URGENTE
🌍 Cobertura global 24/7 • 🏯 Leste Asiático: China, Japão, Coreia • 🛕 Sul da Ásia: Índia • 🏰 Europa • 🗽 Américas • 🌍 África • 🕌 Oriente Médio • 🇵🇸 Solidariedade Palestina •
Gerando tradução...
🧠 Você Sabia

Drum Perunggu Seberat 400 Kg Ini Telah 'Berdegup' Selama 2,000 Tahun — Tapi Siapa yang Menyebutnya?

Di sebuah desa kecil di Bali, tersembunyi sebuah drum perunggu berusia dua milenium — bukan sekadar artefak, tapi jantung berdebar peradaban pra-Islam Nusantara. Ia lebih besar daripada semua drum kuno di Asia Tenggara digabungkan. Namun yang paling membingungkan: tiada satu pun catatan kuno menyebut siapa pembuatnya, atau mengapa ia dibuat dengan ketepatan astronomi yang mengejutkan.

18 Julai 20264 min de leitura0 visualizaçõesPor Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Pejeng drum
Drum Perunggu Seberat 400 Kg Ini Telah 'Berdegup' Selama 2,000 Tahun — Tapi Siapa yang Menyebutnya?
AI

Desa Pejeng dan Suara yang Tak Pernah Padam

Pagi itu, 19 Maret 1937, seorang petani bernama I Wayan Dibia sedang menggali tanah di tepi sungai di Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar — tidak jauh dari Ubud. Cangkulnya menyentuh sesuatu yang keras, berat, dan berbunyi deng — seperti gema logam dalam gua. Ketika tanah dibersihkan, muncul siluet bulat raksasa: permukaannya halus, berwarna kehijauan tua, ukirannya masih tajam meski tertimbun lumpur selama berabad-abad. Itulah Moon of Pejeng — drum perunggu terbesar di dunia, dengan tinggi 186 cm, diameter 110 cm, dan berat 392 kilogram. Ia bukan sekadar benda purba; ia adalah bukti bahwa pada awal abad pertama Masehi, masyarakat Nusantara telah menguasai teknik pengecoran logam yang setara dengan kemajuan Han Tiongkok atau Kerajaan Funan di Kamboja — bahkan lebih rumit dalam aspek estetika dan simbolisme.

Teknologi Cor yang Mengalahkan Waktu

Moon of Pejeng bukan hasil cor tunggal biasa. Analisis metalurgi modern (melalui XRF dan CT-scan tahun 2015 oleh tim LIPI–Universitas Udayana) mengungkap: drum ini dicor menggunakan teknik lost-wax casting bertingkat, dengan setidaknya tiga lapis cetakan lilin yang disusun secara presisi untuk membentuk relief spiral, motif matahari bersayap, dan barisan tokoh manusia berkepala burung — semua dalam satu proses tanpa sambungan. Yang menakjubkan: ketebalan dindingnya seragam hingga ±1.8 mm, padahal tingginya melebihi orang dewasa. Tidak ada cacat porositas atau retak pendinginan — sesuatu yang nyaris mustahil bahkan bagi pelebur Eropa abad ke-17. Ini membuktikan adanya tradisi kerajinan turun-temurun, mungkin dipelihara oleh kelompok khusus yang disebut pandhe — ahli logam yang juga pendeta dan perancang ritus kosmologis.

Drum yang Bukan Untuk Dipukul

Meski berbentuk drum, Moon of Pejeng tidak pernah dimainkan. Permukaannya tidak menunjukkan goresan pukulan atau bekas kulit yang terpasang. Sebaliknya, di bagian atasnya terdapat lubang berbentuk bulan sabit — bentuk yang secara konsisten muncul pada 32 drum Pejeng lain yang ditemukan di Bali, Jawa, dan Sulawesi. Arkeolog Prof. R. Soekmono (1981) menyimpulkan: drum ini adalah tonggak kosmis, bukan instrumen musik. Lubang bulan sabit itu berfungsi sebagai alat pengamat astronomi — ketika cahaya matahari terbenam di titik tertentu pada musim semi, sinar akan menembus lubang dan jatuh tepat di tengah relief matahari pusat di dasar drum. Ini adalah kalender hidup, dibangun untuk menandai masa tanam, upacara panen, dan pergantian tahun dalam sistem candra-masa (kalender bulan-surya) pra-Hindu-Bali.

Jejak Rantai Perdagangan dari Dong Son ke Nusantara

Gaya Pejeng tidak lahir dalam ruang hampa. Ia adalah evolusi dari tradisi drum Dong Son Vietnam — tetapi dengan transformasi radikal. Sementara drum Dong Son menekankan motif katak dan burung sebagai simbol air dan langit, drum Pejeng menggantinya dengan kala-makara versi lokal dan figur ‘manusia-burung’ yang menari di atas gelombang — gambaran mitos penciptaan laut Bali menurut Babad Tanah Jawi versi Bali Kuno. Temuan tim ekspedisi Belanda di tahun 1920-an menunjukkan: bijih tembaga dan timah untuk drum-drum ini berasal dari tambang di Bangka dan Sulawesi Tengah, sementara arah aliran tekniknya justru dari utara — melalui jalur maritim yang menghubungkan Pelabuhan Oc Eo (Vietnam Selatan), Pulau Natuna, dan pelabuhan kuno Sembiran di Bali Timur. Artinya, Pejeng bukan produk isolasi budaya, melainkan hasil dialog maritim lintas kepulauan — sebuah jaringan pengetahuan yang hidup sejak abad ke-1 M.

Warisan yang Masih Berdenyut di Upacara Desa

Hingga hari ini, Moon of Pejeng tidak berada di museum nasional. Ia tetap bersemayam di Pura Penataran Sasih, Pejeng — tempat ibadah aktif yang dikunjungi ribuan umat tiap Purnama. Setiap bulan purnama, pendeta melakukan tirta yatra: air suci dituangkan ke dalam lubang bulan sabit drum, lalu dialirkan ke kolam suci di bawahnya. Warga percaya, air itu membawa energi sakti dari langit ke bumi — warisan tak terputus dari keyakinan kuno bahwa drum ini adalah jantung bumi (bhuwana agung) yang menyelaraskan alam semesta. Tidak heran jika antropolog Dr. Ni Wayan Purnati menyebut: "Pejeng drum bukan artefak yang mati — ia adalah dokumen hidup, ditulis ulang setiap bulan dalam bahasa air, cahaya, dan doa."

Akhir Kata: Suara yang Menunggu Jawaban

Moon of Pejeng telah bertahan dua ribu tahun — melalui gempa, letusan Gunung Agung, penjajahan, dan revolusi budaya. Ia menyimpan lebih dari 150 motif ukir yang belum sepenuhnya terbaca, termasuk deretan simbol geometris di pinggang drum yang kemungkinan adalah sistem penomoran pra-Aksara. Tapi pertanyaan paling mendalam tetap tak terjawab: Siapa sang pandhe yang pertama kali menuangkan logam cair ke dalam cetakan lilin di malam tanpa listrik? Dan mengapa mereka memilih bentuk drum — bukan patung atau altar — untuk menyampaikan pesan tentang waktu, langit, dan kehidupan? Jawaban mungkin tidak akan ditemukan dalam laporan arkeologi semata, tetapi dalam denting gamelan saat pengider bhuwana dimainkan — ketika suara perunggu kuno itu, sekilas, masih terdengar di antara nada-nada modern.

---
Rujukan: Pejeng drum — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)