TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
🧠 Tahukah Anda

Dia Minta Ditinggalkan di Pulau Kosong — Lalu Hidup 4 Tahun 4 Bulan Tanpa Manusia

Pada 1704, seorang pelaut Skotlandia berusia 28 tahun meminta kaptennya meninggalkannya di sebuah pulau tak berpenghuni di tengah Samudra Pasifik Selatan. Ia bukan melarikan diri dari hukuman — tapi melarikan diri dari kematian yang pasti. Apa yang terjadi ketika kapal itu benar-benar karam tiga minggu kemudian? Dan bagaimana seorang lelaki biasa berubah menjadi makhluk yang berbicara dengan kucing liar, tidur di gua berlapis lumut, dan menghitung hari dengan goresan pisau pada batang pohon?

27 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Alexander Selkirk
Dia Minta Ditinggalkan di Pulau Kosong — Lalu Hidup 4 Tahun 4 Bulan Tanpa Manusia
Imej: Foto: Wikipedia — Alexander Selkirk (CC BY-SA 4.0)
AI

Pulau yang Menanti Sebelum Ia Datang

Di peta laut abad ke-18, Juan Fernández bukan nama — ia adalah titik kosong. Sebuah gugusan tiga pulau vulkanik yang menjulang dari permukaan Pasifik seperti tulang belakang naga yang tertidur, 670 kilometer barat laut Chile. Tidak ada pelabuhan, tidak ada nama tempatan, tidak ada jejak manusia selain debu kapal Spanyol yang pernah singgah sekilas dua abad lalu. Di sini, pada 12 Oktober 1704, kapal Cinque Ports berlabuh dengan suara kayu berderit dan tali yang mendesing — bukan untuk perdagangan atau penaklukan, tetapi untuk air, kayu bakar, dan sejenak istirahat dari ombak yang tak pernah lelah. Dan di sini pula, Alexander Selkirk turun ke darat — bukan sebagai tahanan, bukan sebagai korban, tapi sebagai pemilih. Ia meminta ditinggalkan. Bukan karena gila, bukan karena putus asa — tapi karena ia mendengar kapal itu berbisik: Aku akan mati di laut.

Suara Kayu yang Retak

Selkirk bukan pelaut biasa. Ia lahir di Lower Largo, Fife — kota nelayan yang anginnya membawa bau garam dan keputusasaan. Sejak remaja, ia bergelut dengan otoritas: melarikan diri dari pelatihan sebagai tukang kayu, menyertai kapal perang tanpa izin, lalu bergabung dengan kapal bajak laut di bawah naungan Perang Pewaris Sepanyol. Ia tahu bahasa kapal lebih baik daripada bahasa gereja: ia bisa mengenali retakan halus di lambung dari getaran jangkar, bisa mencium bau busuk kayu basah dari jarak dua dek, bisa merasakan kelemahan struktur dari cara layar mengeluh saat angin berubah. Ketika Cinque Ports berlabuh di pulau itu, ia memeriksa lambung, menguji paku, mengetuk tiang utama — lalu meminta kapten Thomas Stradling meninggalkannya. Permintaan itu disampaikan dengan tenang, tapi mata Selkirk tak berkedip. Stradling menganggapnya pembangkang. Ia setuju — lalu pergi, meninggalkan satu peti kayu, sebilah pisau, sebuah pistol, empat butir peluru, sebatang tembakau, dan sebuah Alkitab berkulit kulit rusa.

Empat Tahun Empat Bulan dalam Bahasa Sunyi

Masa tidak berjalan — ia mengendap. Hari pertama, Selkirk masih menghitung. Hari kelima, ia mulai berbicara keras pada seekor kambing liar yang mengintainya dari tebing. Hari ke-47, ia menemukan gua — bukan gua batu biasa, tapi ruang alami di bawah akar pohon Drimys winteri, dengan lantai berlapis lumut tebal dan dinding yang menyerap suara seperti kapas. Di sanalah ia tidur. Di sanalah ia belajar bahwa kelaparan bukan rasa — tapi kehilangan nama: ia lupa nama ibunya, lupa nama kapal terakhir yang ditumpanginya, lupa bagaimana rasanya dipanggil dengan nama lengkap. Ia berburu kambing dengan tombak buatan sendiri, menjernihkan air dengan pasir dan daun, membuat sepatu dari kulit kambing yang diawetkan dengan asap. Yang paling mengejutkan: ia tidak pernah kehilangan akal budi. Ia menulis jurnal — tidak dengan tinta, tapi dengan arang dan getah pohon — mencatat perubahan musim, siklus bulan, jumlah telur burung yang ia temukan di sarang. Ia bahkan mengatur ‘jam’ dengan bayangan batu di tanah.

Ketika Kapal Kembali — dan Ia Tak Lagi Mengenal Suara Manusia

Pada 1 Februari 1709, kapal Duke, dipimpin Woodes Rogers, muncul di cakrawala. Selkirk melihatnya dari puncak Cerro San Bosco — tapi tidak berlari. Ia berjongkok, memperhatikan gerak layar, menghitung sudut angin. Baru ketika kapal berlabuh dan suara teriakan manusia memecah kesunyian — “Who are you?” — ia bangkit… lalu berdiri diam, seperti patung yang baru dihidupkan kembali. Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap. Ketika akhirnya bicara, suaranya serak, terputus-putus, seolah lidahnya lupa bentuk kata. Rogers mencatat dalam log harian: “He looked wilder than the goats he herded.” Tapi yang lebih mengguncang: ketika diberi roti, Selkirk menolak. Ia meminta daging mentah. Ketika diberi kasut, ia meminta kulit kambing dan pisau — lalu membuat sandal sendiri di dek kapal, di bawah pandangan awak yang terkesima.

Warisan yang Tidak Pernah Kering

Selkirk kembali ke Inggeris pada 1711 — bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai fenomena. Kisahnya dilaporkan di The Englishman, diceritakan ulang oleh Daniel Defoe dalam Robinson Crusoe (meski Defoe menyangkal pengaruh langsung), dan dikaji oleh ahli antropologi abad ke-20 sebagai studi tentang ketahanan psikologis ekstrem. Tapi warisan sebenar Selkirk bukan di buku atau peta — ia di dalam setiap orang yang pernah memilih kesunyian demi kebenaran yang tak bisa didengar di tengah keramaian. Pulau itu kini bernama Isla Alejandro Selkirk — bukan karena ia menaklukinya, tapi karena ia mengizinkannya mengubahnya. Dan jika anda pernah berdiri di tepi laut, memandang garis horizon yang tak berujung, lalu merasa — bukan takut, tapi rindu — pada keheningan yang dalam… maka anda sedang mendengar bisikan yang sama yang membuat Selkirk turun dari kapal itu: bukan akhir dari segalanya — tapi awal dari diri yang sebenarnya.

---
Rujukan: Alexander Selkirk — Wikipedia

Tersedia dalam:

Tag: