Suara mesin pengolahan beras bergema di Wasan pagi ini โ kali ini lebih keras, lebih pasti. Wasan Milling Company, pusat pemrosesan beras utama Brunei, kini telah meningkatkan kapasitas pengolahan menjadi 20.000 ton metrik setahun. Ini bukan sekadar lonjakan angka. Ini adalah denyut baru bagi usaha negara mencapai target swasembada beras 20 persen menjelang 2027.
Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah berkenan meresmikan fasilitas yang ditingkatkan itu dalam sebuah acara di Wasan, Daerah Brunei-Muara. Dalam titah baginda, sektor pertanian ditekankan sebagai tonggak ekonomi, bukan hanya penambah nilai โ tetapi fondasi kedaulatan pangan. Baginda juga menyeru inovasi terus-menerus dalam produksi beras lokal.
Dari 9.000 ke 20.000 Ton: Lonjakan yang Bermakna
Sebelum ditingkatkan, kapasitas Wasan Milling Company terbatas pada 9.000 ton metrik beras setahun. Kini, dengan investasi besar dalam teknologi ayak modern, sistem pengeringan berkecepatan tinggi, dan mesin otomatis terbaru, kapasitas melonjak lebih dari dua kali lipat. Hasilnya: beras lokal diproses lebih cepat, kerugian hasil berkurang, dan kualitas beras meningkat secara konsisten.
Angka ini menyentuh realitas: pada 2024, tingkat swasembada beras Brunei hanya 8 persen. Target 20 persen masih jauh โ tetapi tidak mustahil. Lonjakan kapasitas ini akan sangat berguna sepenuhnya ketika sawah-sawah baru di Mukim Labu, Lumapatan dan daerah lain mulai menghasilkan secara stabil.
Di Balik Mesin: Sensor, Kontrol Digital & Pengeringan Terkendali
Apa yang membuat pabrik ini berbeda? Di balik dinding beton, terletak sistem pengolahan otomatis yang menggunakan sensor dan kontrol digital. Setiap butir beras melalui pembersihan, pengupasan, penyosohan, dan penggredan โ semuanya dikendalikan secara ketat. Sistem ini tidak hanya meningkatkan output, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing. Peluang baru terbuka untuk pemuda lokal yang mahir dalam teknologi agro-pangan.
Fasilitas ini juga dilengkapi sistem pengeringan berteknologi panas terkendali. Ia memastikan kadar kelembapan beras berada pada tingkat optimal โ mencegah kerusakan, menghindari kerusakan selama penyimpanan. Bagi petani, ini berarti hasil panen tidak lagi hilang akibat cuaca yang tidak menentu. Wasan kini berfungsi sebagai pusat pengolahan, pengumpulan, dan manajemen pasca panen yang lebih efisien.
Petani Mendapat Uang Lebih Cepat, Harga Lebih Stabil
Langkah ini memberi nafas baru kepada petani di seluruh negara. Dengan kapasitas yang lebih besar, petani tidak perlu menunggu berbulan untuk mengolah beras mereka. Waktu antara panen dan pemasaran beras dipendekkan โ aliran uang menjadi lebih lancar.
Harga pembelian beras lokal juga diharapkan lebih stabil. Wasan Milling Company kini mampu menyerap pasokan yang lebih banyak, mengurangi fluktuasi pasar akibat kelimpahan atau kelangkaan tiba-tiba.
Dalam pidatinya, Menteri Sumber Daya Alam dan Pariwisata menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memberikan insentif kepada petani โ termasuk subsidi pupuk, benih berkualitas, dan layanan teknis. Gabungan infrastruktur baru dan dukungan langsung ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sawah secara nyata.
Jaminan Pangan Bukan Retorika
Peningkatan kapasitas Wasan Milling Company bukan proyek terpencil. Ia bagian dari strategi nasional untuk memperkuat jaminan pangan โ soal kedaulatan di dunia yang semakin tidak menentu. Gangguan rantai pasok global, perubahan iklim, dan kenaikan harga pangan membuat kemampuan menghasilkan beras sendiri bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan.
Brunei masih mengimpor lebih 90 persen kebutuhan berasnya โ sebagian besar dari Thailand dan Vietnam. Wasan Milling Company kini menjadi salah satu jalur utama untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Titah Sultan menegaskan: pertanian bukan hanya sumber pangan. Ia adalah peluang ekonomi, ruang inovasi, dan medan pembangunan manusia. Wasan Milling Company โ dengan kapasitas barunya โ adalah bukti fisik bahwa visi itu sedang bergerak dari wacana ke realitas.
Tanah Kosong, Tenaga Kerja & Biaya Tinggi: Tantangan Nyata
Namun, kapasitas pabrik yang besar tidak berarti apa-apa jika pasokan beras tidak cukup. Brunei masih menghadapi tiga tantangan utama: tanah terlantar, kekurangan tenaga kerja lokal dalam pertanian, dan biaya produksi yang tinggi.
Wasan Milling Company mungkin mampu mengolah 20.000 ton setahun โ tetapi jika sawah tidak menghasilkan beras secukupnya, kapasitas itu akan terbuang.
Pemerintah sadar akan hal ini. Program pelatihan intensif untuk petani muda sedang berjalan. Infrastruktur irigasi diperkuat. Kerjasama dengan sektor swasta diperluas untuk mengembangkan tanah gambut dan tanah marginal. Di Wasan sendiri, proyek perluasan sawah sedang berlangsung โ yang diharapkan menambah 500 hektar lahan tanam beras dalam tiga tahun.
Detik Bersejarah, Bukan Akhir Perjalanan
Peresmian fasilitas Wasan Milling Company oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan adalah detik bersejarah โ bukan karena ia menyelesaikan segalanya, tetapi karena menandai komitmen yang tidak bisa diputar belit.
Peningkatan kapasitas lebih dari dua kali lipat ini bukan hanya peningkatan infrastruktur. Ini adalah isyarat bahwa Brunei serius dalam mencapai target swasembada beras.
Sekarang, tanggung jawab beralih: kepada petani yang perlu meningkatkan hasil, pegawai pengembangan yang perlu mempercepat transformasi ladang, dan sektor swasta yang perlu berinvestasi dalam rantai nilai beras. Brunei mungkin masih jauh dari swasembada sepenuhnya โ tetapi Wasan Milling Company sudah membuka jalan. Langkah berikutnya bukan untuk berhenti. Tetapi untuk melangkah lebih cepat.
