Haiti Gagal Melewati Fase Grup, Tersingkir sebagai Tim Pertama
Haiti secara resmi tersingkir sebagai tim pertama dari Piala Dunia 2026 setelah kalah 3-0 dari Brasil di Stadion Merdeka pada malam Jumat. Ini adalah penampilan kedua mereka di ajang dunia — dan kali kedua mereka pulang tanpa mendapatkan poin apa pun. Dua kekalahan berturut-turut: 1-4 terhadap Portugal, lalu 0-3 terhadap Brasil.
Mereka berjuang keras. Tapi jarak kualitas, pengalaman, dan kedalaman skuad terlalu nyata. Brasil menguasai bola selama 70 persen, melepaskan 15 tendangan ke gawang. Haiti hanya mampu satu — sebuah tendangan jauh yang meleset lebar di awal babak kedua.
Vinícius Júnior Buka Jalan, Lalu Buka Ruang
Vinícius Júnior tidak menunggu lama. Gol pembuka datang pada menit ke-23: umpan pendek dari Casemiro, putaran cepat di dalam kotak, tendangan kaki kiri — kuat, rendah, tak sempat dijangkau penjaga gawang. Delapan menit kemudian, dia memecah ketegangan pertahanan Haiti sekali lagi — bukan dengan gol, tapi dengan sepakan lintas presisi ke kepala Matheus Cunha. Tandukan itu masuk. Brasil 2-0.
Dia bermain seperti pemain yang tahu setiap detik penting. Tidak ada overplay. Tidak ada percobaan sia-sia. Hanya gerak cepat, keputusan tepat, dan akurasi yang menyakitkan.
Cunha Menuntaskan Kuasa Serangan
Matheus Cunha menjawab kepercayaan dengan dua gol — satu dari tandukan, satu lagi dari tendangan dalam kotak setelah umpan rendah dari sisi kanan. Gol ketiga pada menit ke-58 bukan sekadar angka; ia penegas bahwa Brasil tidak main-main. Cunha berdiri di posisi ideal, menunggu, lalu menyelesaikan.
"Kami sabar. Haiti bertahan rapat, tapi kami tahu ruang akan muncul — dan Vinícius menciptakannya," kata Cunha setelah pertandingan. Dia tidak berlebihan. Dia hanya menyampaikan fakta.
Kelompok F Sudah Jelas, Haiti Masih Mencari Arah
Dengan kekalahan ini, Haiti duduk di dasar Kelompok F — nol poin, -7 selisih gol. Pertandingan terakhir melawan Arab Saudi sudah tidak memiliki makna strategis. Tapi bukan berarti tidak memiliki makna sama sekali.
Brasil berada di jalur yang kuat: dua kemenangan, enam poin, dan satu langkah saja dari babak 16 besar. Mereka belum kalah. Belum goyah. Belum memberi ruang.
Bagi Haiti, ini lebih dari kekalahan. Ia pengesahan bahwa kehadiran di Piala Dunia tidak cukup — harus didukung oleh struktur, pelatihan sistematis, dan kesempatan bermain di tingkat tinggi. Presiden Asosiasi Sepak Bola Haiti, Jacques Letang, tidak menghindari realitas: "Kami bangga berada di sini. Tapi jurang itu nyata. Dan kami akan belajar daripadanya."
Pertandingan terakhir mereka bukan tentang kelayakan. Ia tentang harga diri. Tentang menunjukkan — sekali lagi — bahwa mereka layak berada di sini.