TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🕌 Kisah & Hikmah

Safiye Sultan: Perempuan Kuat di Balik Tahta Utsmaniyah

Safiye Sultan, ratu besar Utsmaniyah yang hidup antara tahun 1550 hingga 1619, bukan hanya istri dari Sultan Murad III dan ibu dari Sultan Mehmed III, tetapi juga tokoh yang memengaruhi kebijakan luar negeri kerajaan. Sebagai Valide Sultan, dia mengendalikan diplomasi dengan Venesia dan Inggris, menjadikan istana Utsmaniyah sebagai pusat kekuatan politik internasional. Artikel ini membahas peran luar biasa Safiye dalam sejarah Islam dan peradaban Utsmaniyah.

26 Jun 20264 minit baca652,921 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Safiye Sultan
Safiye Sultan: Perempuan Kuat di Balik Tahta Utsmaniyah
AI

Pendahuluan

Dalam lipatan sejarah kejayaan Kekaisaran Utsmaniyah, nama Safiye Sultan bersinar sebagai salah satu sultana paling berpengaruh. Dilahirkan sekitar tahun 1550, dia memegang gelar Haseki Sultan (istri utama) kepada Sultan Murad III, dan kemudian Valide Sultan (ibu raja) kepada Sultan Mehmed III. Namun, lebih dari sekadar ibu raja, Safiye adalah seorang negarawan hebat yang menggunakan pengaruhnya untuk membentuk kebijakan luar negeri Kekaisaran Utsmaniyah pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Artikel ini menelusuri kehidupan dan warisan beliau, dengan fokus pada kontribusi beliau dalam diplomasi internasional.

Latar Belakang Safiye Sultan

Asal-usul Safiye masih diperdebatkan oleh sejarawan. Ada yang mengatakan dia berasal dari keluarga bangsawan Venesia, mungkin dari keluarga Baffo, dan dibawa ke istana Utsmaniyah sebagai hadiah. Ada juga yang berpendapat dia adalah seorang budak dari Albania. Namun, yang pasti, dia mendapat pendidikan istana yang luar biasa dan bijak memanfaatkan ilmunya. Setelah menjadi istri kepada Murad III, dia dengan cepat memenangkan hati sultan dan menjadi satu-satunya wanita yang benar-benar dipercaya oleh Murad. Kecerdasan dan ketajaman politiknya memungkinkannya mengatasi saingan di harem, termasuk ibunda sultan sendiri, Nurbanu Sultan.

Pengaruh di Masa Pemerintahan Murad III

Selama pemerintahan Murad III (1574–1595), Safiye bukan hanya teman setia raja, tetapi juga penasihat utama. Murad III sering bergantung pada Safiye dalam urusan administrasi, dan dia dikatakan sangat patuh pada nasihat istrinya. Hal ini menimbulkan rasa iri di kalangan pegawai istana, namun Safiye cerdas menghindari konflik terbuka. Dia menggunakan pengaruhnya untuk mempromosikan perdamaian dengan Venesia, negara yang pernah menjadi musuh Utsmaniyah. Melalui surat-menyurat dengan Doge Venesia, Safiye berhasil merundingkan perjanjian perdagangan yang menguntungkan kedua pihak. Ini adalah pertama kalinya seorang sultana Utsmaniyah secara langsung terlibat dalam diplomasi tingkat tinggi.

Valide Sultan: Masa Pemerintahan Mehmed III

Ketika Murad III meninggal pada tahun 1595, putra mereka, Mehmed III, naik tahta. Sebagai Valide Sultan, Safiye memegang kekuasaan yang lebih besar. Dia bertindak sebagai pemangku de facto, terutama pada awal pemerintahan Mehmed III yang masih muda dan tidak berpengalaman. Safiye mengontrol akses ke raja, menentukan pelantikan pegawai, dan bahkan memengaruhi kebijakan militer. Salah satu tindakan paling kontroversialnya adalah penghapusan adat 'kardeş katli' (pembunuhan saudara kandung), meskipun tidak sepenuhnya dihapuskan. Namun, pengaruhnya melampaui istana. Safiye menjalin hubungan diplomatik dengan Elizabeth I dari Inggris. Kedua ratu ini saling bertukar hadiah mewah dan surat, di mana Safiye meminta bantuan militer Inggris melawan Spanyol. Ini membuka jalan bagi perjanjian perdagangan yang memberi keistimewaan kepada pedagang Inggris di Pelabuhan Utsmaniyah.

Diplomasi dengan Venesia dan Inggris

Safiye Sultan mahir menggunakan diplomasi sebagai alat untuk memperkuat posisi Utsmaniyah di Eropa. Dengan Venesia, dia menjaga hubungan baik, memastikan jalur perdagangan rempah dan sutera tetap terbuka. Dengan Inggris, dia melihat potensi sekutu melawan Spanyol Habsburg. Dalam suratnya kepada Elizabeth I, Safiye menulis dengan penuh hormat, menyebut dirinya sebagai 'ibu Raja' dan memohon bantuan dalam bentuk kapal perang dan persediaan. Elizabeth I membalas dengan mengirim jam mekanik, kain sutra, dan juga seorang duta. Pertukaran ini tidak hanya memperkuat hubungan dua arah, tetapi juga menunjukkan bahwa Utsmaniyah, di bawah Safiye, siap bekerja sama dengan kekuatan Kristen demi kepentingan bersama. Ini adalah contoh awal diplomasi pragmatis yang tidak terikat oleh perbedaan agama.

Jatuhnya Kekuasaan dan Warisan

Meskipun berkuasa, Safiye tidak terlepas dari tantangan. Pada akhir masa pemerintahan Mehmed III, pengaruhnya mulai pudar saat raja mulai bertindak lebih bebas. Ketika Mehmed III meninggal pada tahun 1603, cucu Safiye, Ahmed I, naik tahta. Ahmed I lebih cenderung kepada ibunya sendiri, Handan Sultan, dan Safiye dikirim ke Istana Lama. Dia meninggal pada tahun 1619, namun warisannya tetap. Safiye Sultan diingat sebagai wanita pertama dalam sejarah Utsmaniyah yang secara terbuka memengaruhi kebijakan luar negeri. Dia membuktikan bahwa wanita di istana bukan hanya hiasan, tetapi bisa menjadi arsitek strategi kerajaan.

Kesimpulan

Cerita Safiye Sultan adalah cerminan kejayaan peradaban Islam, di mana wanita yang berpendidikan dan bijaksana mampu memainkan peran besar dalam pemerintahan negara. Melalui diplomasi, dia memperluas pengaruh Utsmaniyah ke Eropa, menjalin persahabatan dengan ratu-ratu Kristen, dan memastikan stabilitas ekonomi kerajaan. Meskipun akhirnya terpinggir, kontribusi Safiye dalam politik internasional membuka jalan bagi generasi sultana berikutnya. Dia adalah bukti bahwa dalam sejarah Islam, perempuan bukan hanya ibu atau istri, tetapi juga pembangun peradaban.

---
Rujukan: Safiye Sultan — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: