1. Evakuasi dalam Hujan Gerimis dan Kabut Tebal
Pendaki berusia 18 tahun ditemukan menggigil hebat dan tak mampu bergerak di jalur pendakian Gunung Kayu Satu, Ambon, pada akhir pekan lalu. Suhu rendah, hujan gerimis, dan kabut tebal mempersulit pencarian. Tim SAR gabungan — terdiri dari Basarnas Ambon, unsur TNI, Polri, dan relawan — berjalan kaki menembus medan berbatu dan licin selama lebih dari tiga jam sebelum menemukan korban.
Setelah diberi pertolongan pertama di lokasi, korban dievakuasi menggunakan tandu darurat. Perjalanan turun memakan waktu dua jam tambahan akibat kondisi jalan yang becek dan visibilitas rendah. Ia tiba di Rumah Sakit Siloam Ambon dalam waktu kurang dari enam jam sejak laporan diterima. Kepala Basarnas Ambon menyatakan bahwa koordinasi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan evakuasi, meski cuaca buruk sempat menghambat komunikasi radio.
Korban kini dalam kondisi stabil dan menjalani pemantauan suhu tubuh serta fungsi organ di ruang perawatan intensif.
2. Hipotermia: Ancaman Sunyi di Ketinggian Rendah
Hipotermia bukan hanya risiko di gunung bersalju. Di Gunung Kayu Satu — yang mencapai 1.200 meter di atas permukaan laut — suhu malam dapat turun hingga 10–15°C, terutama saat musim hujan. Kelembapan tinggi dan angin kencang mempercepat kehilangan panas tubuh, terutama jika pakaian basah.
Gejala awal sering diabaikan: menggigil tak terkendali, penurunan kewaspadaan, bicara pelo, dan gerak lamban. Pada tahap lanjut, menggigil berhenti — bukan tanda pemulihan, melainkan indikasi penurunan fungsi sistem saraf pusat. Tanpa intervensi cepat, risiko gagal jantung atau pernapasan meningkat drastis.
Tim medis Rumah Sakit Siloam menegaskan bahwa hipotermia bisa berkembang dalam 30–45 menit pada kondisi basah-dingin-berangin. Penanganan di tempat harus fokus pada pemanasan bertahap, bukan langsung dengan sumber panas eksternal seperti botol air panas atau api unggun.
3. Medan Licin, Kabut Mendadak, dan Daya Tarik yang Menyesatkan
Gunung Kayu Satu memiliki reputasi sebagai jalur pendakian 'ramah pemula', tetapi medannya menipu. Jalur utama sering licin pasca-hujan; akar pohon dan batu vulkanik yang tertutup lumut memicu tergelincir. Kabut bisa turun dalam hitungan menit, mengurangi jarak pandang hingga kurang dari lima meter — cukup untuk membuat pendaki kehilangan arah meski berjarak 100 meter dari pos.
Meski aksesnya dekat dari pusat kota Ambon dan pemandangan Teluk Ambon dari puncak memang spektakuler, popularitasnya justru meningkatkan risiko. Data dari Pos Pendakian Gunung Kayu Satu menunjukkan peningkatan 40% jumlah pendaki pada tiga bulan terakhir, sebagian besar tanpa pelatihan dasar atau pengalaman lapangan.
Wajib mendaftar sebelum naik bukan sekadar prosedur administratif: petugas pos mencatat kondisi fisik pendaki, membekali informasi cuaca terkini, dan menjadi titik kontak pertama saat terjadi insiden.
4. Persiapan Bukan Pilihan, Melainkan Syarat Mutlak
Kejadian ini bukan kecelakaan tak terelakkan — melainkan peringatan tentang celah dalam budaya pendakian lokal. Persiapan mendaki harus mencakup tiga aspek: fisik, logistik, dan literasi risiko.
- Cek prakiraan cuaca resmi dari BMKG minimal 24 jam sebelum keberangkatan — bukan hanya dari aplikasi umum.
- Bawa perlengkapan esensial: jaket tahan angin dan hujan (bukan sekadar sweater), headlamp dengan baterai cadangan, termos berisi minuman hangat, serta makanan berkalori tinggi (seperti kacang-kacangan, cokelat hitam, atau energy bar).
- Hindari pendakian sendirian. Kelompok minimal tiga orang memungkinkan pembagian tugas dan respons cepat saat satu orang jatuh sakit.
- Kenali batas tubuh: jika mulai menggigil tak terkendali atau sulit mengingat langkah sebelumnya, turunlah — tanpa menunggu gejala memburuk.
Dinas Pariwisata Maluku telah mengusulkan penambahan dua pos darurat di jalur tengah dan puncak, dilengkapi selimut reflektif, kotak P3K dasar, dan panel informasi risiko hipotermia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Ambon. Edukasi juga akan diperluas melalui kolaborasi dengan komunitas pecinta alam dan sekolah menengah di wilayah Kota Ambon.
Catatan Akhir
Evakuasi ini berakhir selamat — tetapi bukan karena keberuntungan semata, melainkan karena respons cepat tim SAR dan kesiapan infrastruktur dasar di lokasi. Banyak pendaki lain tidak seberuntung itu. Gunung Kayu Satu mengingatkan: ketinggian bukan satu-satunya ukuran bahaya. Bahaya sesungguhnya lahir dari asumsi keliru — bahwa medan 'rendah' berarti 'aman', bahwa cuaca tropis tak pernah menggigit, bahwa persiapan bisa diabaikan demi kecepatan mencapai puncak. Keselamatan pendakian dimulai bukan di kaki gunung, melainkan di meja perencanaan — jauh sebelum sepatu dipakai.