TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
📖 Sejarah Hari Ini

24 Juni 1663: Jatuhnya Évora Memperkuat Kemerdekaan Portugal

Pada 24 Juni 1663, pasukan Spanyol di Évora menyerah kalah setelah kekalahan militer Spanyol dalam Pertempuran Ameixial. Peristiwa ini menjadi titik awal Perang Restorasi Portugis (1640–1668), memperkuat kedaulatan Portugal dan menandai jatuhnya pengaruh Habsburg di selatan Iberia. Kemenangan di bawah pimpinan António Luís de Sousa, Count of Prado, berbanding Juan José de Austria membuka jalan ke Perjanjian Lisbon 1668 yang mengakui kemerdekaan Portugal.

24 Jun 20263 minit baca23 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia / Khatulistiwa Sejarah
PositifDisemak silang 2 model · 75
Baca 30 saat
  • Pada 24 Jun 1663, garison Sepanyol di Évora menyerah kalah selepas kekalahan dalam Pertempuran Ameixial.
  • Kemenangan Portugis di bawah António Luís de Sousa memperkuat kedaulatan Portugal dan mengakhiri pengaruh Habsburg di Iberia.
  • Perjanjian Lisbon 1668 mengiktiraf kemerdekaan Portugal setelah perang berlangsung selama 28 tahun.
24 Juni 1663: Jatuhnya Évora Memperkuat Kemerdekaan Portugal

Imej: Imej dari sumber asal

Penyerahan Évora dan Kemenangan di Ameixial

Pada tanggal 24 Juni 1663, garison Spanyol di kota Évora, wilayah Alentejo, Portugal, menyerah kalah secara resmi kepada pasukan Portugis. Peristiwa ini terjadi beberapa minggu setelah Pertempuran Ameixial pada 8 Juni 1663, di mana tentara Portugis di bawah pimpinan António Luís de Sousa, Count of Prado, mengalahkan pasukan Spanyol yang dipimpin oleh Juan José de Austria, putra tidak sah Raja Philip IV dari Spanyol. Pertempuran ini terjadi dekat Estremoz, sekitar 40 kilometer timur laut Évora, dan dianggap sebagai salah satu pertempuran paling menentukan dalam Perang Restorasi Portugis.

Kemenangan di Ameixial menyebabkan lebih dari 8.000 tentara Spanyol tewas atau luka-luka, sementara pasukan Portugis hanya mengalami sekitar 2.000 korban. Kemenangan ini memungkinkan pasukan Portugis melancarkan pengepungan terhadap Évora, yang dikuasai oleh garison Spanyol sejak awal perang. Setelah beberapa minggu dikepung, dengan persediaan makanan dan amunisi semakin berkurang, komandan Spanyol di Évora tidak punya pilihan selain menyerah kalah. Penyerahan dilakukan secara hormat, memungkinkan tentara Spanyol meninggalkan kota bersama senjata mereka, namun kota itu sendiri kembali ke tangan Portugis.

Konteks Perang Restorasi Portugis

Perang Restorasi Portugis (1640–1668) dimulai ketika bangsawan Portugis memberontak terhadap pemerintahan Spanyol, yang telah menyatukan kedua kerajaan di bawah Mahkota Habsburg sejak 1580. Raja João IV dari Portugal dinobatkan pada Desember 1640, memulai perang panjang untuk mengembalikan kemerdekaan. Selama lebih dari dua dekade, pertempuran terjadi sepanjang perbatasan dan di jajahan luar negeri.

Pada awal 1660-an, perang memasuki fase genting. Spanyol, di bawah Philip IV, berusaha mengakhiri pemberontakan Portugis, sementara Portugal mendapat dukungan dari Inggris, Prancis, dan Belanda. Pertempuran Ameixial adalah bagian dari kampanye Spanyol yang lebih besar untuk menaklukkan kembali Alentejo, wilayah pertanian utama Portugal. Kemenangan Portugis di sana menghentikan kemajuan Spanyol dan menghalangi mereka dari menguasai selatan Portugal.

António Luís de Sousa, Count of Prado, adalah komandan berpengalaman yang telah bertugas sejak awal perang. Ia dikenal karena strategi pertahanan efektif dan kemampuan memotivasi pasukannya. Juan José de Austria, di sisi lain, adalah jenderal Spanyol ambisius, tetapi kekurangan sumber daya dan logistik menyebabkan kampanyenya gagal.

Pentingnya Penyerahan Évora

Évora bukan sekadar kota biasa. Dijuluki "Very Noble and Ever Loyal City", kota ini dianggap sebagai ibu kota sejarah Alentejo. Dengan populasi sekitar 53.000 orang (2021) dan luas wilayah 1.307 kilometer persegi, Évora telah menjadi pusat budaya, agama, dan administrasi sejak zaman Rom. Selama perang, kehilangan Évora merupakan pukulan hebat bagi prestise Spanyol, karena menunjukkan bahwa Portugal mampu mempertahankan dan merebut kembali kota-kota penting.

Penyerahan ini membuka jalan bagi negosiasi damai. Spanyol menyadari bahwa menaklukkan kembali Portugal adalah mustahil secara militer. Pada 1665, Pertempuran Vila Viçosa lagi-lagi memperkuat keunggulan Portugis, dan akhirnya pada 1668, Perjanjian Lisbon ditandatangani, di mana Spanyol mengakui kemerdekaan Portugal dan mengakhiri Perang Restorasi.

Warisan Sejarah Évora Sampai Saat Ini

Sekarang, Évora adalah kota yang kaya akan sejarah. Pusat kota diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1986, terkenal dengan kuil Rom yang terawat baik, katedral Gotik, dan arsitektur putih tradisional Alentejo. Setiap tahun, ribuan wisatawan datang untuk melihat sisa-sisa masa kejayaan Portugis.

Peristiwa 24 Juni 1663 tidak pernah dilupakan. Ia dirayakan sebagai hari kepahlawanan dan semangat rakyat Portugis untuk bebas. Di museum lokal, artefak dari Pertempuran Ameixial dipamerkan, dan di lapangan utama, plakat peringatan mengingatkan penduduk tentang perjuangan leluhur mereka. Dalam konteks yang lebih luas, kemenangan ini adalah salah satu momen yang membentuk identitas Portugal sebagai negara berdaulat yang mandiri, berbeda dari tetangganya Spanyol.

_Sumber: Wikipedia — https://en.wikipedia.org/wiki/%C3%89vora | Lisensi: CC BY-SA 4.0_