TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🌍 Dunia

Sepuluh Tahun Brexit: UK Rugi 8% PDB Per Kapita Menjelang 2025

Satu dekade setelah referendum, perkiraan terbaru dari London School of Economics menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Inggris pada 2025 akan 8% lebih rendah dibandingkan skenario tanpa Brexit. Artikel ini menganalisis dampak ekonomi, sektor yang terdampak, upaya Inggris menjalin hubungan baru—khususnya dengan Amerika Latin—dan tantangan dekade kedua di luar Uni Eropa.

21 Jun 20264 minit baca5 tontonanOleh Aisyah RahmanMercoPress
BeratDisemak silang 2 model · 72
Baca 30 saat
  • Brexit menyebabkan UK rugi 8% GDP per kapita menjelang 2025
  • Sektor perdagangan barangan terjejas paling awal
  • UK berusaha menjalin hubungan baru dengan Amerika Latin
Sepuluh Tahun Brexit: UK Rugi 8% PDB Per Kapita Menjelang 2025

Imej: Imej: thejourney1972 (South America addicted) (BY) via Openverse

Gelombang Kejut Brexit: Dari Referendum ke Realitas

Juni 2016. Inggris Raya bangun dengan hasil tipis 52–48 yang mengejutkan dunia: suara untuk meninggalkan Uni Eropa. Sepuluh tahun kemudian, gelombang kejut itu masih terasa dalam perekonomian negara. Perjalanan dari referendum ke Perjanjian Perdagangan dan Kerjasama Uni Eropa-Inggris Raya pada Desember 2020 adalah lanskap penuh negosiasi sengit, ketidakpastian regulasi, dan ancaman keluar tanpa kesepakatan yang hampir menjadi kenyataan. Kini, angka-angka mulai bercerita.

Biaya Ekonomi: Angka yang Membungkam

Sebuah makalah terbaru dari London School of Economics (LSE), yang dirilis bertepatan dengan peringatan sepuluh tahun Brexit, memperkirakan bahwa PDB per kapita Inggris Raya pada 2025 akan 8% lebih rendah dibandingkan proyeksi jika negara itu tetap berada di Uni Eropa. Kerugian ini setara dengan ribuan pound pendapatan yang hilang per rumah tangga setiap tahun. Angka ini sejalan dengan temuan Pusat Kinerja Ekonomi dan Kantor Tanggung Jawab Anggaran, yang masing-masing memprediksi penurunan jangka panjang antara 4% hingga 8%. Sektor perdagangan barang terdampak paling awal: ekspor Inggris Raya ke Uni Eropa merosot 15–20% sejak 2021, sementara investasi bisnis — mesin utama produktivitas — tertinggal dibandingkan rekan-rekan G7. Birokrasi bea cukai dan hambatan non-tarif memaksa banyak perusahaan kecil menghentikan ekspor sepenuhnya; industri perikanan dan jasa keuangan juga menanggung beban tambahan.

Dampak Berantai: Inggris Raya di Peta Global

Kehilangan akses langsung ke pasar tunggal Uni Eropa memaksa London mencari mitra dagang baru — termasuk negara-negara Amerika Latin. Sejak 2021, Inggris Raya telah menandatangani atau sedang menegosiasikan perjanjian perdagangan dengan Meksiko, Chili, dan blok Mercosur. Namun, skala kompensasinya masih kecil: ekspor Inggris Raya ke kawasan itu hanya mewakili sekitar 2% dari total ekspor keseluruhan, dibandingkan dengan 50% ke Uni Eropa. Hubungan dengan Brasil dan Argentina berkembang di sektor jasa keuangan dan teknologi hijau, tetapi persaingan dari Tiongkok dan Amerika Serikat tetap ketat. Sementara itu, Brexit mempercepat pergeseran tenaga kerja: pekerja warga negara Uni Eropa yang kembali ke benua itu menyebabkan kekurangan kronis di sektor perawatan kesehatan, perhotelan, dan pertanian — sebuah realitas yang terasa dari ladang Kent hingga hotel-hotel di pusat kota London.

Perdebatan yang Tak Pernah Padam

Kubuh pendukung Brexit berargumen bahwa kebebasan mengendalikan regulasi sendiri membuka ruang untuk pertumbuhan di pasar Asia dan ekonomi digital. Mereka merujuk pada pertumbuhan ekspor jasa serta perjanjian perdagangan dengan Australia dan Selandia Baru. Namun, data LSE menunjukkan pertumbuhan itu tidak cukup untuk menutupi kerugian besar dalam perdagangan dengan Uni Eropa. Para kritikus menekankan bahwa birokrasi dan ketidakpastian regulasi melemahkan kepercayaan investor asing. Meskipun London tetap menjadi pusat keuangan global, beberapa fungsi penting kliring euro telah berpindah ke Amsterdam dan Paris. Bagi rumah tangga biasa, realitasnya adalah kenaikan harga makanan dan biaya hidup — sebagian dapat ditelusuri ke tarif dan pembatasan impor dari Uni Eropa.

Pandangan ke Depan: Dekade Kedua Tanpa Uni Eropa

Menjelang 2030-an, pertanyaan utama bukan lagi apakah Inggris Raya keluar atau tidak — tetapi apakah ia mampu membangun model ekonomi baru yang kompetitif di luar Uni Eropa. Rencana pemerintah untuk mempercepat perjanjian perdagangan bebas dengan negara berkembang dapat menguntungkan Amerika Latin, khususnya jika perjanjian dengan Mercosur berhasil diselesaikan. Namun, tantangan struktural seperti produktivitas rendah, investasi yang tidak memadai dalam infrastruktur, dan inovasi yang tertinggal harus diatasi terlebih dahulu. Brexit juga meninggalkan dampak geopolitik: Inggris Raya kini berjuang mempertahankan relevansinya di panggung dunia, sementara Uni Eropa terus bergerak sebagai blok ekonomi dan politik yang padu. Bagi Amerika Latin, dekade kedua pasca-Brexit mungkin membawa hubungan yang lebih seimbang — tetapi tidak akan menggantikan bobot ekonomi mitra tradisional di Eropa.

Pada peringatan sepuluh tahun ini, ekonomi Inggris Raya ibarat sebuah orkestra yang kehilangan konduktor utamanya: setiap instrumen masih dimainkan, tetapi harmoni tidak semudah dulu. Dan angka 8% itu akan tetap menjadi tolok ukur — bukti bahwa keputusan untuk berpisah, meskipun dibuat secara demokratis, datang dengan harga yang dapat dihitung, dan harus dibayar dalam jangka panjang.