TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
🌍 Dunia

Haru dan Bangga: Tasmi’ 11 Juz Alquran oleh Siswa SD Al-Azhar Kelapa Gading

Wisuda SD Islam Al-Azhar Kelapa Gading (ALAZKA) tahun pelajaran 2025/2026 diwarnai tasmi’ 11 juz Alquran oleh seluruh siswa kelas 6 — capaian luar biasa yang memicu haru orang tua dan menegaskan komitmen sekolah dalam membentuk generasi qurani sejak dini.

21 Jun 20263 minit baca29 tontonanOleh Daniel Tan Wei MingRepublika
PositifDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • Siswa kelas 6 SD Al-Azhar Kelapa Gading menyelesaikan tasmi' 11 juz Alquran dalam acara wisuda.
  • Acara ini memicu emosi haru dan bangga dari orang tua serta masyarakat.
  • Proses pembelajaran sistematis dimulai sejak kelas 1 dengan metode audio-kinestetik.
Haru dan Bangga: Tasmi’ 11 Juz Alquran oleh Siswa SD Al-Azhar Kelapa Gading

Imej: Imej: Jimmy McIntyre - Editor HDR One Magazine (BY-SA) via Openverse

Derai Air Mata di Balik Hafalan 11 Juz

Jumat sore, 20 Juni 2025, Sport Club Kelapa Gading dipenuhi suara tahlil dan isak pelan. Puluhan siswa kelas 6 SD Islam Al-Azhar Kelapa Gading (ALAZKA) duduk rapi di panggung — bersarung, berkopiah, wajah tenang namun penuh konsentrasi. Satu per satu, mereka melantunkan ayat-ayat Alquran dari hafalan murni: tidak membaca teks, tidak mengulang, tidak ragu. Setiap surah yang keluar dari mulut mereka disambut tepuk tangan gemuruh dan air mata di barisan penonton.

Acara wisuda tahun pelajaran 2025/2026 ini bukan hanya seremoni penutup masa sekolah dasar. Ia menjadi ujian akhir tasmi’ — presentasi hafalan — sebanyak 11 juz Alquran. Capaian ini terverifikasi oleh tim murobbi internal sekolah dan disaksikan langsung oleh pembina Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar serta tokoh masyarakat.

Mendidik Hafidz Cilik Sejak Dini

Tasmi’ 11 juz bukan hasil instan. Ia adalah puncak proses sistematis yang dimulai sejak kelas 1. Setiap hari, siswa menjalani muroja’ah wajib selama 30 menit sebelum pelajaran dimulai, ditambah kegiatan tahfiz camp mingguan dan evaluasi berkala setiap dua bulan. Metode pengajaran menggabungkan pendekatan audio-kinestetik — seperti gerak tubuh berirama untuk memperkuat ingatan — serta pendampingan personal oleh guru tahfiz.

Dari 120 siswa yang diwisuda, 117 berhasil menyelesaikan setoran hafalan 11 juz. Angka ini melampaui target awal sekolah sebesar 80% dan menempatkan ALAZKA sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar di Jakarta Utara dengan standar hafalan tertinggi yang terdokumentasi.

Kepala Sekolah ALAZKA menegaskan dalam sambutannya bahwa hafalan tanpa pemahaman adalah separuh tanggung jawab. Untuk itu, kurikulum integratif sekolah mengaitkan tafsir ringkas, konteks turun ayat, dan penerapan nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari — mulai dari etika berbicara hingga sikap jujur dalam ulangan.

Dampak bagi Pendidikan Islam di Indonesia

Capaian ALAZKA mencerminkan tren nyata dalam pendidikan Islam nasional: peningkatan permintaan terhadap program tahfiz berbasis sekolah formal. Data Kementerian Agama (2024) menunjukkan 43% sekolah dasar Islam swasta di Jabodetabek telah menerapkan syarat minimal hafalan sebagai bagian dari kelulusan — mayoritas antara 3–5 juz. Target 11 juz tetap langka, dan hanya dicapai oleh kurang dari 5% lembaga tingkat SD di wilayah tersebut.

Pakar pendidikan Islam menyatakan bahwa keberhasilan semacam ini harus dibaca dalam konteks dukungan struktural: ketersediaan guru tahfiz tersertifikasi, alokasi waktu belajar yang tidak dikompromikan oleh tekanan kurikulum nasional, serta keterlibatan aktif orang tua dalam muroja’ah rumahan.

Saat seorang siswa kelas 6 melantunkan Surah Al-Baqarah ayat 1–20 tanpa cela — di tengah hening yang pecah menjadi takbir — hadirin tidak hanya menyaksikan kemampuan hafalan. Mereka menyaksikan ketahanan sistem pendidikan yang menempatkan Alquran sebagai pusat, bukan pelengkap.

Menanamkan Cinta Alquran Sejak Kecil

Bagi banyak keluarga, memilih ALAZKA adalah keputusan berbasis nilai, bukan preferensi praktis. Biaya pendidikan yang lebih tinggi dibanding sekolah umum tidak menghalangi niat untuk menanamkan cinta Alquran sejak usia dini. Seorang ibu murid, yang meminta namanya tidak disebutkan demi privasi, mengatakan kepada *Republika*: “Saya ingin anak saya tidak hanya bisa membaca Alquran, tapi merasa rindu saat tidak membacanya.”

Namun tantangan nyata muncul pasca-wisuda. Beberapa alumni ALAZKA yang melanjutkan ke SMP umum melaporkan penurunan konsistensi muroja’ah akibat ketiadaan jam khusus dan lingkungan pendukung. Merespons hal ini, sekolah sedang mengembangkan platform bimbingan hafalan daring berbasis aplikasi, dengan fitur penilaian otomatis dan jadwal muroja’ah personal — khusus untuk alumni.

Suasana haru di Sport Club Kelapa Gading bukan sekadar momen emosional. Ia adalah bukti bahwa pendidikan Alquran masih bisa tumbuh kokoh — bukan sebagai reaksi terhadap arus modernitas, tetapi sebagai pilihan sadar, terencana, dan terukur. Kesebelas juz yang dihafal bukan angka statistik. Ia adalah janji yang diucapkan lewat lisan, dijaga lewat ingatan, dan diwujudkan lewat amal.