TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
💰 Ekonomi

Brunei Mulai Membangun Kapal Industri di Anson — Langkah Pertama Menuju Maritim Mandiri

Anson Shipyard memulai pembangunan Hull 211 — kapal pengangkut kru berkapasitas 80 orang untuk Fast Offshore Services — di Pelabuhan Muara. Ini adalah pertama kalinya Brunei membangun kapal industri secara penuh di dalam negeri, membuka peluang kerja, transfer teknologi, dan memperkuat ekonomi maritim sesuai dengan Visi Brunei 2035.

20 Jun 20264 minit baca5 tontonanOleh Rajesh KumarBizBrunei
PositifDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • Brunei mulai bangun kapal perindustrian di Anson
  • Pembinaan Hull 211: kapal pemindahan kru 80 orang
  • Langkah pertama Brunei membina kapal perindustrian sepenuhnya secara tempatan
Brunei Mulai Membangun Kapal Industri di Anson — Langkah Pertama Menuju Maritim Mandiri

Bau cat baru dan dentuman las menggelegar di Pelabuhan Muara pagi ini — bukan sekadar suara bengkel, tapi dentuman awal dari industri kapal industri Brunei.

Anson Shipyard secara resmi meluncurkan galangan terpadu di Pusat Minyak dan Gas Muara (PMB) dengan pembangunan Hull 211: kapal pengangkut kru berkapasitas 80 orang untuk Fast Offshore Services. Ini bukan proyek biasa. Ini adalah langkah pertama Brunei membangun kapal industri skala penuh di tanah sendiri.

Proyek ini lahir dari kerjasama antara Anson dan Fast Offshore Services — perusahaan perkapalan lokal yang telah lebih dari satu dekade menyediakan layanan pendukung luar pantai. Hull 211 dirancang khusus untuk mengangkut pekerja minyak dan gas ke lepas pantai di Laut Cina Selatan. Panjangnya 45 meter. Kecepatannya mencapai 25 knot. Dilengkapi sistem navigasi digital, kabin pendingin udara, dan ruang kargo yang dapat disesuaikan dengan beban harian.

Hull 211: Bukan Hanya Kapal, Tapi Uji Kemampuan Lokal

Hull 211 adalah bukti nyata bahwa Brunei mampu membangun aset maritim bernilai tinggi tanpa bergantung pada kontraktor asing. Desainnya menekankan efisiensi bahan bakar dan keselamatan kru — penting dalam cuaca buruk di perairan Borneo. Proses pembangunannya ketat: pengelasan plat baja tebal 12 milimeter, pemasangan sistem pipa kompleks, dan ujian tekanan berturut-turut.

"Kami bangga menjalankan proyek ini sepenuhnya di Brunei, dengan tenaga kerja lokal yang terlatih," kata Direktur Anson, Awang Harris bin Bakir. "Ini hanya permulaan. Kami targetkan kapal yang lebih besar dan canggih dalam dua tahun mendatang."

Lebih 100 Tenaga Kerja Lokal Diserap, Pelatihan Intensif Dijalankan

Pembangunan Hull 211 akan menyerap lebih dari 100 tenaga kerja lokal secara langsung — tukang las, insinyur struktur, teknisi sistem laut, dan operator crane. Ini mengubah wajah industri yang sebelumnya bergantung pada tenaga asing.

Anson juga meluncurkan program pelatihan enam bulan untuk pemuda lokal — dari dasar las baja hingga uji kebocoran sistem hidrolik. Tidak ada modul teori kosong. Semua praktis, di atas kapal yang sedang dibangun.

"Dulu saya bekerja di galangan Singapura. Sekarang saya pulang — gaji sama, tetapi saya tidur di rumah sendiri setiap malam," kata Zulhilmi bin Omar, tukang las berusia 28 tahun yang kini memasang rangka lambung Hull 211.

Dampaknya luas: pemasok baja di Bandar Seri Begawan, pabrik pipa di Tutong, dan perusahaan logistik di Kuala Belait juga mendapat pesanan. Menurut Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Alam, setiap ringgit yang diinvestasikan dalam pembangunan kapal menghasilkan RM2,50 ekonomi sampingan.

Galangan Sendiri = Kurang Bergantung, Lebih Berdaulat

Langkah ini selaras dengan strategi jangka panjang Brunei: mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas. Industri maritim diidentifikasi sebagai salah satu pilar utama Visi Brunei 2035.

Dengan galangan sendiri, Brunei tidak perlu lagi menyewa kapal dukungan dari luar — menghemat jutaan ringgit per tahun. Ini juga mempercepat proses perawatan kapal operasional, meningkatkan ketahanan rantai pasok maritim, dan memperkuat kedaulatan teknis negara.

"Kita bukan hanya membangun kapal. Kita membangun kemampuan — untuk merancang, memproduksi, dan merawat aset maritim sendiri," tegas Menteri Perhubungan dan Infokomunikasi Yang Berhormat Dato Seri Setia Awang Abdul Mutalib bin Mohd Yusof.

Tantangan: Kualitas, Bukan Harga

Anson menargetkan Hull 211 selesai dalam 18 bulan. Setelah itu, galangan ini akan mulai membangun kapal dukungan lain — termasuk untuk perusahaan minyak internasional yang beroperasi di wilayah ekonomi eksklusif Brunei.

Kapasitas PMB memungkinkan produksi hingga 10 kapal per tahun. Namun persaingan ketat: galangan di Vietnam dan Filipina menawarkan harga lebih rendah. Jawaban Brunei bukan menurunkan harga — tapi meningkatkan standar. Fokus pada kepatuhan lingkungan, ketahanan struktur, dan desain emisi rendah.

Tantangan lain: pasokan tenaga kerja terampil. Untuk itu, Anson telah menjalin kerjasama dengan Institut Teknologi Brunei (ITB) dan Politeknik Brunei — menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan galangan nyata.

Di sudut PMB, Hull 211 sedang lahir perlahan. Setiap plat dilas. Setiap pipa disambung. Setiap baut dikencangkan. Ini bukan hanya kapal. Ini simbol keyakinan — bahwa Brunei tidak lagi hanya pengguna kapal, tapi pembuat kapal yang percaya diri.