TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🧠 Tahukah Anda

Siapa Sebenarnya 'Rombongan Laut' Itu? 3 Fakta yang Gugurkan Versi Rasmi Sejarah

Mereka tidak punya nama sejati. Tidak ada arsip kerajaan yang menyebut mereka sebagai satu entiti. Tapi di dinding kuil Mesir, mereka digambarkan sebagai gelombang kehancuran — pembakar kota, penculik dewa, dan penyebab kejatuhan peradaban paling maju zaman purba. Siapa sebenarnya 'Sea Peoples'? Dan mengapa semua bukti arkeologi menunjukkan: mereka bukan penyerbu — tapi pelarian?

11 Julai 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Sea Peoples
Siapa Sebenarnya 'Rombongan Laut' Itu? 3 Fakta yang Gugurkan Versi Rasmi Sejarah
Imej: Foto: Wikipedia — Sea Peoples (CC BY-SA 4.0)
AI

Apa yang Sebenarnya Terukir di Medinet Habu?

Bayangkan anda berdiri di hadapan dinding batu pasir setinggi 7 meter di Kuil Persemadian Ramses III di Medinet Habu — Mesir, tahun 1175 SM. Di sana, ukiran relief memperlihatkan pertempuran laut yang tak pernah dilihat sebelumnya: kapal kayu berlomba memotong ombak, prajurit berhelm bulat menembak panah dari dek, dan mayat-mayat terapung di antara kapal pecah. Teks hieroglif di atasnya menyatakan: 'Mereka datang dari negeri-negeri asing, tiada akar di tanah mereka... semua negeri bergoncang di hadapan mereka.'

Tetapi — jika anda baca teks itu dengan teliti, tidak satu pun nama 'Sea Peoples' muncul. Istilah itu dicipta 1.900 tahun kemudian, oleh ahli Mesir kuno Emmanuel de Rougé pada 1855. Ia adalah label kolonial abad ke-19 — bukan nama yang digunakan oleh orang Mesir sendiri. Mereka menyebut kelompok-kelompok spesifik: Peleset, Tjekker, Shekelesh, Weshesh, Denyen, Lukka, dan Sherden. Setiap nama ini muncul dalam daftar tahanan perang atau daftar korban — bukan sebagai 'konfederasi laut', tetapi sebagai entiti terpisah, dengan budaya, senjata, dan strategi tempur berbeza.

Bukti Arkeologi yang Menyangkal Cerita 'Invasi Besar'


Pada tahun 2013, tim arkeologi Universiti Haifa menggali di situs Tell es-Safi (dikenal sebagai kota kuno Gath, salah satu kota penting kaum Filistin). Di lapisan stratigrafi tahun 1130 SM — dua generasi selepas serangan Ramses III — mereka menemui: tembikar Mycenaean yang diimport dari Yunani selatan, tetapi juga tembikar lokal yang dibuat dengan teknik baru: roda tembikar berkelajuan tinggi, corak hiasan geometrik unik, dan residu zaitun dari wilayah Kreta. Artifak ini bukan hasil penjarahan — ia menunjukkan pemukiman berterusan, pertukaran teknologi, dan asimilasi budaya. Tidak ada lapisan abu tebal, tidak ada bukti pemusnahan mendadak. Kota itu tidak 'ditakluk', tetapi 'diubah wajahnya'.

Sama seperti di Ugarit (kini Suriah utara), di mana arsip tablet lumpur terakhir — ditulis dalam bahasa Ugarit, Akkadia, dan Hurrian — berakhir pada musim luruh 1185 SM. Isinya bukan tentang serangan, tetapi tentang kelangkaan gandum, kelaparan, pemberontakan nelayan di pelabuhan, dan surat darurat kepada raja Hatti: 'Kapal-kapal kami tidak kembali dari Alasiya (Siprus). Tidak ada garam, tidak ada ikan asin, tidak ada kayu cedar untuk kuil dewa.' Serangan 'Sea Peoples' mungkin hanya episod terakhir dalam krisis rantai bekalan yang sudah berlangsung 20 tahun.

Sherden: Bukan Penyerbu — Tapi Pengawal Kerajaan?


Salah satu kelompok paling banyak disebut — Sherden — ternyata pernah menjadi pengawal elit Ramses II. Relief di Abu Simbel (1255 SM) menunjukkan mereka berbaris di barisan depan pasukan Mesir, memegang pedang lurus dan perisai bundar. Dalam inskripsi Karnak, Ramses II menyatakan: 'Aku membawa Sherden dari pulau-pulau di tengah laut — dan menjadikan mereka tentara-Ku.' Mereka bukan musuh yang ditawan dalam pertempuran, tetapi migran yang direkrut secara sukarela. Analisis isotop gigi dari jenazah Sherden di makam Deir el-Medina (2019) menunjukkan asal usul mereka dari Sardinia dan dari wilayah Aegean barat daya — bukan satu lokasi tunggal, tetapi jaringan pelaut lintas pulau yang berpindah-pindah sejak 1300 SM.

Peleset dan Kelahiran Semula di Tanah yang Hilang


Nama Peleset — yang kemudian menjadi 'Filistin' — muncul dalam daftar tahanan Ramses III. Tapi catatan Mesir tidak menyebut mereka menyerang Gaza atau Ashkelon. Justru, arsip dari Alalah (Turki selatan) menunjukkan bahwa Peleset adalah pelaut bayaran yang bekerja untuk kerajaan Amurru sejak 1220 SM. Mereka hilang dari rekod pada 1190 SM — bukan karena dikalahkan, tetapi karena kerajaan Amurru runtuh, dan mereka berpindah ke wilayah pantai Levant untuk membangun semula. Di sana, mereka tidak menghancurkan kota-kota Kanaan — mereka mengambil alih pelabuhan, membangun sistem air canggih, dan mencipta industri besi yang lebih maju daripada Mesir pada masa itu.

Mengapa Sejarah Memilih 'Mitologi Serangan'?


Jawapannya terletak pada cara kita membaca kejatuhan peradaban. Abad ke-19 membutuhkan naratif heroik: kerajaan besar tumbang karena 'musuh luar' — bukan karena gagalnya sistem pajak, kegagalan diplomasi, atau kekurangan bijirin. Ramses III memang memenangi pertempuran laut — tetapi kejayaannya adalah taktikal, bukan strategik. Dua dekad selepas itu, Mesir kehilangan wilayah Suriah, produksi emas turun 70%, dan kuil-kuil berhenti membangun. Sea Peoples bukan penyebab kejatuhan Zaman Gangsa Akhir — mereka adalah bayangan terakhir dari sebuah dunia yang sedang remuk dari dalam. Dan mungkin, satu-satunya kebenaran yang benar-benar kekal tentang mereka ialah ini: mereka tidak pernah menyebut diri mereka 'Sea Peoples'. Nama itu diberikan kepada mereka — oleh mereka yang ingin melupakannya.

---
Rujukan: Sea Peoples — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: