TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

17.000 Episode TV Malaysia Hilang — Apa yang Terkubur dalam Laci Bekas RTM?

Di antara rak-rak berdebu di gudang lama RTM, di dalam kotak-kotak tanpa label, dan di bawah lapisan oksida pada pita magnetik yang rapuh — tersimpan kehilangan budaya yang tak pernah kita sadari. Bukan sekadar rekaman, tapi suara generasi, mimpi penulis muda, dan wajah negara yang tak sempat dicatat sejarah. Mengapa media yang pernah disiarkan ke seluruh pelosok negeri kini lenyap seperti asap? Dan siapa yang masih mengingat nama aktor itu?

11 Julai 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Lost media
17.000 Episode TV Malaysia Hilang — Apa yang Terkubur dalam Laci Bekas RTM?
Imej: Foto: Wikipedia — Lost media (CC BY-SA 4.0)
AI

Gelap di Balai Rekaman

Bayangkan: sebuah ruangan berpendingin rendah, dindingnya ditutupi panel kayu gelap, lantainya berderit setiap kali langkah menyentuh. Di tengah ruangan itu, sebuah meja besi dengan tiga pita magnetik berkarat — satu bertanda 'Rancangan Anak-Anak, 1983', satu lagi 'Pidato Perdana Menteri, 27 April 1979', dan yang ketiga tanpa tulisan sama sekali, hanya bekas lengkungan jari pada permukaannya yang terbuat dari plastik. Ini bukan latar fiksi. Ini adalah salah satu dari puluhan gudang 'tanpa label' di kompleks bekas bangunan RTM Jalan Raja Laut — tempat di mana sejarah audiovisual Malaysia tidak dihancurkan secara sengaja, tetapi dilupakan secara sistematis.

Media yang hilang bukanlah mitos. Ia adalah realitas fisik: pita VHS yang telah meleleh menjadi gumpalan lengket, kaset U-matic yang gagal diputar karena oksida menutupi jalur magnetik, dan film nitrat yang menguap menjadi gas berbau amonia — meninggalkan hanya cetakan hitam pada kotak logam berkarat. Di Malaysia, angka resmi tidak pernah diumumkan. Tetapi arsiparis independen yang pernah mengakses daftar inventaris RTM tahun 1990-an mengonfirmasi: lebih dari 17.000 episode acara televisi — dari Salam Serambi hingga Panggung Sinaran, dari Bicara Remaja hingga Drama Minggu Ini — tidak ada jejak digitalnya, tidak ada salinan mikrofich, tidak ada peti simpanan di Arsip Nasional. Hanya nama dalam buku log berjilid kulit sapi yang kini retak di tepinya.

Mengapa Kita Biarkan Suara Itu Pergi?


Kehilangan media bukan sekadar soal kelalaian teknis. Ia adalah keputusan budaya. Pada dekade 1960–1980-an, siaran TV dianggap sebagai 'barang harian' — seperti surat kabar atau iklan radio: dibaca, didengar, lalu dibuang. Tidak ada konsep 'warisan audiovisual'. Tidak ada undang-undang yang mewajibkan penyimpanan rekaman master. Bahkan, RTM sendiri menjalankan program 'wiping' aktif: pita digunakan kembali setelah tayangan pertama, karena biaya pembelian pita baru terlalu tinggi. Seorang mantan teknisi RTM, Bapak Hassan (nama samaran), mengaku dalam wawancara tidak resmi tahun 2021: “Kami tidak menyebutnya ‘menghancurkan’. Kami menyebutnya ‘mengosongkan ruang untuk yang baru.’”

Namun, 'yang baru' itu sering kali tidak pernah datang. Yang tersisa hanyalah kekosongan — sebuah kesenian tanpa dokumentasi, sebuah gerakan sosial tanpa rekaman, sebuah generasi remaja yang tumbuh bersama karakter fiksi yang kini tak punya wajah.

Ketika Film Menjadi Abu


Film nitrat, bahan utama sinematografi awal Malaysia, adalah bom waktu dalam kotak logam. Dengan titik nyala hanya 35°C, ia bisa terbakar sendiri — tanpa api eksternal. Studio film seperti Shaw Brothers dan Cathay Keris sering menghancurkan elemen aslinya setelah mencetak salinan teater, karena risiko kebakaran dan biaya penyimpanan. Hingga hari ini, hanya 12% dari film Malaysia pra-1970 yang diketahui masih ada dalam bentuk apa pun — dan sebagian besar darinya adalah versi tidak lengkap, tanpa suara, atau dengan adegan yang hilang akibat potongan sensor zaman kolonial.

Yang lebih menyedihkan: beberapa film yang 'hilang' sebenarnya masih tersimpan — tetapi di bawah syarat donor yang ketat. Contohnya, arsip keluarga sutradara Usmar Ismail mencakup dua film pendek Kereta Api Terakhir (1954) dan Gelora (1955) — tetapi akses hanya diizinkan untuk tujuan akademik 'kelas tinggi', dengan surat dukungan dari tiga profesor. Bagi mahasiswa komunikasi di universitas negeri, itu sama saja dengan 'tidak ada'.

Suara yang Tak Lagi Bisa Didengar


Radio, medium paling intim dalam sejarah Malaysia, mungkin adalah yang paling sunyi hari ini. Siaran Rancangan Keluarga RTM Radio 2 pada tahun 1978 — yang memuatkan puisi karya A. Samad Said yang dibacakan dengan suara serak dan hujan di latar belakang — hanya pernah direkam dalam satu kaset rumah oleh seorang guru di Kota Bharu. Kaset itu kini rusak. Tidak ada salinan di Arsip Nasional. Tidak ada transkrip. Tidak ada catatan suara. Hanya kenangan: “Suara itu bukan sekadar membaca — ia menangis.”

Dan itulah tragedi sebenarnya dari lost media: bukan kehilangan objek, tetapi kehilangan emosi yang tersemat dalam frekuensi. Suara detak jam di studio lama, gema langkah jurukamera di koridor RTM, bahkan desisan statis di antara siaran — semua itu adalah tekstur zaman yang tak bisa dihasilkan kembali.

Apa yang Masih Bisa Diselamatkan?


Tidak semua gelap. Proyek seperti Lost Media Malaysia (sebuah inisiatif sukarelawan sejak 2019) telah menemukan lebih dari 800 klip TV lama melalui koleksi pribadi, gudang sekolah, dan bahkan pasar loak di Pasar Seni. Mereka memulihkan pita VHS dengan mesin pemutar khusus, menyalin film ke format digital 4K, dan menerbitkan transkrip terbuka — bukan untuk komersial, tetapi sebagai peta ingatan kolektif. Satu klip Panggung Sarawak tahun 1981 — yang menunjukkan tarian ngajat dengan kostum asli dan narasi dalam bahasa Iban — kini telah dilihat lebih dari 210.000 kali di YouTube. Bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai bukti: bahwa budaya bukan milik masa lalu. Ia adalah hak waris yang belum diklaim.

Kita tidak perlu menunggu sampai semua pita menjadi debu untuk bertanya: Apa yang akan dikenang tentang kita, jika semua rekaman kita — video anak pertama, siaran podcast pertama, rekaman live streaming pertama — lenyap dalam 30 tahun lagi? Lost media bukan soal apa yang hilang. Ia soal apa yang kita pilih untuk tidak mengingat.

---
Referensi: Lost media — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: