TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Sakit Kepala Bisa Buta: Cerita Sebenarnya Tentang Arteritis Sel Raksasa yang Banyak Orang Tidak Tahu

Arteritis sel raksasa, juga dikenal sebagai arteritis temporal, adalah penyakit radang autoimun yang menyerang pembuluh darah besar. Tanpa pengobatan segera, penyakit ini bisa menyebabkan kebutaan permanen. Ketahui gejala, penyebab, dan pengobatan penyakit misterius ini yang sering disalahpahami sebagai sakit kepala biasa.

28 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Giant cell arteritis
Sakit Kepala Bisa Buta: Cerita Sebenarnya Tentang Arteritis Sel Raksasa yang Banyak Orang Tidak Tahu
Imej: Foto: Wikipedia — Giant cell arteritis (CC BY-SA 4.0)
AI

Babak Pertama: Sakit Kepala yang Tidak Biasa

Tn. Razak, seorang guru berusia 65 tahun, mulai merasakan sakit kepala yang aneh. Bukan sakit biasa seperti migrain atau tekanan. Sakit ini berdenyut di bagian pelipis, seolah-olah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia juga mengeluh demam, lemas, dan nyeri tubuh. "Mungkin stres kerja," pikirnya. Tapi ketika sakit itu bertahan lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu penglihatannya, dia terpaksa pergi ke klinik. Dokter yang menanganinya curiga—gejala ini bukan sakit kepala biasa. Mungkin arteritis sel raksasa (GCA), penyakit radang pembuluh darah besar yang bisa menyebabkan buta jika tidak segera diobati.

Apa Itu Arteritis Sel Raksasa?

GCA, atau arteritis temporal, adalah penyakit autoimun di mana sistem imun tubuh salah menyerang dinding pembuluh darah besar, terutama arteri temporal yang berada di kepala dan leher. Penyakit ini paling sering menyerang individu berusia 50 tahun ke atas, dengan insiden tertinggi pada mereka yang berusia 70-80 tahun. Wanita lebih rentan dibandingkan laki-laki. Dalam kasus Tn. Razak, peradangan pada dinding arteri menyebabkan saluran darah membengkak, menyempitkan aliran darah, dan mengurangi pasokan oksigen ke jaringan sekitar, termasuk saraf optik mata. Inilah yang mengancam penglihatannya.

Gejala yang Menyesatkan

GCA sering menyerupai gejala penyakit lain, menyebabkan banyak pasien terlambat mendapatkan pengobatan. Beberapa gejala umum meliputi:
  • Sakit kepala yang berdenyut atau terus-menerus di area pelipis
  • Kulit kepala yang sensitif saat disentuh
  • Nyeri rahang saat mengunyah atau berbicara
  • Penglihatan kabur, double vision (penglihatan ganda), atau buta sementara
  • Demam, penurunan berat badan, dan kelelahan berlebihan
  • Nyeri otot dan sendi, terutama di bahu, leher, dan pinggul (gejala yang tumpang tindih dengan polymyalgia rheumatica)
Tn. Razak mengalami hampir semua gejala ini kecuali buta. Untungnya, dia datang awal. Jika tidak, risiko buta permanen sangat tinggi.

Diagnosis: Mencari Benang Merah

Mendiagnosis GCA tidak mudah. Dokter akan memulai dengan tes darah untuk mengukur kadar eritrosit sedimentasi (ESR) dan protein C-reaktif (CRP)—keduanya biasanya tinggi dalam peradangan. Namun, tes ini tidak spesifik. Langkah berikutnya adalah pencitraan seperti ultrasound Doppler, MRI, atau PET scan untuk melihat dinding arteri yang membengkak. Tapi standar emas diagnosis adalah biopsi arteri temporal: mengambil sampel kecil arteri di bawah anestesi lokal, lalu diperiksa di bawah mikroskop. Namun, dalam sekitar 10% kasus, biopsi menunjukkan hasil normal meskipun pasien sebenarnya menderita GCA. Jadi, dokter perlu menggabungkan semua informasi untuk membuat keputusan.

Dalam kasus Tn. Razak, ESR dan CRPnya sangat tinggi, dan ultrasound menunjukkan dinding arteri yang menebal (halo sign). Biopsi kemudian mengonfirmasi kehadiran sel raksasa multinukleus—ciri khas penyakit ini. Diagnosis pun ditetapkan.

Pengobatan: Steroid Dosis Tinggi dan Langkah Berhati-hati


Pengobatan GCA perlu dimulai segera setelah dicurigai, tanpa menunggu hasil biopsi. Ini karena setiap detik yang berlalu meningkatkan risiko kebutaan permanen. Obat utama adalah kortikosteroid seperti prednisolon atau prednison, diberikan dalam dosis tinggi (40-60 mg sehari) selama 2-4 minggu, kemudian dikurangi secara perlahan-lahan sebanyak 15% sebulan. Penurunan dos yang bertahap penting untuk menghindari efek samping seperti osteoporosis, diabetes, tekanan darah tinggi, dan risiko infeksi.

Tn. Razak memulai pengobatan dengan prednisolon 50 mg sehari. Dalam waktu seminggu, sakit kepalanya mereda, demamnya hilang, dan tenaganya kembali. Tapi proses penurunan dos memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Ia harus menjalani pemantauan ketat oleh ahli reumatologi untuk memastikan penyakit tidak kembali aktif.

Komplikasi yang Mengancam Nyawa


Jika tidak diobati, GCA bisa menyebabkan komplikasi serius:
  • Kehilangan penglihatan permanen akibat iskemia saraf optik
  • Aneurisma dan diseksi aorta—keadaan yang bisa berakibat fatal
  • Stroke atau serangan iskemia sementara
  • Claudikasio rahang (nyeri rahang saat mengunyah)
  • Demam berkepanjangan dan penurunan berat badan yang drastis

Sebab itulah pasien dianjurkan segera ke rumah sakit jika mengalami sakit kepala yang luar biasa, terutama jika berusia 60 tahun ke atas. Jangan anggap remeh.

Epilog: Hidup Bersama GCA


Tn. Razak kini berada di fase pemeliharaan pengobatan. Dosis steroidnya sudah diturunkan menjadi 10 mg sehari, dan ia masih dipantau setiap tiga bulan. Ia belajar mengelola kesehatannya dengan diet rendah garam dan gula, olahraga ringan, serta pengendalian tekanan. "Saya bersyukur dapat diagnosis awal. Jika tidak, mungkin saya sudah buta sekarang," katanya dengan nada lega.

Bagi pasien GCA, kesadaran dini dan pengobatan tepat adalah kunci untuk menghindari cacat permanen. Jangan biarkan sakit kepala biasa menutupi pandangan Anda terhadap realitas—kadang-kadang, itu adalah tanda bahwa arteri Anda sedang melawan musuh dari dalam.

---
Rujukan: Arteritis Sel Raksasa — Wikipedia

Tersedia dalam: