1. Akar Masalah: Persaingan Kekuasaan Kerajaan
Kematian Sultan Hamad bin Thuwaini pada 25 Agustus 1896 memicu krisis pewarisan. Khalid bin Barghash, pamannya, merebut kekuasaan tanpa izin Britania Raya, yang merupakan kekuatan protektorat atas Zanzibar. Britania ingin Hamoud bin Mohammed, kandidat pro-Britania, menjadi sultan. Ketika Khalid tidak mau melepaskan jabatannya, Britania memberi ultimatum: keluar dari istana sebelum pukul 9 pagi pada 27 Agustus. Khalid mengabaikannya.2. Persiapan Perang yang Tidak Seimbang
Pasukan Khalid hanya terdiri dari sekitar 2.800 orang โ sebagian besar warga sipil dan budak bersenjata โ beserta sebuah kapal kecil bernama *Glasgow*. Sementara itu, Britania mengerahkan lima kapal perang modern, 150 tentara laut, dan 1.000 prajurit Zanzibar setia. Istana sultan yang tua tidak mampu bertahan dari tembakan meriam kapal perang Britania.3. Detik Awal Perang
Pada pukul 9 pagi tepat, ketika ultimatum berakhir, kapal perang Britania mulai menembak. Dalam waktu kurang dari 10 menit, istana sultan sudah terbakar. Kapal *Glasgow* mencoba melawan tetapi tenggelam dalam waktu 40 menit. Bendera Zanzibar ditembak jatuh, menandai penyerahan diri. Pertempuran berhenti segera setelah bendera itu jatuh. Jumlah korban: sekitar 500 orang di pihak Zanzibar, sedangkan Britania hanya mengalami satu cedera.4. Setelah Perang: Hukuman dan Pengakuan
Khalid bin Barghash melarikan diri ke Dar es Salaam (kemudian ditangkap oleh Britania pada 1916). Britania menunjuk Sultan Hamoud yang pro-Britania. Zanzibar tetap menjadi wilayah pengaruh hingga merdeka pada 1963. Perang singkat ini jarang disebut, tetapi menjadi contoh betapa cepatnya konflik bisa berakhir ketika kekuasaan tidak seimbang.5. Rekor Dunia dan Warisan
Perang Anglo-Zanzibar diakui oleh *Guinness World Records* sebagai perang terpendek dalam sejarah. Meskipun ada pertempuran lain yang singkat seperti Serangan Pearl Harbor (kurang dari 2 jam) atau Perang Enam Hari (1967), tidak ada yang mengalahkan durasi 38 menit ini. Namun, di balik rekor tersebut, tragedi 500 kematian menjadi pengingat bahwa perang tidak pernah benar-benar kecil โ hanya saja berakhir dengan cepat.
Perang ini mengajarkan kita bahwa dalam urusan diplomatik, tindakan cepat dan keberanian dapat mencegah pemborosan darah yang lebih besar. Atau sebaliknya, ia juga mengingatkan betapa mudahnya nyawa melayang hanya karena keputusan yang diambil dalam beberapa menit. Apapun, sejarah tetap mencatat bahwa pada pagi 27 Agustus 1896, dunia menyaksikan perang paling singkat yang pernah ada.
---
*Sumber: [Perang Dunia Kedua โ Wikipedia](https://ms.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_Kedua)*
