TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
🌍 Dunia

Laut Perlahan Menelan Desa Nelayan: Pelajaran dari Honduras untuk Indonesia

Desa Cedeno di Honduras hancur perlahan oleh erosi pantai akibat kenaikan muka air laut dan kerusakan ekosistem—fenomena yang sedang mengulang diri di ribuan desa pesisir Indonesia. Artikel ini mengungkap data nyata kenaikan permukaan laut, kerentanan nelayan tradisional, kegagalan perlindungan alami seperti mangrove dan terumbu karang, serta upaya adaptasi berbasis ekosistem yang masih terlalu kecil skala dan lambat waktunya.

21 Jun 20264 minit baca2 tontonanOleh Daniel Tan Wei MingRepublika
BeratDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • Kenaikan permukaan laut mengancam desa pesisir di Honduras dan Indonesia.
  • Erosi pantai dan kerusakan ekosistem seperti mangrove dan terumbu karang mempercepat kerusakan.
  • Upaya adaptasi masih terlalu kecil dan lambat untuk menghadapi ancaman ini.
Laut Perlahan Menelan Desa Nelayan: Pelajaran dari Honduras untuk Indonesia

Imej: Imej: Jimmy McIntyre - Editor HDR One Magazine (BY-SA) via Openverse

Reruntuhan di Tepi Pasifik

Di Desa Cedeno, Honduras, ombak tidak lagi berbisik—ia menghantam. Beton retak, tiang kayu bengkok, atap terseret arus: sisa rumah yang dulu menampung keluarga nelayan. Foto udara Kamis (18/6/2026) memperlihatkan garis pantai yang telah mundur puluhan meter dalam satu dekade. Seorang nelayan tua berdiri di tepi jurang kecil, menunjuk ke arah laut. "Rumah saya dulu di sini," katanya. Air kini menggenangi bekas halaman. Cedeno bukan korban kecelakaan cuaca—ia kalah dalam perlombaan tak terlihat melawan waktu, suhu, dan air yang naik.

Permukaan laut di sana naik rata-rata 3,6 milimeter per tahun, lebih cepat dari rata-rata global. Badai tropis semakin ganas. Terumbu karang di depan desa memutih—mati karena suhu laut naik dua derajat Celcius sejak 2000. Mangrove yang dulu menjadi tameng alami telah ditebang untuk tambak udang. Sekarang, penduduk pergi satu per satu. Mereka meninggalkan jaring, perahu, dan nama mereka di daftar pemilih desa.

Ancaman yang Sama di Nusantara

Indonesia tidak perlu menunggu laporan PBB untuk merasakannya. Dengan 108.000 kilometer garis pantai, negara ini bukan hanya rentan—ia sudah terkena. Data BMKG menunjukkan kenaikan permukaan laut mencapai 1,2 sentimeter per tahun di Pantai Utara Jawa. Di Desa Bedono, Demak, lahan seluas 350 hektar tenggelam sejak 1990-an. Kuburan terendam. Masjid setengah terbenam. Rumah-rumah berdiri miring di atas air—seperti di Cedeno, hanya tanpa kamera satelit yang mengabadikannya.

Nelayan tradisional tidak punya cadangan uang untuk membangun tanggul beton. Mereka juga tidak punya pilihan untuk pindah ke kota—tanpa keterampilan, tanpa jaminan kerja. Ombak kini berjarak lima meter dari dapur mereka. Tangkapan ikan turun 40% dalam sepuluh tahun, menurut survei KKP 2024, karena terumbu rusak dan suhu air berubah. Eksodus itu sunyi: tidak ada pengumuman resmi, hanya daftar nama yang semakin pendek di rapat RT.

Persamaan Bencana: Mangrove dan Terumbu Karang yang Tersisa

Akar masalahnya sama—bukan iklim semata, tapi keputusan manusia. Di Honduras, mangrove ditebang untuk tambak udang komersial. Di Indonesia, lebih dari 40% mangrove hilang sejak 1990, sebagian besar dialihfungsikan jadi tambak atau pemukiman ilegal. Terumbu karang—penyerap energi gelombang alami—juga kolaps. Laporan KKP 2025 menyebut hanya 6% terumbu karang Indonesia dalam kondisi sangat baik.

Padahal, mangrove bisa tumbuh kembali dalam tiga tahun. Satu hektar mangrove mampu menahan erosi hingga 70%. Di Honduras, komunitas kecil di wilayah Atlántida mulai menanam kembali—dengan bantuan LSM lokal. Hasilnya: garis pantai stabil sejak 2022. Di Indonesia, proyek serupa berjalan di Lombok dan pesisir Sulawesi, tapi luasnya kurang dari 0,3% dari total area mangrove yang rusak. "Kami butuh dukungan pemerintah—bukan hanya dana, tapi izin dan perlindungan hukum," kata pegiat Yayasan Mangrove Indonesia.

Belajar dari Honduras untuk Indonesia

Cedeno bukan cerita masa depan. Ia adalah *now*. Ketika badai semakin sering dan air laut naik 4–5 milimeter per tahun di beberapa titik pesisir Indonesia, tradisi saja tidak cukup. Program "Desa Tangguh Bencana" sudah diluncurkan di 217 desa—tapi 92% di antaranya belum memiliki rencana adaptasi berbasis ekosistem. Ahli iklim ITB menegaskan: solusi teknis harus tumbuh dari tanah, bukan dari dokumen proyek. Revitalisasi mangrove, restorasi terumbu karang, dan rumah panggung tahan pasang—bukan sekadar konsep, tapi kebutuhan mendesak.

Namun, teknologi tidak menggantikan kebijakan. Di Honduras, nelayan yang bertahan meninggikan lantai rumah dua meter, menyimpan perahu di atas panggung kayu, dan menanam bakau di pekarangan. Di Muara Angke, Jakarta, praktik serupa muncul secara spontan—tanpa anggaran pemerintah. "Kami tidak bisa melawan laut," kata seorang nelayan di sana. "Tapi kami bisa belajar hidup berdampingan—selama masih ada daratan untuk berpijak."

Laut tidak bergerak cepat. Ia bergerak pasti. Dari Honduras ke Demak, dari Atlántida ke Pantura—ceritanya sama. Tapi harapan juga sama: ketika manusia berhenti memperlakukan pantai sebagai batas, dan mulai memandangnya sebagai ruang bersama, laju penelanan bisa diperlambat. Pertanyaannya bukan *apakah* kita bisa—tapi *berapa banyak desa lagi yang harus hilang* sebelum kita benar-benar mendengar ombak?