TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🌍 Dunia

Zelensky mengembalikan Bintang Putih setelah Poland mencabut penghargaan — ketegangan sejarah menguji sekutu Ukraina

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengembalikan Bintang Putih, penghargaan tertinggi Poland, menyusul keputusan Warsaw mencabutnya akibat keputusan Ukraina menamai kembali Batalyon Mekanik Terpisah ke-103 sebagai 'Batalyon UPA' dalam menghormati Tentera Pemberontak Ukraina (UPA). Peristiwa ini memicu reaksi berantai: dua mantan presiden Ukraina dan pejabat tinggi juga mengembalikan penghargaan serupa. Ketegangan ini mengungkap luka sejarah mendalam—khususnya pembunuhan massal etnis Poland di Volhynia pada 1943–1945—yang kini menguji ketahanan kerja sama strategis antara dua negara dalam perang melawan Rusia.

21 Jun 20264 minit baca26 tontonanOleh Aisyah RahmanFrance 24
NeutralDisemak silang 2 model · 72
Baca 30 saat
  • Zelensky kembalikan Darjah Helang Putih selepas Poland melucutkannya
  • Konflik antara Ukraine dan Poland disebabkan oleh nama semula Briged Mekanikal Berasingan ke-103
  • Luka sejarah antara kedua negara masih belum sembuh
Zelensky mengembalikan Bintang Putih setelah Poland mencabut penghargaan — ketegangan sejarah menguji sekutu Ukraina

Imej: Imej: Astro_Alex (BY-SA) via Openverse

Bintang Putih dikembalikan — tanda diplomatik yang langka

Berita itu cepat menyebar di kalangan pejabat presiden di Kiev: Poland secara resmi mencabut Bintang Putih dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Penghargaan tersebut, yang diberikan pada 2022 sebagai pengakuan terhadap ketangguhan Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia, kini dicabut karena 'tidak pantas memberi penghormatan terhadap entitas sejarah yang bertanggung jawab atas kekejaman terhadap warga Poland'. Zelensky merespons dalam waktu kurang dari 24 jam—dengan mengembalikan medali tersebut secara resmi. Tindakan ini bukan hanya protes simbolis; ia menandai retaknya dasar kepercayaan antara dua negara yang selama ini menjadi tulang punggung dukungan Barat terhadap Ukraina.

Penyebab langsung konflik ini adalah keputusan Kementerian Pertahanan Ukraina awal 2024 untuk menamai ulang Batalyon Mekanik Terpisah ke-103 sebagai 'Batalyon UPA', menghormati Tentera Pemberontak Ukraina (UPA). Bagi Poland, UPA bukanlah pejuang kemerdekaan—tetapi pelaku genosida. Antara 1943 dan 1945, unit-unit UPA membunuh sekitar 100.000 warga Poland di wilayah Volhynia dan Galicia Timur. Warsaw telah lama mengklasifikasikan peristiwa itu sebagai genosida dan melarang segala bentuk penghormatan terhadap organisasi tersebut di bawah undang-undang sejarahnya.

Luka sejarah yang belum sembuh

Sejarah UPA tidak dapat dipisahkan dari konteks pergolakan Eropa Timur pasca-Perang Dunia II. Sebagai sayap bersenjata Organisasi Nasionalis Ukraina (OUN), UPA berjuang melawan pendudukan Soviet dan Poland—tetapi juga menjalankan kampanye kekerasan sistematis untuk 'mengeluarkan' penduduk Poland dari wilayah yang diklaim sebagai tanah air Ukraina. Balasan dari pihak Poland dan tentara Poland di bawah pemerintahan sementara juga menimbulkan korban di kalangan warga Ukraina. Namun, dalam narasi resmi Poland, Volhynia tetap menjadi trauma nasional—satu episode yang tidak bisa direhabilitasi melalui penghormatan modern.

Isu ini bukan baru. Pada 2016, Poland menghalangi upacara peringatan UPA di Warsawa. Pada 2017, Ukraina meluluskan undang-undang yang mengakui pejuang kemerdekaan termasuk anggota UPA sebagai 'pahlawan negara'. Ketegangan itu reda sementara saat perang Rusia-Ukraina meletus Februari 2022. Poland menjadi pendukung paling gigih Ukraina: pintu masuk utama bantuan senjata Barat, tuan rumah bagi lebih dari tiga juta pengungsi, dan penasihat strategis penting dalam operasi militer.

Gelombang balasan di Kiev

Keputusan Poland tidak hanya ditujukan kepada Zelensky. Ia memicu reaksi berantai di kalangan elit Ukraina. Mantan presiden Petro Poroshenko dan Viktor Yushchenko—keduanya penerima Bintang Putih—mengembalikan penghargaan masing-masing dalam waktu 48 jam. Menteri Luar Ukraina Dmytro Kuleba menyebut tindakan Warsaw sebagai 'kesalahan besar yang secara langsung menguntungkan Rusia'. Ia menegaskan bahwa perpecahan antara sekutu pada saat kritis hanya melemahkan posisi Ukraina di hadapan NATO dan EU.

Namun, suara kritik juga muncul dari dalam. Beberapa ahli sejarah dan analis pertahanan di Kyiv mengakui bahwa penamaan ulang batalyon militer itu adalah tindakan provokatif yang tidak tepat waktu. Ukraina bergantung pada dukungan militer dan logistik Poland—termasuk investasi dalam sistem pertahanan udara, pelatihan pasukan khusus, dan akses ke pelabuhan laut di Baltik melalui wilayah Poland. Ketegangan ini berpotensi mengikis keyakinan di kalangan pembuat kebijakan Eropa yang sudah menghadapi tekanan politik domestik akibat kelelahan perang.

Risiko geopolitik di tengah-tengah perang

Krisis ini muncul pada masa paling sensitif: Ukraina sedang melancarkan serangan balik di sepanjang perbatasan timur dan selatan, sambil berusaha mempercepat integrasi dengan struktur keamanan Eropa. Poland merupakan salah satu negara paling vokal dalam desakan agar UE mempercepat proses keanggotaan Ukraina dan memperketat sanksi terhadap Rusia. Jika hubungan bilateral terus memburuk, hal ini bisa mengganggu aliran senjata, mengurangi kecepatan pelatihan bersama, dan melemahkan koordinasi diplomasi di forum seperti NATO dan Dewan Eropa.

Di tingkat rakyat, dukungan Poland terhadap Ukraina masih kuat—namun tidak lagi tak tergoyahkan. Survei CBOS November 2023 menunjukkan dukungan terhadap penerimaan pengungsi Ukraina turun dari 78% (2022) menjadi 63%, terutama di kalangan pemilih partai konservatif Law and Justice (PiS). Insiden penghargaan ini berpotensi memperdalam perpecahan persepsi—bukan hanya antara pemerintah, tetapi juga di kalangan rakyat biasa.

Jalan ke depan: pragmatisme di atas naratif

Meskipun nada keras berlanjut di media, saluran diplomatik tetap terbuka. Menteri Luar Poland Radosław Sikorski dan Dmytro Kuleba telah melakukan diskusi telepon serta pertemuan tidak resmi di Brussels minggu lalu. Kedua belah pihak tidak mengumumkan hasil konkret—tetapi menyatakan komitmen untuk 'menjaga integritas kerja sama strategis'. Realitas geopolitik tidak membenarkan perpecahan: Ukraina tidak mampu kehilangan akses ke infrastruktur logistik Poland; Poland pun tidak ingin kehilangan pengaruhnya sebagai penasihat utama Ukraina di panggung Eropa.

Jalan keluar mungkin terletak pada kompromi berprinsip: Ukraina bisa menghindari menggunakan nama UPA dalam konteks institusi militer formal, tanpa mengubah undang-undang sejarah yang ada; Poland juga bisa mengakui bahwa interpretasi sejarah Ukraina terhadap UPA berakar dalam pengalaman kolonial Soviet—bukan kebencian terhadap Poland. Damai sejati di kawasan ini tidak dimulai dengan menghapus perbedaan sejarah, tetapi dengan mengelola perbedaan tersebut secara terbuka—tanpa membiarkannya menjadi senjata politik.

Bagi jurnalis di lapangan, suasana di Kyiv tetap tenang. Tidak ada demonstrasi jalanan, tidak ada pernyataan keras dari parlemen. Tetapi di kedutaan dan ruang rapat kementerian, ada kekhawatiran nyata: sejarah yang belum terselesaikan bukan hanya beban masa lalu—ia bisa menjadi celah yang dimanfaatkan oleh musuh hari ini.