TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
🌍 Dunia

Pemadaman Listrik Bukan Akibat Kelangkaan Batu Bara, Tapi Gangguan Teknis pada Jaringan dan PLTU

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemadaman listrik di sejumlah wilayah Indonesia disebabkan gangguan teknis pada jaringan transmisi dan unit pembangkit—bukan kekurangan pasokan batu bara. Stok batu bara untuk PLTU mencukupi hingga 20 hari ke depan, sementara realisasi DMO mencapai 90,2 juta ton hingga Juli 2023. Pemerintah dan PLN mempercepat pemulihan sistem dan memperkuat cadangan dari pembangkit gas serta energi terbarukan.

21 Jun 20263 minit baca5 tontonanOleh Sofia MendezRepublika
NeutralDisemak silang 2 model · 72
Baca 30 saat
  • Pemadaman listrik di Indonesia disebabkan gangguan teknis, bukan kekurangan batu bara.
  • Stok batu bara untuk PLTU cukup hingga 20 hari dan realisasi DMO mencapai 90,2 juta ton hingga Juli 2023.
  • Pemerintah dan PLN mempercepat pemulihan sistem dengan memanfaatkan cadangan dari pembangkit gas dan energi terbarukan.
Pemadaman Listrik Bukan Akibat Kelangkaan Batu Bara, Tapi Gangguan Teknis pada Jaringan dan PLTU

Imej: Imej: Jimmy McIntyre - Editor HDR One Magazine (BY-SA) via Openverse

Pasokan Batu Bara Aman, Stok Cukup untuk 20 Hari

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemadaman listrik di beberapa wilayah Indonesia tidak disebabkan oleh kekurangan pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/8/2023), ia menyatakan: "Pasokan batu bara ke PLTU aman. Saat ini stok rata-rata di PLTU mencukupi untuk 20 hari operasi."

Pernyataan itu membantah spekulasi publik yang mengaitkan pemadaman dengan krisis batu bara. Data Kementerian ESDM menunjukkan realisasi pasokan batu bara dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sepanjang 2023 telah mencapai 90,2 juta ton hingga akhir Juli—sekitar 60% dari target tahunan sebesar 150 juta ton. Capaian ini menegaskan bahwa kewajiban pemasok batu bara kepada PT PLN (Persero) berjalan sesuai rencana.

Akar Masalah: Gangguan Transmisi dan Pemeliharaan Pembangkit

Menurut Bahlil, penyebab utama pemadaman adalah faktor teknis—khususnya gangguan pada saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) dan pemeliharaan rutin sejumlah unit PLTU. "Beberapa PLTU sedang dalam masa pemeliharaan, dan ada juga gangguan transmisi yang menyebabkan suplai listrik ke konsumen terganggu," katanya.

Data PT PLN (Persero) mencatat, pada awal Agustus 2023, terjadi trip pada beberapa jaringan transmisi 500 kV di Jawa Bagian Tengah dan Timur—yang memicu pemadaman luas. Peristiwa serupa terjadi di Sumatera dan Kalimantan, meski skala lebih kecil. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan permintaan listrik selama musim kemarau, ketika penggunaan pendingin ruangan dan peralatan pendingin lain meningkat tajam.

Dampak Nyata dan Respons Cepat

Pemadaman berdampak langsung pada aktivitas rumah tangga dan usaha. Di sektor rumah tangga, gangguan menghambat penggunaan pendingin ruangan, pompa air, dan peralatan elektronik penting. Di sektor usaha—terutama UKM dan industri kecil—pemadaman menyebabkan kerugian produksi. Seorang pengusaha roti di Bandung melaporkan bahwa pemadaman selama tiga hingga empat jam setiap hari membuat oven listriknya gagal beroperasi secara optimal, sehingga mengurangi kapasitas produksi harian hingga 40%.

Sebagai respons, PLN telah mengerahkan tim siaga di seluruh wilayah untuk mempercepat identifikasi dan perbaikan gangguan. Kementerian ESDM juga meminta PLN mengoptimalkan penggunaan pembangkit listrik tenaga gas dan energi baru terbarukan sebagai sumber cadangan. Selain itu, pemerintah mempercepat pembangunan jaringan transmisi baru—terutama di koridor Jawa-Bali dan Sumatera—untuk mengurangi beban pada infrastruktur yang sudah berusia tua.

Keandalan Sistem: Prioritas Strategis Jangka Panjang

Kejadian ini menegaskan bahwa keandalan sistem kelistrikan bukan hanya soal ketersediaan bahan baku, tetapi juga ketangguhan infrastruktur. Meskipun pasokan batu bara terjamin, titik lemah berada pada jaringan transmisi yang rentan gangguan dan pembangkit yang memerlukan pemeliharaan berkala.

Dr. Fauzi, pengamat energi dari Universitas Indonesia, menekankan perlunya modernisasi sistem transmisi dan peningkatan kapasitas penyimpanan energi. "Tanpa investasi berkelanjutan di sisi jaringan dan manajemen beban, peningkatan rasio elektrifikasi tidak akan berarti jika pasokan tidak stabil," ujarnya.

Pemerintah tetap menargetkan rasio elektrifikasi nasional mencapai 100% pada 2024. Namun, keandalan—bukan sekadar cakupan—kini menjadi tolok ukur utama. Dengan perencanaan teknis yang matang dan alokasi anggaran prioritas untuk pembaruan infrastruktur, insiden pemadaman akibat gangguan teknis dapat dikurangi secara signifikan dalam lima tahun ke depan.