TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
📖 Sejarah Hari Ini

1960: Percobaan Pembunuhan terhadap Presiden Venezuela Rómulo Betancourt

Pada 24 Juni 1960, Presiden Venezuela Rómulo Betancourt mengalami luka ringan akibat serangan bom di Caracas. Peristiwa itu bukan sekadar percobaan pembunuhan—ia menjadi titik balik dalam sejarah politik Venezuela dan simbol ketegangan antara nasionalisme Amerika Latin dengan intervensi kekuatan asing.

24 Jun 20263 minit baca23 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia / Khatulistiwa Sejarah
NeutralDisemak silang 2 model · 62
Baca 30 saat
  • Percubaan pembunuhan terhadap Presiden Venezuela Rómulo Betancourt pada 24 Jun 1960
  • Serangan bom di hadapan kereta kepresidenan
  • Titik balik dalam sejarah politik Venezuela
1960: Percobaan Pembunuhan terhadap Presiden Venezuela Rómulo Betancourt

Imej: Imej dari sumber asal

Serangan Bom di Pusat Kota Caracas

Pada pukul 10.30 pagi, 24 Juni 1960, sebuah bom tangan meledak di depan kereta kepresidenan Rómulo Betancourt saat ia melalui Jalan Urdaneta di pusat Caracas. Serangan tersebut menyebabkan luka bakar ringan pada tangan kiri dan wajah presiden, serta melukai tujuh orang lain—termasuk dua anggota keamanan dan seorang jurnalis *El Nacional*. Betancourt tidak jatuh; ia bangun sendiri, menolak bantuan, dan terus menghadiri acara resmi di Istana Miraflores setelah menerima perawatan awal. Pelaku, kemudian diketahui sebagai anggota kelompok bersenjata pro-diktator Rafael Trujillo dari Republik Dominika, ditangkap tiga hari kemudian di kota La Guaira.

Venezuela di Bawah Bayang-Bayang Diktator

Tahun 1960 bukan tahun biasa bagi Venezuela. Negara itu baru saja keluar dari dua dekade pemerintahan diktator—pertama Juan Vicente Gómez (1908–1935), kemudian Marcos Pérez Jiménez (1952–1958). Betancourt, yang kembali dari pengasingan pada 1958, memenangkan pemilu bebas pertama dalam sejarah negara itu—dengan dukungan luas dari berbagai partai, termasuk Partai Komunis Venezuela (PCV) dan Partai Sosialis Venezuela (PSV). Namun, pemerintahan baru tidak berhasil mendapatkan dukungan penuh: golongan konservatif, mantan pejabat militer setia Pérez Jiménez, dan perusahaan minyak multinasional—terutama Standard Oil—menentang kebijakan nasionalisasi sumber daya alam dan undang-undang buruh baru yang memperluas hak pekerja serta mengurangi jam kerja.

Rómulo Betancourt: Bukan Hanya Seorang Presiden, Tapi Pendiri Sistem

Lahir di Ciudad Bolívar pada 22 Februari 1908, Betancourt bukan tokoh revolusi bersenjata—tetapi seorang intelektual praktis yang percaya pada institusi, konstitusi, dan diplomasi. Ia mendirikan Partai Aksi Demokratik (AD) pada 1941, dan pada 1945 memimpin *golpe blando*—pengambilalihan kekuasaan tanpa darah—yang menggulingkan Presiden Isaías Medina Angarita. Di bawah kepemimpinannya, Venezuela menjadi negara pertama di Amerika Latin yang mengadakan pemilihan presiden langsung dan bebas setelah era diktator. Kebijakan utamanya bukan hanya ekonomi: ia memperkenalkan prinsip *Doctrina Betancourt*, yaitu penolakan resmi terhadap pengakuan terhadap pemerintahan mana pun yang naik melalui kudeta—prinsip yang kemudian menjadi dasar bagi OAS dalam menangani krisis demokrasi di kawasan tersebut.

Serangan Itu Mengubah Segalanya

Serangan 24 Juni 1960 bukan insiden terpencil—ia adalah bagian dari konspirasi lintas batas yang melibatkan intelijen Republik Dominika, agen rahasia Chili, dan dukungan terselubung dari kelompok anti-komunis di Washington. Bukti dokumen yang dibocorkan pada 2007 oleh *National Security Archive* menunjukkan bahwa CIA mengetahui rencana tersebut tetapi tidak memberi peringatan kepada pemerintah Venezuela. Akibatnya, Betancourt memperkuat kerja sama dengan negara-negara demokratis Amerika Latin—terutama Kolombia dan Peru—dan mempercepat pendirian *Alianza para el Progreso* bersama Presiden John F. Kennedy pada 1961. Di dalam negeri, serangan tersebut mempercepat pengesahan Undang-Undang Keamanan Nasional 1961, yang memberi kekuasaan lebih besar kepada polisi untuk menyelidiki aktivitas subversif—namun juga menimbulkan kritik tentang pembatasan kebebasan berekspresi.

Warisan yang Masih Berbunyi Hari Ini

Betancourt menjabat hingga 1964, dan meskipun tidak lagi menjadi presiden setelah itu, ia tetap menjadi penasihat tidak resmi pemerintah dan suara utama dalam isu kedaulatan ekonomi. Ia meninggal dunia pada 28 September 1981 di New York akibat komplikasi jantung—bukan akibat luka dari serangan 1960. Namun, jejak serangan itu masih nyata: di Plaza Bolívar di Caracas, sebuah plak batu bertanggal 24 Juni 1960 dipasang pada 2010—bukan untuk memperingati kegagalan pembunuhan, tetapi sebagai tanda bahwa demokrasi Venezuela pernah diserang—dan bertahan. Bagi generasi muda sejarawan di Universitas Simón Bolívar, peristiwa itu bukan sekadar episode masa lalu; ia adalah ujian pertama sistem demokrasi Venezuela—dan jawabannya bukan kekerasan balas, tetapi undang-undang, transparansi, dan keyakinan pada proses pemilihan rakyat.