TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🏥 Kesihatan

Demam Berdarah pada Anak: Kenali 7 Tanda Awal, Jangan Tunggu Sampai Mimisan

Demam berdarah (DBD) membahayakan anak-anak — bukan hanya karena keganasannya, tetapi karena gejalanya sering disalahartikan sebagai flu biasa. Laporan CNN Indonesia menegaskan: demam tinggi mendadak, mimisan, nyeri sendi tajam, dan kulit pucat bukan tanda biasa. Deteksi dini bisa mencegah syok dengue. Penyakit ini ditularkan nyamuk Aedes aegypti — jadi pencegahan dimulai dari rumah: kelambu, tempat penampungan air bersih, dan pakaian tertutup.

19 Jun 20263 minit baca3 tontonanOleh Sofia MendezCNN Indonesia
BeratDisemak silang 2 model · 62
Baca 30 saat
  • Demam berdarah (DBD) berbahaya bagi anak karena gejalanya sering disalahartikan sebagai flu biasa.
  • tanda awal DBD yang perlu dikenali termasuk demam tinggi, mimisan, nyeri sendi, dan bintik merah di kulit.
  • Pencegahan DBD dimulai dari rumah dengan penggunaan kelambu, tempat penampungan air bersih, dan pakaian tertutup.
Demam Berdarah pada Anak: Kenali 7 Tanda Awal, Jangan Tunggu Sampai Mimisan

Imej: Imej: Pablo D. Flores (BY-SA) via Openverse

Mengapa Demam Berdarah Berbahaya bagi Anak?

Demam berdarah (DBD) bukan sekadar demam biasa. Ia disebabkan virus dengue yang masuk lewat gigitan nyamuk *Aedes aegypti*. Pada anak, sistem imun belum matang — risiko berkembang ke fase kritis seperti kebocoran plasma atau syok dengue lebih tinggi. Gejala awal sering samar. Tapi bila terlewat 48 jam setelah demam turun, bahaya meningkat drastis.

7 Tanda DBD yang Harus Dikenali Orang Tua

  • Demam mendadak di atas 39°C selama 2–7 hari
  • Tidak seperti demam biasa, suhu naik cepat dan tidak merespons parasetamol secara konsisten. Disertai sakit kepala hebat di dahi dan belakang mata.

  • Mimisan tanpa sebab jelas
  • Darah mengalir dari hidung meski tidak terbentur atau mengorek. Ini petunjuk awal kerusakan kapiler — bukan gejala ringan.

  • Nyeri otot dan sendi seperti patah
  • Anak menolak digendong, kesulitan berjalan, atau memegangi lutut dan bahu. Istilah medisnya: *breakbone fever* — demam yang membuat tulang terasa remuk.

  • Muntah berulang dan tidak mau minum
  • Bukan hanya mual. Muntah muncul 3–5 kali sehari, disertai lidah kering dan urin pekat — tanda dehidrasi mulai mengancam.

  • Bintik merah di kulit yang tidak hilang saat ditekan
  • Bukan ruam biasa. Tekan dengan kaca — bintik tetap merah. Itu petechiae: perdarahan bawah kulit akibat trombosit anjlok.

  • Lemas mendadak, lesu berlebihan
  • Anak tidur lebih dari 16 jam sehari, tidak responsif saat dipanggil, atau menangis lemah. Ini bukan keletihan biasa — bisa tanda awal kegagalan organ.

  • Kulit pucat, dingin, dan lembap
  • Terutama di ujung jari, telapak tangan, dan bibir. Kombinasi ini mengisyaratkan gangguan sirkulasi — alarm merah untuk segera ke fasilitas kesehatan.

    Pencegahan yang Benar-Benar Efektif

    • Tutup semua tempat penampungan air: ember, drum, talang, bahkan tutup botol. Nyamuk bertelur dalam air bersih diam — bukan genangan kotor.
    • Pasang kelambu setiap malam, bahkan siang hari jika anak tidur siang di kamar gelap — *Aedes* aktif sepanjang hari.
    • Pakai kaus lengan panjang dan celana panjang saat bermain di halaman atau taman. Nyamuk menggigit di area kulit terbuka — bukan hanya di malam hari.
    • Jangan andalkan obat nyamuk semprot saja: efeknya sementara. Gabungkan dengan *larvasida alami* seperti abate di bak mandi atau ikan cupang di kolam hias.
    • Periksa lingkungan tiap 3 hari: telur nyamuk menetas dalam 48–72 jam. Pembersihan mingguan sudah terlambat.

    Saat Harus Segera ke Dokter

    Bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit bila:

    • Demam turun tapi anak justru semakin lesu,
    • Ada muntah darah atau tinja hitam,
    • Buang air kecil berkurang drastis dalam 6 jam terakhir,
    • Nadi cepat dan lemah, atau napas tersengal.

    Deteksi dini bukan soal keberuntungan — tapi kebiasaan mengamati tubuh anak dengan cermat.