URGENTE
🌍 Cobertura global 24/7 • 🏯 Leste Asiático: China, Japão, Coreia • 🛕 Sul da Ásia: Índia • 🏰 Europa • 🗽 Américas • 🌍 África • 🕌 Oriente Médio • 🇵🇸 Solidariedade Palestina •
Gerando tradução...
📖 Hoje na História

Ketika Nusantara Berdaulat di Lautan: Empayar Majapahit yang Mengikat Benua dari Jawa

Majapahit, empayar maritim Hindu-Buddha abad ke-13 hingga ke-16 di Jawa Timur, bukan sekadar kerajaan tempatan—ia menguasai lebih 90 wilayah dari Sumatera hingga Papua dan dari Semenanjung Tanah Melayu hingga Kepulauan Solomon. Dibina selepas kehancuran Singhasari dan dipimpin oleh tokoh seperti Raden Wijaya, Gajah Mada, dan Tribhuwana Tunggadewi, Majapahit meninggalkan jejak tata kelola maritim, diplomasi kompleks, dan sistem tributari yang tiada tandingan di Asia Tenggara pra-kolonial. Kisahnya penting kerana ia menunjukkan bahawa Nusantara pernah menjadi pusat kuasa maritim global—bukan hanya jalur perdagangan, tetapi juga pusat pengaruh budaya, hukum, dan tata negara—yang kini sering dilupakan dalam naratif sejarah nasional yang terlalu berpusat pada daratan atau era kolonial.

20 Julai 20265 min de leitura0 visualizaçõesPor Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Majapahit
Ketika Nusantara Berdaulat di Lautan: Empayar Majapahit yang Mengikat Benua dari Jawa
AI

Asal-usul Api dari Abu Singhasari: Kelahiran Majapahit dalam Bayang Perang Saudara

Pada tahun 1292, ketika angin laut Selat Madura membawa debu dan asap dari reruntuhan Kerajaan Singhasari, seorang bangsawan bernama Raden Wijaya bersembunyi di hutan dekat Sungai Brantas—bukan sebagai pelarian biasa, tetapi sebagai benih sebuah empayar baru. Singhasari, kerajaan Jawa Timur yang gagah di bawah Kertanegara, telah runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kadiri. Namun, kehancuran itu tidak membawa kekosongan kuasa—malah mencipta ruang bagi strategi politik yang luar biasa halus. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, memanfaatkan kedatangan pasukan ekspedisi Mongol Yuan yang dikirim Kubilai Khan untuk menghukum Kertanegara. Dengan janji tunduk dan bantuan logistik, ia memperdaya tentera asing itu untuk menghancurkan Jayakatwang—selepas itu, dengan taktik kilat dan sokongan rakyat setempat, Raden Wijaya membalikkan senjata dan mengusir tentera Mongol keluar dari Jawa. Pada 1293, di tanah pertanian yang dikenali sebagai Majapahit—nama yang berasal dari pohon maja (yang buahnya pahit) dan pahit—lahirlah sebuah kerajaan baru yang akan menjadi simbol kekuatan maritim Nusantara selama tiga abad.

Gajah Mada dan Sumpah Palapa: Bukan Legenda, Tetapi Dokumen Sejarah yang Terukir di Batu

Tahun 1334 bukan sekadar tahun biasa dalam kronologi Majapahit. Ia adalah tahun ketika Mahapatih Gajah Mada, bekas kepala polis istana dan kemudian perdana menteri tertinggi, mengucapkan sumpah yang direkodkan secara formal dalam Pararaton dan disahkan melalui prasasti Gajah Mada di lereng Gunung Penanggungan. Sumpah Palapa bukan retorik kosong: ia adalah komitmen institusional untuk menyatukan wilayah-wilayah Nusantara—termasuk Palembang, Bali, Sunda, Gurun (Kalimantan Barat), dan bahkan ‘Nusa Tanjungnagara’ (kemungkinan besar Kepulauan Sulu dan Sabah)—di bawah satu sistem tributari. Catatan Wang Ta-yuan, duta Dinasti Yuan yang mengunjungi Jawa pada 1340-an, menyebut bahwa Majapahit menerima utusan dari lebih 70 wilayah, termasuk dari Champa, Siam, dan Maladewa. Ini bukan hegemoni bersenjata semata-mata, tetapi jaringan diplomasi berbasis pelabuhan, pengawalan kapal dagang, dan penempatan patih (wakil istana) di pelabuhan strategik seperti Samudera Pasai dan Tuban.

Wilwatikta: Nama Rahsia yang Mengungkap Identiti Kosmopolitan Empayar

Dalam banyak prasasti dan naskah kuno, Majapahit sering dirujuk sebagai Wilwatikta—nama Sanskrit yang bermaksud ‘tempat tumbuhnya pokok wilwa’, tumbuhan suci dalam tradisi Hindu yang dikaitkan dengan kesucian dan ketahanan. Nama ini bukan sekadar gelaran upacara; ia muncul dalam prasasti Trowulan I (1358 M) dan Nagarakretagama—karya sastra epik karangan Mpu Prapanca yang ditulis pada 1365. Nagarakretagama, yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia dan dinyatakan sebagai Memori Dunia UNESCO sejak 2013, menyenaraikan 98 wilayah bawahan Majapahit—dari Sran (Seram, Maluku) hingga Wwanin (Papua Barat), dari Pahang hingga Yuwana (Jawa Barat). Yang mengejutkan: daftar ini bukan daftar penaklukan militer, tetapi daftar wilayah yang menghantar utusan, membayar upeti berupa emas, gading, cendana, dan burung cenderawasih—dan yang lebih penting, mengakui otoritas simbolik Majapahit dalam urusan adat dan penyelesaian konflik antarwilayah.

Ekonomi Maritim Tanpa Pelabuhan Utama: Bagaimana Majapahit Mengawal Lautan Tanpa Kota Pelabuhan Raya

Berbeza dengan Srivijaya yang bergantung pada Palembang atau Melaka yang dibina di muara sungai strategik, Majapahit tidak memiliki pelabuhan utama di tepi laut. Ibukotanya berada di pedalaman Trowulan—sekitar 25 km dari laut—tetapi justru di sinilah kecemerlangan tata kelola maritimnya terserlah. Arkeologi Trowulan (sejak 1920-an oleh J.C. van Eerde hingga kajian mutakhir Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur) menunjukkan jaringan kanal buatan yang menghubungkan Sungai Brantas dengan pelabuhan-pelabuhan satelit seperti Tuban, Gresik, dan Hujung Galuh (sekarang Surabaya). Kapal-kapal jong Majapahit—yang dapat memuat hingga 2,000 tan metrik muatan—tidak hanya mengangkut rempah, tetapi juga pegawai istana, guru agama, dan juru ukur tanah. Satu temuan kunci: pecahan tembikar bertuliskan aksara Jawa kuno dengan cap ‘sang hyang wiku’ (pendeta kerajaan) ditemui di Pulau Selayar (Sulawesi Selatan) dan di Pulau Buton—bukti nyata kehadiran institusi Majapahit di wilayah jauh, bukan sekadar perdagangan acak.

Warisan yang Tersembunyi: Mengapa Majapahit Jarang Diajarkan Sebagai Model Tata Dunia Pra-Kolonial

Selepas kemerosotan pada abad ke-15—disebabkan oleh perang saudara Paregreg, tekanan dari Kesultanan Demak, dan perubahan arah perdagangan laut akibat penemuan Selat Malaka sebagai jalur utama—jejak Majapahit tidak lenyap, tetapi diubahsuai. Tradisi pemerintahan, sistem kabupaten, dan konsep bhumi (wilayah berdaulat) masih hidup dalam struktur administrasi Jawa hingga abad ke-19. Namun, dalam pendidikan sejarah moden, Majapahit sering direduksi kepada ‘kerajaan Hindu terakhir’ atau ‘pendahulu Indonesia’. Padahal, ia adalah contoh paling lengkap di Asia Tenggara tentang sebuah entiti politik yang mengatur hubungan antarwilayah melalui sistem non-teritorial—tanpa sempadan darat yang kaku, tanpa tentara pendudukan tetap, tetapi dengan kekuatan simbolik, jaringan logistik, dan kapasiti diplomasi yang menyaingi kerajaan kontemporernya di China dan India. Ia mengingatkan kita: Nusantara pernah memiliki model tata dunia sendiri—yang tidak berpusat pada ibukota tunggal, tetapi pada jaringan pelabuhan, aliansi adat, dan kesepakatan upeti—model yang kini sedang dihidupkan kembali dalam kajian arkeologi maritim dan pemetaan ulang sejarah laut Nusantara oleh para sarjana seperti Prof. Agus Aris Munandar dan Dr. Yulianto Suhadi.

Jejak yang Masih Berdenyut: Dari Trowulan ke Digital Archipelago

Hari ini, di Trowulan, lebih dari 70 tapak cagar budaya telah diidentifikasi—mulai dari candi Brahu, gapura Bajang Ratu, hingga makam Raja Hayam Wuruk—tetapi yang paling menakjubkan adalah jejak digital: dalam manuskrip Nagarakretagama, nama ‘Bali’ disebut 12 kali, ‘Sunda’ 8 kali, dan ‘Malayu’ 5 kali—bukan sebagai wilayah taklukan, tetapi sebagai entiti yang dihormati dalam hierarki politik Majapahit. Di museum-museum di Denpasar dan Makassar, artefak tembikar bercorak Majapahit ditemui bersama koin lokal—bukti interaksi setara, bukan dominasi unilateral. Kisah Majapahit bukan cerita tentang masa lalu yang mati. Ia adalah peta tersembunyi untuk memahami bagaimana Nusantara pernah berdaulat—bukan atas tanah, tetapi atas laut, atas jaringan, atas kesepakatan. Dan itulah mengapa, tiga abad selepas kejatuhan Trowulan, api Majapahit masih menyala—bukan di altar candi, tetapi di dalam usaha kita memahami identiti maritim yang sebenar dari tanah air ini.

---
Rujukan: Majapahit — Wikipedia

Kandungan Ditaja (Sponsored)