Bayangan Kufah: Kota yang Lahir dari Sebuah Perintah Khalifah
Bayangkan sebuah gurun yang luas, panas, dan sunyi. Pada tahun 638 Masehi, ketika dunia masih terlibat dalam peperangan dan kekacauan, sebuah perintah dari Khalifah Umar al-Khattab mengubah segalanya. Di tebing Sungai Furat (Euphrates), muncullah sebuah kota baru: Kufah. Kota ini bukan sekadar kem tentera atau pasar sementara. Ia adalah kota Islam pertama di bumi Irak, dirancang dengan cermat sebagai pusat pemerintahan, militer, dan ilmu pengetahuan. Dan siapa sangka, dari tanah yang tandus ini, akan lahir dua warisan besar yang masih hidup hingga hari ini: seni khat Kufi yang mempesona dan ilmu nahu Arab yang menjadi dasar bahasa al-Quran.
Dari Kem Tentera ke Kota Ilmu: Sejarah Awal Kufah
Setelah pasukan Islam berhasil menaklukkan Irak, Khalifah Umar menyadari perlunya sebuah pusat tetap untuk mengelola wilayah baru ini. Awalnya, kota ini hanya merupakan tempat tinggal tentara (amsar) – perkemahan militer yang akhirnya menjadi permanen. Lokasinya strategis: di tengah-tengah Mesopotamia, dekat jalur perdagangan dan sungai yang subur. Namun, Kufah bukan hanya kota militer. Cepat berkembang menjadi tempat berkumpulnya para sahabat, tabiin, dan cendekiawan dari berbagai penjuru dunia Islam. Di masjid-masjidnya, pengajian al-Quran, hadis, dan bahasa Arab berkembang pesat. Kufah menjadi medan perbincangan pemikiran, tempat para ilmuwan berdebat tentang tafsir, fiqh, dan tatabahasa.
Khalifah Ali dan Puncak Kegemilangan Kufah
Puncak kegemilangan Kufah terjadi ketika Khalifah Ali bin Abi Talib, menantu Nabi Muhammad SAW, menjadikannya ibu kota pemerintahannya pada tahun 656 Masehi. Selama lima tahun, Kufah menjadi pusat kekhalifahan, menyaksikan peristiwa-peristiwa besar seperti Perang Jamal, Perang Siffin, dan munculnya kelompok Khawarij. Meskipun situasi politik sering tegang, Kufah terus berkembang sebagai pusat ilmu. Khalifah Ali sendiri seorang yang sangat mahir dalam bahasa Arab dan sering mendorong pengajaran ilmu bahasa. Di sinilah benih-benih ilmu nahu mulai ditanam, dengan tokoh seperti Abu al-Aswad al-Du'ali – yang dikatakan belajar langsung dari Ali – mulai merumuskan aturan-aturan nahu yang kemudian menjadi dasar ilmu tatabahasa Arab.
Seni yang Lahir dari Nama Kota: Khat Kufi
Tidak banyak kota yang bisa bangga memiliki jenis tulisan yang dinamakan sesuai namanya. Kufah adalah salah satunya. Khat Kufi, atau Kufic dalam bahasa Inggris, adalah gaya kaligrafi Arab tertua dan paling anggun. Ia muncul di Kufah pada abad ke-7 Masehi, ketika para penulis al-Quran mencari bentuk tulisan yang rapi, jelas, dan penuh seni. Ciri-ciri khat Kufi adalah garis lurus, sudut tegas, dan bentuk geometrik. Ia bukan hanya tulisan – ia adalah seni yang memancarkan ketelitian dan keagungan. Khat Kufi digunakan untuk menulis mushaf al-Quran awal, menghiasi masjid-masjid, dan menjadi simbol peradaban Islam yang gemilang. Hingga saat ini, khat Kufi masih digunakan dalam seni bangunan modern, dekorasi, dan desain digital, membuktikan bahwa keindahan tidak pernah pudar.
Ilmu Nahu Arab: Dari Kufah ke Seluruh Dunia
Sumbang lain Kufah adalah lahirnya mazhab nahu Kufah (the Kufan school of grammar). Jika Basrah terkenal dengan mazhab nahu yang lebih konservatif dan berbasis qiyas (analogi), Kufah dikenal dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan banyak merujuk kepada bahasa Arab yang digunakan dalam percakapan dan puisi. Tokoh-tokoh seperti al-Kisa'i, al-Farra', dan Ibn al-Sikkit menghidupkan perdebatan ilmiah yang memajukan ilmu nahu. Mereka menghasilkan karya-karya referensi yang menjadi dasar pengajaran bahasa Arab di seluruh dunia Islam. Tanpa kontribusi Kufah, mungkin ilmu nahu Arab tidak akan sekaya dan seluas hari ini. Perdebatan antara mazhab Basrah dan Kufah bukanlah perselisihan, tetapi dialektika yang memperkaya khazanah ilmu.
Warisan Abadi: Dari Kufiyyah ke Zaman Modern
Kufah juga meninggalkan jejak dalam budaya material. Nama kota ini diabadikan dalam kain penutup kepala Arab yang terkenal: kufiyyah (keffiyeh). Awalnya, kain ini dipakai oleh penduduk Kufah dan sekitarnya sebagai pelindung dari panas dan debu. Kini, kufiyyah telah menjadi simbol identitas, perjuangan, dan mode global. Meskipun sebagian besar kufiyyah kini diproduksi di Tiongkok, asal-usulnya tetap terpahat di kota yang berusia lebih dari 1.400 tahun ini. Kufah juga menjadi pusat percetakan al-Quran awal, dan pengaruhnya dalam seni khat masih dirasakan dalam desain logo, buku, dan hiasan masjid di seluruh dunia. Setiap kali kita melihat tulisan khat Kufi di dinding masjid atau membaca ayat-ayat al-Quran dalam mushaf lama, kita sedang menyaksikan warisan hidup Kufah.
Sejernih Sungai Furat: Kufah dalam Arus Sejarah
Kufah bukanlah kota yang bebas dari tragedi. Ia menyaksikan pembunuhan sesama Muslim, persaingan kekuasaan, dan jatuhnya dinasti. Namun, seperti Sungai Furat yang terus mengalir, semangat ilmunya tidak pernah surut. Meskipun Baghdad kemudian menjadi pusat peradaban Islam yang lebih gemilang, Kufah tetap menjadi rujukan utama dalam ilmu nahu dan kaligrafi. Kota ini adalah bukti bahwa peradaban Islam bukan hanya tentang kejayaan politik, tetapi juga keunggulan intelektual dan seni yang melampaui zaman. Hari ini, meskipun populasi Kufah hanya sekitar 110.000 orang, warisannya terus hidup dalam setiap ayat yang ditulis dengan khat Kufi dan setiap aturan nahu yang dipelajari di universitas-universitas seluruh dunia.
Penutup: Kufah, Ibu yang Tidak Pernah Mati
Kufah mengajarkan kita bahwa sebuah kota bukan hanya bangunan dan jalan. Ia adalah jiwa, ilmu, dan seni yang diwariskan kepada generasi. Dari perintah Khalifah Umar di gurun, lahir kota yang menjadi saksi lahirnya khat Kufi dan ilmu nahu Arab. Dalam setiap lengkungan khat Kufi, tersembunyi kesabaran dan ketelitian para penulis al-Quran. Dalam setiap aturan nahu, tersimpan kebijaksanaan para ulama yang ingin menjaga kefasihan bahasa al-Quran. Kufah mungkin tidak lagi menjadi ibu kota politik, tetapi ia tetap menjadi ibu bagi dua warisan agung yang terus menyinari dunia. Seperti kata pepatah: ilmu itu cahaya, dan Kufah adalah salah satu pelita yang menerangi jalan peradaban Islam.
---
*Rujukan: [Kufa — Wikipedia](https://en.wikipedia.org/wiki/Kufa)*
