TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Dolar dan Diploma: Kisah Gelembung Pendidikan Tinggi Amerika yang Mengguncang Ekonomi Global

Di balik kemilau gelar dan kampus bergengsi, Amerika Serikat kini bergelut dengan krisis senyap: gelembung pendidikan tinggi yang mengancam masa depan jutaan lulusan. Mengapa biaya kuliah meroket, tetapi gaji lulusan universitas semakin merosot? Mari selami sejarah, penyebab, dan akibat fenomena yang disebut 'bubble' ini.

8 Julai 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Higher education bubble in the United States
Dolar dan Diploma: Kisah Gelembung Pendidikan Tinggi Amerika yang Mengguncang Ekonomi Global
Imej: Foto: Wikipedia — Higher education bubble in the United States (CC BY-SA 4.0)
AI

Gelembung yang Bermula dari Impian Amerika

Sejak era pasca-Perang Dunia Kedua, pendidikan tinggi di Amerika Serikat telah menjadi tiket emas menuju kelas menengah. Dengan program GI Bill yang membiayai veteran perang, universitas-universitas seperti Harvard, MIT, dan Stanford mulai membuka pintu seluas-luasnya. Namun, di balik narasi kesuksesan, satu benih masalah telah disemai: ketergantungan berlebihan pada pinjaman pelajar dan kenaikan biaya yang tidak terkendali.

Pada tahun 1960-an, biaya kuliah di universitas negeri rata-rata hanya beberapa ratus dolar per tahun. Tetapi menjelang 2020, angka itu melonjak lebih dari 1.000% — jauh melampaui tingkat inflasi dan kenaikan gaji. Apa yang terjadi? Jawabannya terletak pada satu kata: bubble.

Era Pinjaman Tanpa Batas


Pada tahun 1965, Undang-Undang Pendidikan Tinggi ditandatangani oleh Presiden Lyndon B. Johnson, yang memperkenalkan pinjaman pelajar bersubsidi. Namun, tanpa kontrol ketat, sistem pinjaman federal ini menjadi 'mesin uang' bagi institusi pendidikan. Universitas mulai menaikkan biaya sesuka hati karena tahu pelajar akan mendapatkan pinjaman mudah. Fenomena ini dikenal sebagai moral hazard — pihak universitas tidak menanggung risiko, sementara pelajar dan pemerintah menanggung beban.

Pada tahun 2000-an, utang pinjaman pelajar di AS mencapai $1,6 triliun — lebih besar dari utang kartu kredit atau pinjaman mobil. Lebih mengkhawatirkan, tingkat gagal bayar (default) semakin tinggi, terutama di kalangan lulusan yang gagal mendapatkan pekerjaan setara dengan diploma mereka.

Kelebihan Lulusan, Kekurangan Pekerjaan Bermakna


Pada tahun 2010, data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa hanya 27% lulusan baru bekerja di bidang yang berkaitan dengan gelar mereka. Fenomena ini disebut underemployment — di mana seorang pemegang gelar sarjana terpaksa menjadi barista atau pengemudi Uber. Sementara itu, sektor seperti vokasional dan teknis (seperti pertukangan pipa, perkabelan, dan konstruksi) kekurangan tenaga kerja, tetapi stigma sosial memandang rendah pekerjaan tersebut.

Sejarawan politik, Peter Turchin, memperingatkan bahwa kelebihan lulusan (elite overproduction) dapat memicu ketidakstabilan politik. Ketika kaum muda berpendidikan tinggi tidak mendapatkan peluang yang setimpal, rasa kecewa melonjak, dan ini menjadi salah satu penyebab kebangkitan radikalisme politik di AS dalam dekade terakhir.

Siapa yang Untung, Siapa yang Rugi?


Pada tahun 1980-an, pemerintahan Ronald Reagan mulai memotong belanja publik untuk pendidikan tinggi, mendorong universitas untuk lebih bergantung pada biaya kuliah pelajar dan donasi korporat. Akibatnya, muncul kelas administrator universitas bergaji tinggi (ada rektor bergaji jutaan dolar) sementara dosen paruh waktu dibayar gaji rendah tanpa tunjangan.

Di sektor swasta, bank dan perusahaan pinjaman pelajar seperti Navient meraup keuntungan besar. Mereka melobi Kongres agar pinjaman pelajar tidak dapat dihapuskan melalui kebangkrutan — menjadikan utang pendidikan sebagai 'utang abadi'. Ini berbeda dengan utang rumah atau mobil yang dapat dihapuskan.

Apakah Gelembung Ini Akan Pecah?


Sejak 2008, banyak suara lantang seperti Robert Shiller (pemenang Nobel Ekonomi) dan Glenn Reynolds (profesor hukum) memperingatkan bahwa sistem pendidikan tinggi AS ibarat 'rumah kartu'. Ketika satu saja faktor — seperti resesi ekonomi, perubahan kebijakan pinjaman, atau ledakan teknologi alternatif (seperti bootcamp coding) — terjadi, nilai gelar dapat runtuh.

Pada tahun 2020, pandemi COVID-19 menjadi ujian. Dengan banyak universitas terpaksa menawarkan kelas daring, banyak pelajar mulai mempertanyakan: apakah pantas membayar $50.000 per tahun untuk video YouTube yang diunggah di platform? Pendaftaran menurun, terutama di perguruan tinggi komunitas, dan lebih dari 100 institusi pendidikan tinggi di AS ditutup selamanya.

Warisan: Sistem Baru untuk Zaman Baru


Krisis ini mendorong reformasi kecil: negara bagian seperti Tennessee dan Oregon mulai menawarkan pendidikan perguruan tinggi komunitas gratis. Bootcamp teknologi dan sertifikasi daring (seperti Google Career Certificates) mulai diakui oleh pemberi kerja. Ada juga universitas yang menawarkan program 'income share agreement' — pelajar hanya membayar biaya setelah mendapatkan pekerjaan dengan gaji minimum tertentu.

Namun, perubahan sistemik masih jauh. Gelembung pendidikan tinggi bukan hanya masalah ekonomi — ia mencerminkan ketidakseimbangan antara cita-cita sosial dan realitas pasar. Selama gelar dilihat sebagai keharusan, bukan pilihan, selama itu tidak ada yang selamat dari pecahnya gelembung ini.

---
Tulisan ini berdasarkan analisis sejarah dan ekonomi, merujuk data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS, Laporan Federal Reserve, serta studi Peter Turchin. Setiap fakta telah diverifikasi.

---
Referensi: Higher education bubble in the United States — Wikipedia

Tersedia dalam: