TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Melintasi Neraka Putih: Sendirian Bertahan di Antartika Setelah Semua Teman Mati

Ketika teman-temannya meninggal satu per satu akibat kelaparan dan cuaca ekstrem, ahli geologi Douglas Mawson terpaksa berjalan sendirian selama 160 kilometer melintasi Antartika yang beku. Tanpa makanan, dengan kaki yang luka dan kulit yang mengelupas, dia menolak untuk mati. Ini adalah kisah survival paling luar biasa dalam sejarah penjelajahan kutub.

26 Jun 20264 minit baca12,323 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Douglas Mawson
Melintasi Neraka Putih: Sendirian Bertahan di Antartika Setelah Semua Teman Mati
Imej: Foto: Wikipedia — Douglas Mawson (CC BY-SA 4.0)
AI

Kematian Menanti di Balik Badai Salju

Bayangkan diri Anda sendirian di tengah-tengah benua paling sunyi di bumi. Suhu turun hingga -30 derajat Celsius. Angin menderu seperti serigala lapar, menyapu salju ke wajah Anda sehingga Anda tidak dapat melihat apa pun. Di belakang Anda, dua rekan ekspedisi telah mati: satu jatuh ke dalam celah glasier yang dalam, satu lagi mati akibat kelaparan dan kelelahan. Anda adalah ahli geologi Douglas Mawson. Dan sekarang, Anda hanya memiliki harapan tipis untuk pulang hidup-hidup.

Ini bukan cerita fiksi. Ia adalah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1912, ketika Mawson memimpin Ekspedisi Aurora ke Antartika. Tujuannya adalah untuk memetakan dan meneliti geologi benua es itu. Tapi apa yang dimulai sebagai misi ilmiah berani berubah menjadi pertempuran sengit melawan kematian.

Kematian Pertama: Jatuh Tanpa Jejak


Pada Desember 1912, Mawson bersama dua sahabat dekatnya, Belgrave Ninnis dan Xavier Mertz, memulai perjalanan menggunakan kereta luncur anjing melintasi glasier Antartika. Mereka membawa persediaan makanan selama tiga bulan. Tapi pada hari ke-31, tragedi datang tanpa peringatan.

Saat mereka sedang menyeberangi glasier yang tertutup salju, Ninnis tiba-tiba hilang. Tanpa suara, dia jatuh ke dalam celah glasier yang tersembunyi di bawah salju. Bersamanya, enam ekor anjing dan hampir semua persediaan makanan mereka juga lenyap ke dalam gelap. Mawson dan Mertz berteriak memanggil, tapi tidak ada jawaban. Hanya angin dingin yang menjawab mereka. Ninnis telah mati, dan kini mereka hanya memiliki persediaan makanan selama sepuluh hari untuk perjalanan pulang sejauh 500 kilometer.

Racun dalam Perut: Kematian Perlahan Mertz


Dalam situasi darurat, Mawson dan Mertz terpaksa membunuh anjing-anjing yang tersisa untuk dimakan. Daging anjing menjadi satu-satunya sumber makanan mereka. Tapi apa yang mereka tidak tahu, daging anjing itu mengandung toksin vitamin A yang sangat tinggi—terutama dalam hati anjing. Racun ini secara perlahan meracuni Mertz.

Mertz mulai mengalami sakit perut parah. Kulitnya mengelupas. Gigi-giginya tanggal satu per satu. Pada 7 Januari 1913, setelah berminggu-minggu menderita, Mertz meninggal dalam tenda kecil mereka. Mawson benar-benar sendirian. Dia harus menguburkan sahabatnya di dalam salju, lalu melanjutkan perjalanan sendirian dengan sisa kekuatan yang hampir habis.

Berjalan dengan Kaki yang Rusak


Kondisi Mawson tidak kurang mengerikan. Tapak kakinya rusak akibat radang dingin dan kekurangan vitamin. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pisau. Ia harus melepas sepatunya dan membungkus kakinya dengan kain tenda. Terkadang, ia menangis kesakitan saat melangkah. Tapi ia tidak berhenti. Ia tahu jika ia berhenti, ia akan mati.

Ia hanya memiliki sedikit coklat, oat, dan air salju. Setiap hari, ia berjalan sejauh 10 hingga 15 kilometer, kadang-kadang merangkak ketika kakinya tidak mampu menopang berat badannya. Ia berbicara pada dirinya sendiri untuk tetap waras. "Kau harus terus maju, Doug. Anak buahmu menunggumu pulang."

Keajaiban di Celah Es


Pada hari ke-30 perjalanannya sendirian, Mawson tiba-tiba jatuh ke dalam celah glasier. Ia jatuh bebas beberapa meter sebelum tersangkut pada tali yang masih terikat ke kereta luncur. Ia tergantung di atas jurang gelap, dengan tali yang semakin longgar. Dalam kepanikan, ia mencoba memanjat naik. Tapi tali itu putus. Ia jatuh lebih dalam. Untungnya, pada saat terakhir, kereta luncur itu tersangkut pada salji di atas, menahan jatuhannya. Dengan perlahan, ia memanjat keluar dari celah itu, gemetar ketakutan. Ia hampir mati, tapi ia selamat.

Sampai ke Pangkalan: Pertemuan dengan Kematian yang Ditunda


Setelah 42 hari berjalan sendirian, Mawson akhirnya sampai ke pangkalan utama ekspedisi di Cape Denison. Tapi betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa kapal penyelamat, Aurora, telah meninggalkan pangkalan itu hanya beberapa jam sebelumnya. Ia telah melewatkan peluang terakhir untuk pulang.

Namun, nasib masih menyebelahi. Seorang pegawai di pangkalan, yang ditinggalkan untuk menunggu, melihatnya dari jauh. Mereka segera memberikan bantuan. Mawson kemudian harus menunggu selama setahun lagi di Antartika sebelum kapal penyelamat kembali. Selama musim dingin itu, ia terus hidup dengan makanan yang tersisa, sambil menulis laporan geologi yang akhirnya menjadi kontribusi terbesarnya bagi sains.

Warisan Seorang Penyintas


Douglas Mawson akhirnya pulang ke Australia pada tahun 1914. Meskipun tubuhnya rapuh dan jiwa terluka, ia terus bekerja sebagai ilmuwan dan dosen. Kisahnya menjadi legenda dalam dunia penjelajahan. Ia bukan hanya seorang ahli geologi yang selamat; ia adalah simbol ketahanan manusia di luar batas. Tulisan-tulisannya tentang ekspedisi itu, yang diterbitkan dalam buku 'The Home of the Blizzard', menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang menjelajah kutub.

Hari ini, namanya diabadikan di peta Antartika—terdapat Stasiun Mawson, Gunung Mawson, dan juga Laut Mawson. Tapi yang paling penting, kisahnya mengingatkan kita bahwa bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun, jika kita masih bernapas, masih ada harapan. Seperti kata Mawson sendiri: 'Kematian hanya menanti mereka yang menyerah. Yang terus berjalan, akan sampai ke destinasi.'

Dan begitulah, seorang lelaki sendirian, dengan kaki yang rusak, perut kosong, dan hati berat, berhasil menguasai Antartika—bukan dengan kekuatan fisik, tapi dengan keinginan yang tak pernah padam.

---
Rujukan: Douglas Mawson — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam: