang dipindahkan pulang ke rumah mereka di seluruh dunia.
  • โ€ขKepulangan ini berlaku dalam suasana gencatan senjata yang rapuh.
  • โ€ขPelarian ini kembali mencoba nasib setelah tekanan diplomatik antarabangsa dan janji bantuan pembinaan semula.
Pengungsi Pulang ke Gaza: Antara Harapan dan Trauma Perang

Imej: Imej: Eyad Elbayoumi (BY) via Openverse

Pulang ke Rumah yang Tak Ada

Di antara tumpukan beton dan debu, seorang wanita tua berlutut di atas tanah yang pernah menjadi ruang tamunya. Ia menangis, bukan karena gembira, tetapi karena menyadari rumah yang ditinggalkan lima tahun lalu kini telah tiada. "Kami merasakan kengerian perang," bisiknya sambil menyapu tanah yang hancur. Adegan ini bukan sekadar satu kisah; ia adalah realitas ribuan pengungsi Palestina yang pulang ke Gaza pada tahun 2025, sebagian dari gelombang kepulangan terbesar yang tercatat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurut laporan PBB, hampir 15 juta orang pengungsi di seluruh dunia memilih untuk pulang ke tempat asal mereka pada tahun 2025. Lebih dari 1,2 juta di antaranya adalah warga Palestina yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal akibat konflik berulang di Semenanjung Gaza. Kepulangan ini terjadi dalam suasana gencatan senjata yang rapuh, di mana banyak kawasan masih belum aman untuk dihuni kembali.

Mengapa Mereka Kembali?

Bagi kebanyakan pengungsi, keputusan untuk pulang bukanlah hal yang mudah. Selama bertahun-tahun mereka hidup di kamp-kamp padat di negara tetangga seperti Yordania, Lebanon, dan Mesir, menanti saat yang mungkin tidak kunjung tiba. Namun, tahun 2025 membawa perubahan. Tekanan diplomatik internasional, ditambah dengan janji bantuan pembangunan kembali senilai miliaran dolar, mendorong banyak orang untuk kembali mencoba nasib.

"Kami tidak ingin lagi menjadi pengungsi," kata Ahmad, seorang ayah tiga anak yang pulang ke utara Gaza. "Lebih baik mati di tanah sendiri daripada hidup sebagai pengemis di negara orang." Sentimen ini bergema di setiap kamp pengungsian. Namun, kebanyakan yang pulang mendapati bahwa tanah air yang mereka rindukan hanya tinggal kenangan. Infrastruktur dasar seperti pasokan air, listrik, dan sekolah masih porak-poranda. PBB memperkirakan bahwa 70% bangunan di Gaza mengalami kerusakan sebagian atau total.

Beban Trauma dan Kehilangan

Kepulangan bukan sekadar tantangan fisik, tetapi juga psikologis. Banyak yang pulang dibebani trauma kehilangan anggota keluarga, rumah, dan identitas. "Setiap sudut mengingatkan saya pada anak yang tewas dibom," kata Fatima, seorang ibu yang kembali ke Khan Younis. Organisasi kesehatan mental setempat melaporkan peningkatan 300% kasus gangguan stres pascatrauma (PTSD) di kalangan mereka yang pulang.

Anak-anak juga tidak terkecuali. Di sekolah sementara yang didirikan di bawah tenda, banyak murid kesulitan berkonsentrasi, dihantui ketakutan terhadap suara keras. "Mereka seolah-olah masih hidup dalam perang yang sudah berakhir," kata seorang guru. Proses penyembuhan akan memakan waktu bertahun-tahun, jika tidak berdekade.

Tantangan Hidup di Tengah Reruntuhan

Lebih dari setengah juta pengungsi Palestina yang pulang kini mendiami permukiman sementara โ€“ tenda, kontainer, atau rumah yang setengah hancur. Pasokan air bersih terbatas, memicu wabah penyakit seperti kolera dan diare. Pihak berwenang kesehatan Gaza berjuang dengan kekurangan obat dan peralatan medis, sementara sanksi ekonomi masih menghalangi masuknya barang-barang kebutuhan.

Diplomasi internasional pun bergerak lambat. Meskipun beberapa negara seperti Qatar dan Turki telah mengirimkan bantuan, jumlah yang dibutuhkan jauh lebih besar dari itu. Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa pemulihan Gaza memerlukan setidaknya AS$12 miliar dalam kurun waktu lima tahun. Namun, hingga kini hanya 30% dari jumlah tersebut yang telah dijanjikan.

Solidaritas dan Harapan

Meskipun segala kesulitan, semangat solidaritas tetap membara. Penduduk setempat yang selamat bahu-membahu membantu membangun kembali rumah. Relawan dari seluruh dunia, termasuk Malaysia, turut menyalurkan bantuan medis dan dukungan psikologis. "Kami tidak bisa membiarkan mereka sendirian," kata seorang pekerja kemanusiaan dari Organisasi Kesehatan Dunia.

Di tengah reruntuhan, tanda-tanda kehidupan mulai tumbuh. Warung kecil menjual roti, pasar tani yang sederhana, dan anak-anak bermain di gang โ€“ semua ini membuktikan kehidupan terus berdenyut. "Kami telah melalui neraka, namun kami masih di sini," kata seorang pemuda sambil menambal kembali atap rumahnya. "Ini tanah kami. Kami tidak akan pergi lagi."

Pandangan ke Depan: Apa yang Diperlukan?

Untuk memastikan kepulangan ini lestari dan bermartabat, beberapa langkah penting perlu diambil. Pertama, gencatan senjata harus dipertahankan dan dilembagakan menjadi perdamaian yang berkelanjutan. Kedua, masyarakat internasional perlu menepati janji bantuan tanpa syarat politik apa pun. Ketiga, upaya dukungan psikososial perlu digalakkan untuk mengobati trauma yang meluas.

Pada saat yang sama, rakyat Palestina menuntut hak mereka untuk menentukan nasib sendiri diakui sepenuhnya. "Kami tidak ingin hanya menjadi angka statistik," kata seorang pemimpin masyarakat setempat. "Kami ingin hidup dengan martabat, di atas tanah yang diwarisi dari kakek nenek kami."

Kisah kepulangan ini adalah pengingat bahwa perang tidak berakhir hanya dengan gencatan senjata. Ia berakhir ketika setiap korban dapat kembali hidup tenang, di rumah yang aman, dengan harapan yang utuh. Bagi jutaan pengungsi Palestina, perjalanan itu masih panjang. Namun, setiap langkah menuju rumah โ€“ meskipun hanya selangkah โ€“ adalah kemenangan.

*Penulisan ini berdasarkan laporan Al Jazeera serta data PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya.*