TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🕌 Kisah & Hikmah

Pertempuran Tours 732: Ketika Islam dan Eropa Beradu di Lembah Prancis

Pertempuran Tours pada tahun 732 M merupakan momen bersejarah yang menyaksikan pasukan Umayyah yang dipimpin Gubernur Al-Andalus, Abdul Rahman al-Ghafiqi, bertemu dengan pasukan Frank yang dipimpin Charles Martel. Meskipun kalah di medan perang, peristiwa ini menjadi simbol ketahanan Islam di Eropa dan membuka lembaran baru dalam hubungan antara dua peradaban. Artikel ini mengupas latar belakang, kronologi, dan makna strategis pertempuran yang dikenal sebagai 'Jalan Para Syuhada'.

25 Jun 20263 minit baca4 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Battle of Tours
Pertempuran Tours 732: Ketika Islam dan Eropa Beradu di Lembah Prancis

Imej: Foto: Wikipedia — Battle of Tours (CC BY-SA 4.0)

Pengantar: Gelombang Islam Sampai ke Jantung Eropa

Pada awal abad ke-8, dunia menyaksikan kebangkitan luar biasa Khilafah Umayyah. Dari tanah Arab, bendera Islam berkibar ke Afrika Utara, menyeberangi Selat Gibraltar, dan menundukkan Spanyol. Namun, kejayaan itu tidak berhenti di Pegunungan Pyrenees. Di bawah pimpinan gubernur-gubernur yang ambisius, pasukan Islam mulai merambat ke wilayah Gaul—Prancis modern. Pertempuran Tours yang terjadi pada 10 Oktober 732 adalah puncak ekspedisi ini, sebuah bentrokan yang hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Latar Belakang: Dari Al-Andalus ke Gaul

Sejak penaklukan Spanyol pada 711, wilayah Al-Andalus menjadi pusat pemerintahan dan militer yang kuat. Gubernur Abdul Rahman al-Ghafiqi mewarisi wilayah yang makmur dan pasukan yang terlatih. Namun, perluasan ke utara bukanlah serangan mendadak. Sejak tahun 720-an, serangan sporadis pasukan Islam ke kota-kota seperti Toulouse dan Bordeaux telah terjadi. Kekalahan pasukan Frank dalam Pertempuran Bordeaux pada 732 membuka jalan ke utara. Al-Ghafiqi, dengan pasukan yang terdiri dari Arab, Berber, dan sukarelawan, bergerak menuju Tours, pusat keagamaan yang kaya di Lembah Loire.

Medan Pertempuran: Di Mana Jalan Para Syuhada?

Sumber sejarah memberikan nama Arab yang puitis: *Balat al-Shuhada* atau "Jalan Para Syuhada". Lokasi tepat masih diperdebatkan, namun kebanyakan sejarawan meletakkannya antara kota Poitiers dan Tours, di Aquitaine utara. Kawasan ini berbukit-bukau dengan sungai-sungai kecil, cocok untuk pasukan berkuda tetapi menyulitkan pergerakan besar. Menurut tradisi, pasukan Islam lebih banyak, mungkin 20.000 hingga 30.000 orang, sementara Frank hanya sekitar 15.000 orang. Namun, perbedaan utama adalah taktik: pasukan Frank tidak menggunakan pasukan berkuda berat, melainkan bergantung pada infanteri yang padat dan bersenjatakan kapak serta pedang.

Kronologi Pertempuran: Ketabahan di Atas Bukit

Pada 10 Oktober 732, kedua pasukan berhadapan. Al-Ghafiqi, yang yakin dengan keunggulan jumlah, melancarkan serangan berkuda ke arah formasi Frank. Namun, Charles Martel telah menyusun pasukannya dalam formasi *phalanx* yang rapat—sebuah taktik yang jarang digunakan di Eropa saat itu. Serangan demi serangan pasukan Islam gagal menembus barisan Frank. Meskipun pasukan berkuda Islam terkenal dengan mobilitas dan ketepatan, mereka tidak dapat memecahkan tembok perisai manusia yang kuat. Menjelang sore, al-Ghafiqi sendiri gugur dalam pertempuran, menyebabkan kekacauan dan akhirnya pengunduran pasukan Islam. Kemenangan ini menjadi legenda di kalangan orang Frank, dan Charles Martel mendapat gelar "Martel" yang berarti "palu besi".

Makna Strategis: Antara Mitos dan Realitas

Sejarawan seperti Edward Gibbon menganggap Pertempuran Tours sebagai titik balik yang menyelamatkan Eropa Kristen dari penaklukan Islam. Namun, pandangan ini kini dipertanyakan. Yang pasti, kekalahan ini tidak sepenuhnya menghentikan kehadiran Islam di selatan Prancis; serangan kecil terus berlangsung hingga abad ke-9. Lebih penting lagi, pertempuran ini menunjukkan batas kemampuan logistik pasukan Umayyah. Mereka terlalu jauh dari pangkalan di Al-Andalus, dan musim dingin yang akan datang menyulitkan kampanye lanjutan. Bagi dunia Islam, ini adalah kekecewaan, tetapi bukan kekalahan mutlak. Al-Andalus terus menjadi pusat ilmu dan kekuatan selama beberapa abad lagi.

Kesimpulan: Pelajaran dari Lembah Loire

Pertempuran Tours mengajarkan kita bahwa sejarah tidak pernah hitam putih. Di balik kegagalan di medan perang, semangat jihad dan ketangguhan pasukan Islam tetap terpahat sebagai bukti keberanian. Jalan Para Syuhada menjadi peringatan bahwa setiap penaklukan memiliki harga, dan setiap peradaban harus menghadapi ujian. Bagi umat Islam, ini adalah babak yang menyedihkan tetapi juga membanggakan—karena di situlah cita-cita tinggi untuk menyebarkan risalah bertemu dengan realitas geografi dan politik. Kini, lebih dari 1.200 tahun kemudian, kita bisa merenung kembali peristiwa ini sebagai titik pertemuan dua dunia yang saling belajar satu sama lain.

Penulis: Redaksi Khatulistiwa

*Sumber: Wikipedia — Battle of Tours*

---

*Rujukan: [Battle of Tours — Wikipedia](https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Tours)*

Tersedia dalam: