TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
🌍 Dunia

Sunset di Kebun: Festival Musik Ramah Keluarga di Tengah Rindu Hiburan Hijau

PT Mitra Natura Raya mengadakan festival musik 'Sunset di Kebun' pada 20–21 Juni 2026 di kawasan Kebun Raya Cibodas, Jakarta. Acara ini menggabungkan pertunjukan musisi lokal, aktivitas keluarga, kuliner UMKM, dan prinsip keberlanjutan—semua dalam setting kebun organik terbuka. Festival ini menjawab kerinduan warga kota akan hiburan segar yang menyatu dengan alam, sekaligus mendorong gaya hidup hijau dan ekonomi komunitas.

20 Jun 20263 minit baca4 tontonanOleh Daniel Tan Wei MingAntara
PositifDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • Festival musik 'Sunset di Kebun' diadakan pada 20–21 Juni 2026 di Kebun Raya Cibodas, Jakarta.
  • Acara ini menggabungkan pertunjukan musisi lokal, aktivitas keluarga, dan prinsip keberlanjutan.
  • Tujuannya adalah memberikan hiburan segar yang menyatu dengan alam dan mendorong gaya hidup hijau.
Sunset di Kebun: Festival Musik Ramah Keluarga di Tengah Rindu Hiburan Hijau

Imej: Imej: Jimmy McIntyre - Editor HDR One Magazine (BY-SA) via Openverse

Senja di antara dedaunan

Matahari perlahan tenggelam. Semburat jingga menyusup di balik rimbun daun. Di sebuah lapangan hijau di pinggiran Jakarta, ratusan orang duduk beralas tikar—anak-anak berlari di antara tenda, orang tua menyeruput minuman sambil tertawa pelan. Ini bukan khayalan. Ini akan terjadi pada 20–21 Jun 2026, saat PT Mitra Natura Raya menggelar *Sunset di Kebun*.

Bukan konser biasa. Panggung terbuka dikelilingi taman organik. Angin sore berhembus bebas. Musik mengalun tanpa dinding beton. "Kami ingin menciptakan ruang di mana keluarga bisa bersantai tanpa hiruk-pikuk kota," kata salah satu panitia dalam rilis resmi.

Line-up lokal yang memikat

Payung Teduh. Float. Barasuara. Nama-nama itu bukan sekadar daftar—mereka adalah suara yang sudah lama mengiringi perjalanan generasi muda Indonesia. Mereka tampil di sini, bukan di arena megah, tapi di bawah langit terbuka, di antara pohon-pohon yang masih berdaun lebat.

Ada juga workshop musik untuk anak-anak, stan kerajinan tangan dari desa tetangga, dan area permainan tradisional—gasing, congklak, egrang kayu. Semua dirancang agar balita hingga nenek bisa tersenyum pada waktu yang sama.

Tren ini bukan kebetulan. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan ke destinasi alam naik 25% dalam dua tahun terakhir. Orang kota mulai mencari ruang hijau—bukan sebagai pelarian, tapi sebagai kebutuhan.

Harga tiket dan aksesibilitas

Tiket mulai Rp100.000 per hari. Paket keluarga—untuk empat orang—Rp350.000. Lokasinya strategis: Kebun Raya Cibodas. Bisa dijangkau kendaraan pribadi atau transportasi umum. Ada area parkir luas, plus shuttle bus dari stasiun terdekat.

Festival ini juga berkomitmen pada lingkungan. Pengunjung didorong membawa botol minum sendiri. Sampah plastik dikurangi secara aktif. Kerja sama dengan bank sampah setempat memastikan limbah dikelola dengan benar—bukan dibuang, tapi dipilah, diolah, dan dikembalikan ke rantai nilai.

Dampak bagi komunitas lokal

Ribuan pengunjung = ribuan peluang bagi UMKM. Produsen keripik organik dari Bogor. Pengrajin batik tulis dari Sukabumi. Penjual jus buah segar dari desa penyangga. Mereka tidak sekadar jualan—mereka hadir sebagai bagian dari cerita acara.

Sebagian hasil penjualan tiket dialokasikan untuk penghijauan di kawasan penyangga Jakarta. Bukan donasi simbolis. Tapi investasi nyata—pohon yang ditanam, tanah yang dipulihkan, udara yang sedikit lebih bersih.

"Sunset di Kebun" membuktikan: hiburan bisa menghibur *dan* menghidupkan.

Menanti senja berikutnya

Saat mentari benar-benar lenyap, lampu panggung menyala lembut. Musik akustik mengalun—tidak keras, tapi cukup untuk menyatukan obrolan, tawa, dan diam yang nyaman. Beberapa anak tertidur di pangkuan orang tua, pipinya masih berdebu dari bermain di rumput.

Momen seperti ini jarang. Dan itulah mengapa festival ini penting.

Ia bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah undangan: untuk duduk, mendengar, bernapas, dan mengingat bahwa kebahagiaan sering kali tumbuh paling subur di tanah yang hijau—dan di antara orang-orang yang kita cintai.

Festival ini membuka jalan. Bukan hanya untuk edisi berikutnya, tapi untuk kota-kota lain yang mulai bertanya: *Kalau Jakarta bisa, mengapa kami tidak?*