TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Dari Mana Datangnya Tradisi Membalut Rumah dengan Kertas Tisu? Sejarah TP-ing yang Mengejutkan

Apakah Anda tahu bahwa tradisi 'toilet papering' atau TP-ing bukan hanya sekadar lelucon remaja modern? Sebenarnya, kebiasaan membungkus pohon, rumah, dan halaman dengan kertas tisu ini memiliki akar sejarah yang lebih dalam dari yang diperkirakan. Dari ritual rahasia di Eropa abad ke-16 hingga menjadi ikon budaya populer Amerika, kisah di balik tindakan nakal ini pasti membuat Anda terkejut. Ikuti pengungkapan rahasia di balik kertas tisu yang berkibar di udara.

27 Jun 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Toilet papering
Dari Mana Datangnya Tradisi Membalut Rumah dengan Kertas Tisu? Sejarah TP-ing yang Mengejutkan
Imej: Foto: Wikipedia — Toilet papering (CC BY-SA 4.0)
AI

Bayangkan sebuah malam tenang di sebuah lingkungan perumahan di pinggir kota. Tiba-tiba, sekelompok remaja masuk secara diam-diam, masing-masing memegang sebanyak mungkin gulungan kertas tisu. Dalam sekejap mata, mereka melemparkan gulungan itu ke arah pohon, pagar, dan atap rumah—menyebabkan lembaran putih berkibar di udara seperti hantu menari. Ini adalah toilet papering, sebuah tindakan yang mungkin terlihat seperti lelucon acak, tetapi sebenarnya merupakan tradisi yang kaya akan sejarah, simbolisme, dan evolusi yang luar biasa. Mari kita selami asal-usulnya.

Ritual Perlindungan atau Hukuman Awal?


Meskipun sulit menentukan secara pasti kapan toilet papering dimulai, beberapa sejarawan melacak akarnya ke Eropa pada abad ke-16. Pada masa itu, kertas tisu belum menjadi barang konsumsi seperti hari ini. Sebaliknya, orang-orang menggunakan daun, rumput, atau bahkan tangan kosong untuk kebersihan diri. Namun, di kalangan bangsawan dan golongan gereja, terdapat praktik aneh yang disebut 'papering'—yaitu menaburkan kertas atau kain putih di sekitar rumah atau pohon sebagai simbol perlindungan dari roh jahat. Di beberapa desa di Prancis dan Jerman, dipercaya bahwa melemparkan kertas ke arah rumah musuh adalah cara untuk 'membersihkan' rumah tersebut dari nasib buruk atau menghina penghuninya. Praktik ini kemudian dibawa oleh para penjelajah Eropa ke Amerika, di mana ia bercampur dengan tradisi setempat dan berubah menjadi lelucon yang lebih ringan.

Kebangkitan di Amerika Abad ke-19: Dari Halloween ke Hari April


Di Amerika Serikat, toilet papering mulai menjadi fenomena budaya yang signifikan pada abad ke-19, khususnya di kalangan mahasiswa perguruan tinggi dan remaja perkotaan. Pada tahun 1880-an, kertas tisu mulai diproduksi secara komersial dalam bentuk gulungan yang mudah dibawa. Inovasi ini menjadikan aksi ini lebih praktis—dari menggunakan koran yang sulit dihancurkan, mereka beralih ke kertas tisu yang lembut dan mudah hancur. Menjelang tahun 1890-an, laporan surat kabar mulai mencatat insiden 'TP-ing' di sekitar kampus universitas seperti Harvard dan Yale. Kebanyakan insiden ini terjadi pada malam Halloween, karena dianggap sebagai malam di mana batas antara dunia nyata dan dunia gaib tipis—waktu yang cocok untuk 'kekacauan' yang diizinkan secara budaya. Tradisi ini kemudian berkembang ke Hari April Fool dan acara sepak bola sekolah, di mana menjadi cara untuk merayakan kemenangan atau mengolok-olok tim lawan.

Era Emas: Tahun 1950-an hingga 1970-an


Puncak popularitas toilet papering terjadi pada era pasca Perang Dunia Kedua, terutama pada tahun 1950-an hingga 1970-an. Ini adalah zaman di mana budaya remaja mulai menonjol, dengan film-film seperti 'Rebel Without a Cause' dan 'American Graffiti' yang mempopulerkan tindakan nakal sebagai simbol pemberontakan. Di kawasan pinggir kota yang berkembang pesat, rumah-rumah dengan halaman luas menjadi sasaran utama. Gulungan kertas tisu yang murah dan mudah didapat di toko kelontong menjadikan aksi ini bisa diakses siapa saja. Pada tahun 1965, terjadi insiden terkenal di sebuah sekolah menengah di Ohio, di mana sekelompok siswa menghabiskan lebih dari 500 gulungan kertas tisu untuk membungkus seluruh gedung sekolah—sebuah rekor yang dilaporkan oleh surat kabar setempat. Meskipun pihak sekolah marah, acara ini sebenarnya menjadi sumber hiburan dan persatuan di kalangan siswa.

Toilet Papering sebagai Bahasa Budaya: Lelucon, Pengukuhan, dan Balas Dendam


Dalam konteks sosiologi, toilet papering bukan hanya tindakan merusak properti. Ia adalah bentuk komunikasi non-verbal yang kaya makna. Pertama, sering digunakan sebagai 'pengukuhan' atau upacara masuk ke dalam kelompok, seperti klub olahraga atau organisasi mahasiswa. Di banyak universitas, mahasiswa baru diminta melakukan TP-ing di rumah profesor atau dekan sebagai tanda 'kesetiaan'—tradisi yang kadang-kadang berujung pada diusir. Kedua, bisa menjadi bentuk 'lelucon' atau gurauan antar teman. Dalam kasus ini, kertas tisu dianggap sebagai simbol kebersihan yang 'digunakan' secara ironis untuk 'membersihkan' rumah seseorang. Ketiga, bisa juga menjadi 'balas dendam' atau dendam ringan—misalnya, membalas dendam terhadap tetangga yang berisik dengan membungkus mobil mereka. Di Amerika Selatan, terdapat variasi unik di mana kertas tisu dicampur dengan tepung atau air untuk menambah efek visual.

Warisan dan Tantangan Modern: Antara Hukum dan Nostalgia


Pada abad ke-21, toilet papering masih hidup, tetapi dengan perubahan yang signifikan. Di satu sisi, banyak kota di Amerika telah menerapkan undang-undang yang melarang praktik ini, terutama jika menyebabkan kerusakan properti atau pencemaran lingkungan. Di California, misalnya, pelaku TP-ing bisa didenda hingga $500 atau dipenjara selama 90 hari jika kertas tisu yang digunakan tidak ramah lingkungan. Di sisi lain, munculnya media sosial seperti TikTok dan Instagram memberi nafas baru bagi tradisi ini, dengan video TP-ing viral yang mendapat jutaan tayangan. Generasi muda kini melakukan aksi ini secara lebih diam dan kreatif, menggunakan kertas tisu berwarna atau bercorak untuk menciptakan 'karya seni' sementara. Bahkan, ada laporan dari Jepang dan Korea Selatan di mana praktik ini mulai populer di kalangan mahasiswa internasional sebagai cara untuk 'merasakan' budaya Amerika. Yang menarik, meskipun dianggap sebagai lelucon kecil, toilet papering sebenarnya telah menjadi ikon budaya yang melampaui generasi—sebuah manifestasi keinginan manusia untuk meninggalkan tanda, meskipun hanya dengan kertas putih yang mudah rusak.

Kesimpulan, setiap kali kita melihat pohon yang dibungkus kertas tisu pada pagi hari setelah Halloween, kita sebenarnya menyaksikan tradisi yang berusia lebih dari 400 tahun. Dari ritual perlindungan di desa Eropa hingga pesta remaja di pinggiran kota Amerika, toilet papering adalah bukti bahwa terkadang tindakan yang tampak remeh bisa menyimpan cerita yang paling dalam. Jadi, jika suatu hari nanti rumah Anda menjadi target TP-ing, jangan terlalu marah—mungkin itu adalah penghormatan yang tidak langsung terhadap sejarah yang panjang dan berwarna!

Referensi: Toilet papering — Wikipedia

Tersedia dalam:

Tag: